Chapter 101 : Jembatan Untuk Pulang

1682 Words

Setelah sarapan usai dan para sahabat (Tya, Bianca, Yuni Ndaru, dan Dinda) pamit untuk kembali ke rutinitas masing-masing, apartemen Ryan mendadak terasa senyap, namun damai. Hanya ada Ryan dan Nu di tengah tumpukan piring kotor yang belum sempat mereka sentuh. Kehangatan pagi yang mereka rasakan tadi kini bercampur dengan ketegangan yang sehat—ketegangan akan sebuah perjalanan baru yang harus mereka hadapi bersama. Nu mengumpulkan piring-piring di tangannya, gerakannya hati-hati, seolah takut mengusik keheningan baru ini. “Aku cuci piring dulu ya, Mas Ryan.” “Biar aku aja,” Ryan mengambil alih tumpukan itu, menatap mata Nu yang tampak masih diselimuti sisa-sisa haru dari percakapan telepon dengan Ibunya. “Kamu duduk aja. Mungkin kamu perlu waktu buat mikirin yang tadi.” Nu menggeleng,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD