Fre 1. tinggal sama paman

1029 Words
Akhirnya Fre bebas dari jeratan hukum setelah wajahnya tersorot media, salah satu teman yang ia percaya memfitnahnya dan menaruh barang terlarang ke dalam tasnya, hingga semua tuduhan ada padanya. Untungnya ada Stenly, sang paman yang mengurus segala sesuatunya. Fre duduk dihadapan kedua orangtuanya dengan menundukkan kepala, tatapannya mengarah kepada sorot mata Mama dan papanya yang begitu kecewa dengan tingkahnya. Fre masih kuliah dan masih harus mengejar Impian dan cita-citanya, namun ia malah sudah terjerat hukum di usia yang baru 21 tahun. “Papa kecewa sama kamu, Fre, Papa benar-benar kecewa,” ujar Ilyas dengan amarahnya. “Maafkan Fre, Pa,” lirih Fre. “Maaf? Papa sudah beritahu kamu untuk fokus belajar, tapi kamu tidak mendengarkan papa dan malah sibuk bermain sana sini, lihat apa yang kamu temukan dari sikapmu yang pembangkang? Kamu menjadi seperti ini. Bukan hanya bikin malu, tapi kamu mengecewakan Papa,” ujar Ilyas dengan sorot mata kesal. Fre menundukkan kepala, ia tahu kesalahannya, ia tahu apa yang terjadi dan bagaimana ulahnya selama ini, ia tidak pernah mendengarkan papa dan mamanya, ia malah asyik bermain dan percaya bahwa teman-temannya adalah teman yang tulus. “Papa malu, Papa benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu, Fre.” Fre masih diam, karena berbicarapun percuma, ia tidak bisa membela diri karena semua kesalahan ada padanya. Fre harus tenang. “Kalau bukan pamanmu, kamu tidak akan bebas,” kata Ilyas lagi. “Mama juga kecewa sama kamu, Fre.” Helena melanjutkan. “Sudah. Kecewa boleh saja, Kak, tapi Kak Ilyas dan Kak Helen tidak boleh berpikir terlalu jauh. Yang penting sekarang Fre sudah bebas dan dia tidak bersalah,” sambung Stenly—adik Ilyas. “Terima kasih, Sten, kamu benar-benar membantuku kali ini.” “Sudahlah, Kak, jangan terlalu berpikir.” Stenly menggelengkan kepala. “Yang penting sekarang, Fre baik-baik saja.” Ilyas mengelus kepalanya. “Saya titip Fre kepadamu, Sten.” “Apakah jadi ke Eropa?” tanya Stenly. “Iya. Aku dan Helena akan ke Eropa pekan ini. Mungkin cukup lama kami di sana, sampai urusan kami selesai.” “Baiklah.” Stenly mengangguk. “Papa sama Mama jadi ke Eropa?” tanya Fre. “Iya. Kamu tinggal sama pamanmu dulu, karena Papa dan Mama ada urusan mendesak.” “Tapi—” “Kenapa? Kamu menolak?” Ilyas menatap putrinya. Fre menggelengkan kepala, bagaimana ia bisa serumah dengan sang Paman yang tampan ini, yang ada jantungnya akan terus berdetak. “Oh iya, saya juga mau izin ke Kak Ilyas dan Kak Helen, saya tidak bisa tinggal di sini karena kantor dari sini cukup jauh, jadi saya akan pindah ke rumah saya sendiri, saya akan bawa Fre ke sana.” “Terserah kamu. Yang penting kamu jaga Fre baik-baik. Jangan biarkan dia nakal lagi.” “Tentu saja,” angguk Stenly. “Maaf kalau saya merepotkanmu, Sten. Hanya kamu yang saya percaya untuk menjaga Fre. Selagi kamu di Jakarta, kamu harus menjaga keponakanmu ini. Dia sedikit keras kepala, semoga tinggal bersamamu dia bisa lebih berpikir dewasa.” Stenly mengangguk. *** Setelah kejadian itu, Fre mulai menjaga jarak pada teman-temannya yang terlibat pada malam itu, Fre tahu siapa yang menaruh obat terlarang itu di dalam tasnya dan temannya itu masih dalam pencarian polisi. Fre juga tak masuk kampus beberapa hari, tidak menerima pesan dan telepon dari siapa pun, dari temannya yang lain. Lebih baik menjaga jarak, karena ia tidak tahu siapa yang benar-benar tulus kepadanya. Ilyas dan Helena juga sudah berangkat, Fre juga sudah di rumah pamannya, rumah yang cukup besar, namun tak sebesar rumahnya. Ada ART juga di rumah ini. ART di rumah pamannya bernama Inem. Inem tak tinggal di rumah ini, ia akan datang subuh ke rumah ini lalu pulang di malam hari setelah makan malam selesai. Fre duduk di taman belakang dengan melihat pemandangan malam diluar sana, Fre mensilent ponselnya. Tak lama kemudian, Stenly datang dan membelai rambut keponakannya. Ahh sikap Stenly saat ini membuat jantung Fre berdetak kencang, pria yang kini membelai rambutnya bukan paman dalam bayangannya, tapi pamannya terlihat masih sangat tampan, tak ada keriput di wajahnya, tubuhnya gagah, kelopak matanya berwarna coklat dan berotot. Usia pamannya juga 39 tahun, beda 19 tahun darinya. “Ada apa? Kamu merindukan Papa dan Mama kamu?” tanya Stenly duduk disebelah Fre. “Nggak, Paman.” “Terus kenapa sejak tadi kamu tidak mengangkat telepon?” “Ini dari teman-temanku. Aku lebih baik tak usah mengangkatnya.” “Ya sudah. Terserah kamu,” kata Stenly lalu kembali membelai rambut keponakannya. Jantung Fre tak aman, karena tak pernah bertemu pamannya sebelumnya, ia merasa seolah dipermainkan hatinya, sikap pamannya benar-benar sangat lembut, pria tampan yang duduk disampingnya ini, membuatnya tak bisa menahan napas, seolah napasnya memburu sakit gugupnya. Fre harus tenang, harus bisa berdamai dengan situasi. “Ada apa? Kenapa pipimu merah?” tanya Stenly lagi. “Nggak, Paman.” “Apa mau demam?” tanya Stenly memegang puncak kepala Fre. Fre tak bisa di sini terus, ia mulai merasa tak aman dengan hatinya sendiri, ia tidak boleh berpikir yang aneh. Ketika Fre hendak bangkit dari duduknya, Stenly menarik tangannya dan mendudukkannya di pangkuannya. “Apa yang Paman lakukan?” tanya Fre. “Heem? Aku hanya menarikmu.” Stenly mendongak melihat Fre. “Tapi aku—” “Tidak apa-apa kan? Kamu duduk dipangkuanku?” “Nggak apa-apa,” jawab Fre mengangguk. Ia tidak bisa meninggalkan tempat saat ini, selain ia merasa jantungnya tak aman, ia merasa nyaman berada didekat pamannya, wangi pamannya menguar ke Indera penciumannya. Fre melihat bibir pamannya dan berusaha menepis bayangan yang kurang mengenakkan itu. Fre duduk diam dipangkuan pamannya lalu memilih melepaskan diri, ia kembali duduk disamping pamannya. “Besok kamu kuliah?” tanya sang Paman. “Bisa kan aku tidak ke kampus dulu, Paman?” “Kenapa?” “Aku masih malu,” jawab Fre. “Kenapa harus malu? Semua orang sudah tahu kamu tidak bersalah, dan bukan kamu. pelakunya. Kamu juga sudah terbukti tidak menggunakan obat terlarang itu.” “Iya, Paman, tapi aku masih ragu.” “Sudah. Kamu tak perlu berpikir terlalu jauh, mulai besok kamu harus ke kampus, pendidikanmu juga penting. Aku akan antar jemput kamu.” Fre mengangguk, ia tak mungkin melawan perkataan pamannya, pamannya adalah pengganti ayahnya untuk sementara waktu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD