Pagi itu langit Jakarta sedikit mendung, seolah ikut merasakan berat langkah Ryan Aditya saat melangkah masuk ke gedung tinggi milik PT Cahaya Bumi Pustaka, salah satu penerbitan nasional yang cukup disegani. Gedung bercat krem dengan logo burung merentang itu biasanya terasa hangat baginya, rumah kedua di mana ia bisa larut dalam dunia literasi, naskah, dan ide-ide besar. Namun kali ini berbeda. Orang-orang di lobi meliriknya, beberapa berbisik-bisik, seakan ada kabar yang sudah lebih dulu beredar. Ryan berusaha menunduk, menjaga langkah agar tetap tegak, meski hatinya terasa gamang. Begitu memasuki ruang redaksi, sambutan teman-temannya datang serempak. “Ryan! Astaga, bro… lo udah balik?” seru Fajar, editor senior dengan suara lantang. “Eh, sehat nggak? Katanya lo sempet pingsan, ya

