Hari-hari di rumah itu mulai terasa berbeda. Tidak ada lagi suara bentakan atau tatapan tajam dari Dewi. Ia mendadak berubah menjadi sosok ibu yang lembut. Bahkan Nu merasa sedikit heran—ibunya yang biasanya keras, kini sering tersenyum, menanyakan kabarnya, bahkan membuatkan teh hangat tiap pagi. “Minumlah, Nu,” kata Dewi suatu pagi sambil menyodorkan cangkir berisi ramuan hangat berwarna keemasan. “Teh rempah ini bagus untuk menenangkan pikiranmu.” Nu menerimanya dengan senyum lega. “Makasih, Bu.” Dewi menatap putrinya dengan sorot mata sayu. Senyum tipis itu tampak tulus, padahal di baliknya ada rencana yang matang. Ia tahu, menyerang Ryan secara langsung tidak akan berhasil. Lelaki itu punya benteng doa yang kuat. Satu-satunya jalan adalah menghancurkan dari dalam, lewat hati Nu—sat

