Hari pertama Fre kembali ke kampus bukanlah hari yang mudah.
Langkah kakinya terasa berat saat memasuki gerbang kampus. Tatapan mata orang-orang seolah menelanjangi dirinya, membicarakannya tanpa suara.
Bisik-bisik kecil terdengar di mana-mana, meski tak ada satu pun yang benar-benar berani mengatakannya di depan wajahnya.
“Itu dia.”
“Yang kemarin di berita itu, ‘kan?”
“Katanya sih nggak bersalah, tapi siapa tahu.”
Fre menarik napas dalam-dalam. Ia mengingat perkataan Stenly. Ia tak usah khawatir, karena semua orang akan lupa. Namun kenyataannya, tidak semudah itu.
Fre mempercepat langkahnya, berusaha mengabaikan semuanya. Sampai tiba-tiba.
“Fre!”
Seseorang memeluknya dari samping.
Fre refleks menoleh dan mendapati Jema tersenyum lebar padanya.
“Kamu akhirnya masuk juga!” ujar Jema dengan nada lega.
Fre tersenyum kecil.
“Aku khawatir kamu nggak bakal balik lagi ke kampus.”
Fre menggeleng pelan. “Aku juga sempat mikir begitu.”
Jema menatapnya sejenak, lalu meraih tangannya. “Aku percaya kamu, Fre. Dari awal aku tahu kamu nggak mungkin pakai barang begituan.”
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat d**a Fre terasa hangat.
“Terima kasih, Jema,” bisiknya lirih.
Namun kehangatan itu tak bertahan lama.
Dari kejauhan, beberapa mahasiswa menatap mereka dengan sinis. Bahkan ada yang terang-terangan mengambil foto.
Fre menunduk.
“Ayo masuk kelas,” ajak Jema, seolah ingin menjauhkan Fre dari situasi itu.
Hari itu berjalan lambat.
Fre mencoba fokus pada pelajaran, tapi pikirannya terus melayang. Setiap kali ia mengangkat kepala, ia merasa semua orang sedang menatapnya. Ia merasa kecil dan sendirian. Walau, sudah terbukti ia tidak menggunakan narkoboy.
Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul dua siang.
Fre keluar dari kelas dengan langkah cepat. Ia bahkan tidak sempat berpamitan dengan Jema. Yang ada di pikirannya hanya satu, ia harus pulang dan entah mengapa, ia tahu siapa yang ingin ia temui.
Saat sampai di gerbang kampus, mobil hitam yang familiar sudah menunggunya, pamannya sudah datang.
Pria itu bersandar santai di mobilnya, mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung. Beberapa mahasiswi tampak mencuri pandang, bahkan ada yang berbisik-bisik.
Fre menelan ludah.
‘Kenapa dia harus setampan ini … di tempat umum?’
“Masuk,” ujar Stenly begitu melihat Fre mendekat.
Fre langsung masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara. Mobil melaju perlahan meninggalkan kampus.
Beberapa menit pertama diisi keheningan.
“Bagaimana kampus hari ini?” tanya Stenly akhirnya.
Fre menatap ke luar jendela. “Biasa saja, Paman.”
Stenly melirik sekilas. “Kamu bohong.”
Fre terdiam.
“Terlalu banyak yang melihatmu, ya?”
Fre menelan ludah. “Aku hanya … nggak nyaman.”
Stenly menghela napas pelan. “Itu wajar.”
“Tapi aku merasa semua orang membenciku,” ujar Fre, suaranya mulai bergetar.
Stenly menghentikan mobil di pinggir jalan.
Fre terkejut. “Paman?”
Stenly menoleh padanya, tatapannya dalam.
“Lihat aku.”
Fre ragu sejenak, tapi akhirnya menatap pamannya yang tampan itu, semua orang pasti akan mengira mereka adalah sepasang kekasih.
“Kamu tidak salah, yang salah adalah mereka yang fitnah kamu,” ujar Stenly tegas.
Fre menggigit bibirnya.
“Kalau kamu terus merasa bersalah, kamu akan kalah sebelum bertarung,” lanjut Stenly.
Fre menunduk.
“Tapi aku capek, Paman,” bisiknya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka di mobil, suaranya benar-benar terdengar rapuh. Stenly menatapnya beberapa detik, lalu perlahan mengangkat dagu Fre dengan jarinya.
“Jangan menangis di depan mereka, kalau mau menangis didepanku saja,” ucapnya pelan.
Jantung Fre langsung berdegup kencang dan tatapan mereka terlalu dekat. Fre buru-buru menepis tangan Stenly dan memalingkan wajahnya. Ini bahaya jika di lanjutkan, ia bisa jatuh cinta.
“Ayo pulang,” ucapnya cepat.
Stenly tersenyum tipis, lalu kembali menjalankan mobil.
***
Malam menunjukkan pukul 9, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Fre duduk di ruang tengah, memeluk lututnya. Ia masih memikirkan kejadian di kampus dan juga tatapan Stenly di mobil tadi.
Fre mengacak rambutnya frustasi.
“Apa sih yang aku pikirkan,” gumamnya.
Fre berdiri dan berniat menuju kamar, tapi langkahnya terhenti saat melihat Stenly keluar dari ruang kerja.
Pria itu melepas jasnya, lalu membuka satu kancing kemejanya, memperlihatkan bulu halus yang tumbuh di sana.
Fre terpaku dan jujur hal ini membuatnya jatuh hati.
‘Kenapa setiap gerakannya terlihat … menggoda?’ ujar Fre di dalam hatinya.
“Belum tidur?” tanya Stenly.
Fre menggeleng. “Belum, Paman, aku belum ngantuk.”
Stenly berjalan mendekat. “Masih kepikiran kampus?”
Fre terdiam, ia tidak mungkin jujur jika ia sedang kepikiran pamannya yang tampan dan menggoda.
Stenly berdiri tepat di depannya sekarang.
“Terlalu banyak berpikir tidak akan menyelesaikan apa pun,” ucapnya.
Fre mendongak. “Lalu aku harus apa?” tanyanya.
Stenly tersenyum tipis. “Percaya sama dirimu sendiri.”
Fre menatapnya lama.
“Dan … percaya padaku.”
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam d**a Fre bergetar. Tanpa sadar, ia melangkah lebih dekat.
“Aku percaya sama Paman,” bisiknya.
Stenly tidak bergerak dan tidak menjauh. Dan itu kesalahan terbesar mereka.
Fre mengulurkan tangan, menyentuh d**a Stenly. Jantung pria itu berdetak kuat dan Fre bisa merasakannya.
“Fre,” suara Stenly berubah berat.
Namun Fre tidak berhenti melakukannya, setiap gerakannya membuat pamannya menahan napas karena jantungnya saat ini berdetak kencang.
“Kenapa aku selalu merasa tenang kalau dekat Paman?” tanyanya pelan.
Stenly menutup mata sejenak, berusaha menahan diri.
“Karena aku menjagamu,” jawabnya.
“Lebih dari itu,” bisik Fre.
Stenly membuka mata. Tatapan mereka bertabrakan dan kali ini tak ada yang mengalah. Perlahan, Stenly meraih pergelangan tangan Fre.
“Ini salah,” ucapnya, tapi suaranya tidak meyakinkan.
Fre tersenyum tipis. “Kalau salah … kenapa Paman nggak menjauh?”
Stenly terdiam, pertanyaan itu seperti menampar logikanya. Stenly tak menjauh karena merasa aman dan nyaman, ia sudah lama tak berdebar dan ia berdebar pada keponakannya sendiri.
Fre semakin mendekat, hanya satu langkah lagi dan jarak mereka benar-benar hilang.
“Fre, berhenti,” bisik Stenly.
Namun tangannya justru menarik Fre lebih dekat. Kontradiksi yang tidak bisa ia sembunyikan. Fre menatap bibir Stenly. Napasnya memburu. Fre tahu ini salah dan ini terlarang, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak perduli dengan hubungan mereka.
“Paman,” bisiknya.
Dan detik berikutnya, suara ponsel bergetar nyaring, keduanya tersentak. Stenly langsung melepaskan Fre.
Fre mundur cepat, napasnya masih tak beraturan. Stenly mengambil ponselnya, wajahnya berubah serius.
“Ya,” jawabnya singkat.
Fre berdiri diam, mencoba menenangkan diri. Beberapa detik kemudian, Stenly menutup telepon.
“Ada masalah, Paman?” tanya Fre.
Stenly menatapnya.
“Orang yang memfitnahmu sudah tertangkap.”
Fre membeku. “Apa?”
“Tapi—” Stenly berhenti sejenak.
“Apa, Paman?”
Stenly menatap dalam.
“Dia menyebut namamu … dalam pengakuannya.”
Dunia Fre terasa berhenti.
“Ma-maksudnya?”
“Kasus ini belum selesai, Fre.”
Jantung Fre kembali berdegup kencang, bukan karena Stenly. Tapi karena sesuatu yang jauh lebih menakutkan dan tanpa mereka sadari, apa yang hampir terjadi malam itu hanyalah awal dari masalah yang jauh lebih besar.
“Paman, bagaimana?”
“Kamu tenang dulu, aku akan cari cara,” jawab Stenly.