Senja baru saja merapat di cakrawala ketika Ryan akhirnya memantapkan langkah menuju rumah besar itu. Di sepanjang jalan, tubuhnya seperti digelayuti ribuan beban yang tak kasatmata. Nafasnya pendek, jantungnya seakan ditusuk-tusuk jarum halus setiap kali ia mengingat wajah Nu. Kerinduan yang sudah sepekan menumpuk membuatnya seakan kehilangan arah. Nomornya diblokir, pesan-pesan tak berbalas, panggilan selalu masuk ke suara mesin penjawab. Dan kini, sebuah pesan dari nomor asing yang berbunyi: "Apakah kamu masih ingin melanjutkan tali silaturahmi? Jika masih, datanglah ke rumah kami...." Ryan tahu itu bukan Nu. Itu Dewi. Dan malam ini ia datang bukan dengan keberanian, melainkan dengan rapuhnya seorang laki-laki yang tak lagi punya daya selain cinta. Pagar besi berderit ketika ia doron

