Angin malam menerobos celah-celah jendela apartemen di pusat kota Semarang itu dengan suara yang menderu lirih, seperti ratapan panjang dari dunia yang tak kasat mata. Ryan terjaga dari tidurnya dengan d**a bergemuruh, napasnya memburu, dan keringat dingin membasahi pelipisnya. Nu masih terlelap di sampingnya, napasnya tenang, wajahnya mulai kembali berseri setelah sempat rapuh beberapa hari terakhir. Namun malam itu, sesuatu yang gelap dan berat merayap masuk. Aroma besi berkarat dan daging busuk samar tercium, begitu tipis tapi menyesakkan. Ryan menegakkan tubuhnya, jantungnya berdegup kencang tanpa sebab. Jauh dari apartemen itu, di rumah berwatna biru gelap di Mranggen, Dewi merangkak di atas lingkaran tanah merah yang telah ia taburi dengan rambutnya sendiri dan darah segar seekor a

