25.

1171 Words
Gadis itu memejamkan matanya erat, menarik nafas panjang berulangkali demi mengisi paru-parunya yang kini mulai terasa sesak. "Ok Mika. Ini adalah keputusanmu. Kamu sudah memikirkan resiko yang akan kamu tanggung nanti." "Huft!" satu tarikan nafas terakhir sebelum akhirnya manic kelam itu terbuka dan menatap bayangnya sederhana dengan atasan warna putih berpadu dengan brokat bunga yang cantik serta taburan Swarovski disepanjang punggung halus gadis itu, rambut yang disanggul rapi bermahkota bunga lengkap dengan make up pengantin yang mempertegas wajah cantiknya. Tampilan cantik seperti ini memang diinginkan oleh Mika saat dia menikah tapi masalahnya bukan pernikahan seperti ini yang dia mau, terutama pengantin prianya. "Ya, hari ini kamu akan menikah dengan Damian b*****t!" mereka berdua menikah seminggu setelah permintaan sang Bunda dan tak ada cara lain bagi Mika untuk menolak permintaan orang tua angkatnya sedangkan Damian, pria itu menyerahkan semua keputusan pada Mika. Yang artinya jika Mika menolak, itu artinya Mika anak pungut tak tahu diri. 'Memang b*****t pria satu itu.' makian Mika mengalun keras dalam hati. "Awas saja nanti!" dendamnya. "Mika?" pintu kamar terbuka dan sosok Luna masuk ke dalam ruangan sang putri. Paruh baya itu menatap sang calon mantu dengan seulas senyum di bibir. "Cantik sekali anaknya Bunda." Melihat Mika menikah memang impian Luna sejak dulu dan siapa sangka gadis yang dia rawat sejak bayi itu menikah lebih cepat dari perkiraannya dan menikah dengan Damian pula.... Tangan Luna terangkat, hendak mengelus wajah sang putri cantik namun wanita itu kembali menariknya. "Aduh! Maaf, hampir saja Bunda pegang wajah kamu." Luna tidak mau riasan sempurna yang menonjolkan kecantikan Mika rusak, sebagai gantinya Luna meraih tangan Mika, meremasnya lembut diikuti dengan senyuman manis. "Apakah Mika hari ini bahagia?" 'TIDAK! Mana mungkin Mika bisa bahagia sedangkan Mika menikah dengan si Damian b*****t?! Bunda, please, apakah pernikahan ini bisa dibatalkan saja?!' Hampir saja Mika berteriak demikian didepan sang Bunda namun hal itu urung dia lakukan karena dia tidak mau membuat Bundanya syok. "Mika?" "Eh iya." Mika tersenyum kikuk, "Maaf tadi Mika melamun. "Tadi bunda tanya apa?" "Tadi bunda tanya apakah kamu bahagia?" paruh baya itu tersenyum. "Iya, Mika bahagia sekali." Mika tersenyum. 'Bunda, Mika senang sekali bisa jadi anak bunda. Merasakan kasih sayang seorang ibu yang mungkin tidak akan pernah Mika dapatkan kalau tidak bertemu Bunda. Bunda, Mika sayang sekali pada Bunda.' Bibir Mika menipis diikuti dengan manicnya yang mulai berkaca-kaca menahan tangis. "Jangan menangis sayang. Nanti make up-nya rusak." "Mika tidak akan menangis kok." wajah cantik itu tersenyum, mati-matian menahan air matanya, 'Aku nggak akan nangis, aku nggak mau make up ku yang cantik ini rusak. Aku nggak mau nangis hanya karena jalan hidupku yang seperti ini. Aku nggak akan nangis hanya karena harus jadi istri Damian b*****t! Aku nggak mau nangis karena aku bukan gadis lemah!' "Kalau Bunda bahagia, Mika akan ikut bahagia. Jadi untuk apa ada tangisan di wajah Mika." ucapan Mika membuat Luna tersenyum haru. "Terima kasih sudah menyanggupi permintaan Bunda meskipun Bunda tahu hal ini pasti berat untukmu." "Iya, Bunda." angguk Mika pelan. Pintu kamar terbuka setelah sebelumnya terdengar suara ketukan pintu, "Nyonya, sebentar lagi akan nikah akan dimulai." "Ayo kita keluar." Luna membantu Mika berjalan setelah sebelumnya merapikan pakaian gadis itu. Langkah kaki itu sangat halus namun mampu membuat para hadirin yang datang menolehkan kepala dan menatap sang pengantin wanita untuk waktu yang lama demi mengagumi kecantikan yang terpancar dari sang tokoh utama. Mika memang cantik tapi kali ini auranya sangat bersinar. "Apakah akad bisa segera dimulai?" sang penghulu bertanya begitu sang pengantin wanita duduk disamping mempelai pria. "Ya." angguk Mika dan Damian secara bersamaan meskipun wajah-wajah tegang tanpa rona bahagia terpancar jelas di wajah keduanya. "Sebelum kami melakukan akad nikah yang sangat sakral ini, saya ingin mengajukan pertanyaan pada mempelai perempuan maupun laki-laki." manic tajam dibalik kaca mata minus itu menatap pengantin didepannya, "Apakah pernikahan ini terjadi tanpa unsur paksaan dari pihak manapun?" "Tidak ada." Mika menahan nafas, wajah mengetat keras sembari menggelengkan kepalanya dan Damian menjawab pertanyaan sang penghulu dengan nada yang lebih tenang. Penghulu bertanya demikian karena beliau tidak bisa melanjutkan prosesi akad pernikahan dengan unsur paksaan karena sejatinya menikah adalah menjalin biduk rumah tangga bersama, saling menyayangi dan melindungi tanpa ada niat buruk ataupun hati yang buruk. "Baiklah, saya akan mulai proses akad." pria paruh baya itu tersenyum setelah sebelumnya berkata, "Rileks, tarik nafas yang panjang, isi paru-parumu dengan oksigen sebanyak mungkin, buat jantungmu berdebar tenang, mantabkan hati dan pikiranmu. Semua akan baik-baik saja, Nak." "Terima kasih." Mika menuruti perkataan sang penghulu diikuti dengan seulas senyum lega setelahnya. Karena posisi Mika bukan anak kandung Alex dan tidak ada satupun wali sah gadis itu, maka pernikahan Mika diwalikan oleh Wali hakim. Lantunan suara sang penghulu kembali menggema di halaman rumah keluarga Bayu yang menjadi tempat digelarnya prosesi akad nikah tersebut. Prosesi akad nikah sederhana dengan para hadirin yang rerata adalah orang kepercayaan keluarga Bayu sesuai dengan permintaan Mika, yakni sakral dan intim. Bahkan Mika tidak mengundang satupun rekan kuliahnya untuk hadir dalam acara sakral ini. Karena memang pada dasarnya Mika hanya punya Thea dan Marco saja sebagai orang paling akrab baginya. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau Mikaila Az-Zahra Bayu dengan Damian Dematra Bayu dengan mas kawin tersenyum tunai." suara Damian mengalun tegas dan lantang sekaligus menjadi perubahan status bagi Mika saat ini. Mika adalah istri dengan sosok Damian sebagai Suaminya. Jika ada yang tanya bagaimana perasaan Mika sekarang, maka jawabannya biasa saja tak ada yang spesial, dia bahkan sempat bingung saat sang Bunda mengelu-elukan dirinya sebagai sosok mantu pada kerabat-kerabat terdekat mereka. Prosesi sakral yang biasanya mengundang tangis bahagia bagi para mempelai dan keluarga besar tak ubahnya pertemuan keluarga bagi Mika. "Jackpot sekali bisa dapatin kak Damian." itu adalah suara dari salah satu anak rekan bisnis ayah Mika, "Tampan, pintar, hot, hijau neon." wajahnya memerah sembari melihat Damian yang berdiri tegak disamping Alex yang sibuk bicara bisnis dengan rekannya. 'Hijau Neon? Belum tahu saja aslinya bagaimana.' cibir Mika dalam hati. "Kayak cerita novel, ya. Mika seolah disiapkan jadi jodohnya Kak Damian sejak kecil. Aduh senang banget kalau aku jadi Mika." goda yang lain pada Mika dengan tatapan genit. 'Mau tukar tambah tidak. Aku mau, ikhlas!' "Uhh, nanti malam bagaimana ya kalau kalian berdua di kamar. Huh jadi gerah!" "Aduh! Stop! Aku jadi bayangin yang tidak-tidak." jawab yang lain dengan wajah memerah malu. "Kak Damian lepas baju, tubuhnya yang besar berotot, dadanya bidang, seksi banget, berkeringat...Aw..." 'Anjir.' Mika menelan ludahnya serat, 'Mikir apa aku?!' "Sudah jangan ganggu, Mika." tegur Luna yang datang sembari berkacak pinggang. "Maaf Aunty. Habisnya seru goda pengantin baru." imbuh 3 gadis yang mengelilingi Mika itu. "Huft!" Dan kini setelah acara melelahkan yang mewajibkan Mika beramah tamah dengan para tamu undangan selesai, Mika langsung masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan. Berendam dalam bathtub berisi air hangat dengan wewangian vanilla yang manis. Gadis itu menyalahkan music dari ponselnya kemudian memasang airpods di telinga. Manic kelamnya terpejam, menikmati alunan music yang mendayu ditelinga sembari menikmati hangatnya air yang membuat dirinya semakin rileks tanpa menyadari bahwa sosok itu telah berdiri di depan pintu kamar mandi yang terbuka hanya dengan selembar handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. "CK!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD