Malam itu akhirnya kembali membawa Ryan dan Nu dalam satu pelukan panjang yang penuh kerinduan. Mereka bersatu, tubuh dan jiwa melebur dalam desahan cinta yang sudah lama mereka pendam. Air mata Nu jatuh di d**a Ryan, dan Ryan merasakan hatinya bergetar hebat. Ia berpikir semua penderitaan, semua keraguan, semua duka telah terbayar dengan kebersamaan malam itu. Di pelukan itu, Nu tampak lebih tenang. Matanya yang tadi kosong mulai menampakkan cahaya kehangatan, walau samar. Ia menatap Ryan penuh cinta, lalu bangkit perlahan. “Mas dari tadi belum makan. Aku juga lapas Mas. Tunggu sebentar, ya,” bisiknya lembut. “Aku… ingin menyiapkan makanan untuk kita. Kamu pasti lapar setelah membuatku terbuai,” tambah Nu manja dengan mencium mesra telinga Ryan. Ryan tersenyum tipis, meski tubuhnya ter

