Senja telah lama luruh. Hanya lampu neon di teras rumah Mranggen yang remang-remang memancarkan cahaya. Malam itu, suasana benar-benar berbeda. Tawa Nu dan Mbah Uti terdengar renyah dari dapur, aroma tumisan kangkung beradu dengan nasi yang baru matang. Dewi duduk di bale-bale, menatap langit malam yang bersih, ditemani Harun yang sibuk dengan ponselnya. Sikap Dewi telah berubah total. Ia lembut, pendiam, dan tampak jauh lebih tua—bukan karena usia, melainkan karena kelelahan batin yang ia tanggung. Setelah pengakuan dan permintaan maaf yang mengharukan tadi siang, semua orang seolah sepakat untuk berjalan di atas lapisan es tipis, menjaga agar retakan lama tak muncul kembali. Ryan baru saja kembali setelah membeli beberapa kebutuhan logistik di warung. Ia berjalan pelan, langkahnya mant

