MK—Dua

1579 Words
Tiada pepatah mengatakan pelit pangkal kaya, karena berbagi dalam hal kecil saja sudah terhitung pahala. Keesokkan harinya, pagi itu rumah Romi ada kegaduhan. Bukan pertengkarannya dengan istri tentang semalam tapi anak-anak mereka. Si sulung mengganggu si bungsu, jajanan kemarin yang diminta Una--katanya dibagi dengan Kakak-kakaknya itu ternyata hanya settingan saja. Saat abangnya--Skylar memintanya eh Una malah marah-marah. Bahkan mengancam untuk memberi jamu pada abangnya itu. Ngawur, kan. Pelit banget lagi. "Ini jajan Una, kok," ujar Una sembari menyembunyikannya di balik punggung. Ros muncul karena risih dengan suara mereka, pagi-pagi sudah ribut. Tiada hari tanpa ribut. "Abang minta.” "Gak oleh, kok. Abang pelit, kok." Kata -kok- ini tidak tertinggal, membuat orang yang mendengarnya tentu saja gemas. Dan, malah mengatakan kakaknya pelit. Padahal yang tidak mau berbagi adalah Una. "Adek, jangan pelit. Dikasih satu Abangnya, itu kan punya tiga." "Gak mau, kok." "Ya udah, nanti Mama tinggal jalan-jalan sama Kakak. Adek di rumah aja, ya." "Tinggalin aja, Ma." Ros mendekati Una yang masih kekeuh menyembunyikan sekantong jajannya. "Ikut, ya." "Boleh, tapi jajannya dibagi sama Abang." "Incip tok." "Oo, Una plokoto!" gemas Skylar yang pada akhirnya tak minat lagi, ia pun mencubit pipi Una hingga membuat Una menangis. Karena pada dasarnya Una itu memang pelit, sangat. "Abang! Adeknya, kok, dibikin nangis, sih," Ros marah, sementara Skylar sudah berlari menjauh menghindari mama dan adiknya itu. Skylar Akmal ini kelas 6 SD, sementara Silmi kelas 2 SD. Lalu memiliki adik Una dengan jarak yang terpaut cukup jauh, Una yang masih berusia 2 tahun 7 bulan. Baru pra--sekolah di Taman Posyandu yang diadakan setiap pekan dua kali pada hari Kamis dan Jum’at. "Sakit, Mama." ujarnya manja sembari mengelus pipinya yang kini tampak memerah. Ros mencium pipinya itu, kemudian berkata, "Makanya, jangan pelit." "Gak pelit, kok. Huuu,.” "Nggak pelit gimana?" "Abang yang pelit, huu.." Una tak mau diam dan menghentikan tangisannya yang ada malah semakin keras. Melempar jajannya ke sembarang arah. Ros segera memunguti dan memasukkannya ke dalam kantong plastik kemudian menyimpannya di atas meja. "Diem, dong." "Abang dikasih jamu, ya." Bagaimana mau marah, jika si monster kecil ini sangat menggemaskan seperti ini. Ros pun memutuskan untuk menggendong Una dan membawanya ke dapur. Karena kegiatan memasaknya belum selesai. Asisten rumah tangganya tak bisa hadir untuk sepekan kedepan. Cukup membuat Ros kelimpungan, bekerja mengurus rumah sendirian. *** "Ma, tas Silmi dimana?" tanya Silmi yang sudah siap, memakai seragam olahraga. Karena jam pertama waktunya, memang olahraga dan harus memakai seragam warna merah itu dari rumah langsung. Ia pun menghampiri Mamanya yang sedang mengaduk masakan sembari menggendong adiknya. "Di depan televisi, Kak," jawab Ros tanpa menoleh. Silmi pun segera menuju ke ruangan yang disebutkan mamanya. "Udah Mama siapkan semuanya!" imbuhnya berteriak. Una menutup mulut mamanya kemudian ia berkata, "Gak oleh teliak-teliak, kok." "Adek cerewet." "Gak.. Mama yang cewet." Tak lama Silmi pergi, Romi muncul. "Sayang, dasi biru dongkernya dimana?" "Bentar!" jawabnya setengah berteriak. Kemudian ia memindahkan masakannya itu ke wadah yang lain. Dan meletakkan wajan yang kotor ke tempat pencucian. Begitu Ros ada dihadapan Romi, Una mengadukan abangnya ke sang ayah. "Abang nakal, Ayah." "Alah, biasa." tahu sekali tabiat anaknya, yang nakal siapa yang dilaporkan siapa. Tukang mengadu. "Ini kenapa minta gendong?" "Nggak tau, nih. Padahal pundak Mama capek." Alih-alih mendengarkan, yang ada malah asyik bermain dengan kancing baju yang dikenakan mamanya. Tentu saja gemas, Romi mencium pipi Una. "Diajak ngomong, malah melongos." bekas ciuman Romi diusapi Una dengan kasar. "Ih, Mama. Ayah cium-cium.” “Kenapa nggak boleh cium?” “Bedak Una ilang.” Baik Ros maupun Romi itu terkekeh gemas. "Nanti kalau minta uang jangan sama Ayah, ya," ancam Romi. Una mengerutkan hidungnya, bibirnya cemberut menatap ayahnya dengan tak suka--tak setuju. Memeluk mamanya dan berkata, "Gak oleh pegang Mamaku!" Malah hal itu membuat Romi ikut memeluk Ros. "Ini kan, punya Ayah." Una merengek. "Udah, Yah. Anaknya kayak gini malah digangguin mulu," lerai Ros kemudian, ia merasa pegal pada bagian pundaknya. Berat badan Una 17 kilo 3 ons, kelihatannya kecil tapi beratnya banyak. "Dasiku dimana?" "Ya, di lemari." "Nggak ada." "Masa? Nanti kalau ada, diapain?" Romi terkekeh pelan. "Dicium, dong." Mengabaikan ucapan Romi, Ros pun pergi ke kamarnya untuk mencari dasi yang dimaksudkan suamiya itu. Membuka lemari dimana tempat dasi berada, begitu ketemu Ros langsung menatap Romi garang. "Nggak ada?" Romi menyengir. "Tadi udah dicari." “Usaha dulu, baru bertanya.” "Mama." "Bentar, Adek." "Ma---" "Diem dulu!" "Pasang sendiri," ujar Ros seraya menyerahkan kepada Romi. Ia kesal, dirinya cukup lelah mengurusi anaknya yang manja juga bandel. Ditambah lagi suaminya yang tidak mau mandiri. Memang kewajibannya, tapi kalau salah satu anaknya--Una yang sudah begini--manja padanya maka pekerjaan rumah tidak akan selesai dengan baik. "Loh, nanti nggak rapi, Sayang." Romi menyusul istrinya. Ros menghela napasnya lelah, ia berhenti melangkah dan berbalik kembali. Mengambil paksa dasi Romi dan memasangkannya, dengan sabar dan telaten ia lakukan. Dan berakhir mendapatkan kecupan di pipi dari Romi. Hari ini ada rapat, membuat Romi harus berpakaian rapi serta berdasi. "Makasih." "Hmmm.." Selama memasangkan dasi, Una merengek melulu. Mungkin risih dengan posisinya, merasa sempit. Tapi diturunkan pun tidak mau. Lalu Ros beralih lagi pada Una. "Adek, turun ya. Pundak Mama capek." Una langsung mencak-mencak. "Mama buatkan s**u, mau?" Una menggeleng, ingusnya lagi-lagi meleleh membuat Ros segera menyambar tisu yang di meja riasnya untuk mengelap ingus Una sebelum bajunya jadi korban kejorokan Una. "Sama Ayah?" Romi mengulurkan tangannya, Una tetap menggeleng. Saat ini yang ia mau hanya dengan mamanya, saja. "Sama Mama tok!" Okelah, semua pun tak bisa memutuskan selain menuruti si bungsu itu. *** Setelah kedua anak Ros berangkat dengan suaminya, ia pun segera bergegas melanjutkan pekerjaannya. Mencuci baju, walaupun memakai mesin cuci jika bertumpuk-tumpuk sama saja membutuhkan banyak tenaga. Selama mesin cuci itu bergerak, Ros menyambinya dengan menyapu. Yang membuatnya lelah itu bukan pekerjaan rumah, tapi menggendong monster kecilnya itu; Una. Karena berkali-kali Ros mencoba menurunkan dari gendongannya, Una kekeuh tak mau. Merasa nyaman digendongan Mamanya. Mungkin. "Adek turun, ya. Ikut bantu Mama beres-beres," bujuknya kesekian kali. "Bantu Mama?" "He'em, turun mau, ya?" Harap-harap cemas, Ros berdoa agar Una mau turun dari gendongannya karena pundaknya benar-benar terasa pegal. "Ya wis." Ros sedikit terkejut bukan karena Una mau diturunkan, tapi jawaban Una. Darimana anaknya tahu bahasa Jawa seperti itu. Tapi, buru-buru Ros menurunkan Una. Takut anaknya itu berubah pikiran. "Adek bagian kursi, ya." Ros memberikan kemoceng pada Una dan melanjutkan menyapu. Rumah yang lebar nan luas bak istana itu membuatnya harus extra. The power of emak-emak. "Udah? Udah," tanya Una yang dijawabnya sendiri. Ros yang mendengarnya hanya mampu menggelengkan kepala, asal anaknya tidak rewel cukup membuatnya tenang. Tidak peduli dengan pertanyaan Una yang dijawabnya sendiri. Memang seperti itulah Una. Aneh tapi ajaibnya dia itu makluk nyata yang ada di dunia. "Mama, s**u," pintanya dengan menghampiri sang mama. "Bentar." "Sekalang kok!" Una langsung mencak-mencak karena ia tidak suka menunggu, kaki-kakinya dihentakkan ke lantai. "Iya." Sebentar lagi, kurang sedikit pekerjaannya itu akan selesai. Tapi Una sudah lebih dulu menangis karena terjatuh. Banyak tingkah, sih. Ros sontak terkejut melihat Una yang terlentang itu langsung membuatnya panik. "Makanya yang anteng," tutur Ros malah semakin membuat Una menangis kencang. Sudah sakit malah dimarahi. "Sa-kit, Mama," adu Una seraya memberitahukan luka dibagian sikunya yang ternyata berdarah. Ros pun menggendong Una dan membersihkan darahnya dengan antiseptik, tentu saja tindakan Ros membuat Una semakin menambahkan volume-nya. Karena rasa perih yang teramat sangat. Eh, atau Una saja yang kebawa alay. "Sa-kit.." "Biar sembuh." setelah itu Ros pun memasangkan plaster bergambar pada siku Una. Dan dapat dipastikan si bungsunya ini tidak akan mandi, nanti. Kemudian Ros mencium lukanya yang kini sudah berbalut plaster. "Udah, diem. Jangan nangis lagi." Kemudian Ros membuatkan s**u untuk Una dan menidurkannya di kamar, mungkin anaknya lelah. Una masih terisak, membuat Ros terus mendekapnya. Mengelus punggung Una lembut, agar anaknya itu terlelap cepat. "Ssst..”   ***   Sore harinya, Ros dan Una beradu mulut. Ros yang memaksa Una mandi, Una dengan beribu alasannya. Pokoknya kalau Una jatuh atau ada yang terluka dibagian tubuhnya jangan harap ia akan mau mandi, kena air saja marah-marah. "Gak mau mandi, kok." "Yeek, bau kambing lah." Plakk "Gak bau ...." padahal yang memukul mamanya, Una. Tapi yang menangis siapa. "Nggak mau mandi gitu." Ros menutup hidungnya. Membuat Una merengek. "Ihh, gak bau, kok." "Assalamu'alaikum." Hingga uluk salam terdengar, Ros dan anak-anaknya sudah pulang. Ros langsung meninggalkan Una demi menghampiri suaminya. Tapi dasar Una-nya lagi manja, tidak mau ditinggal baru beranjak bangun sudah merengek. "Wa'alaikumussalam." "Kenapa ini?" tanya Romi yang sudah disungguhkan dengan anak bungsunya yang duduk meleseh di lantai sedang menangis. Skylar dan Silmi berhamburan masuk ke kamarnya masing-masing untuk berganti pakaian. Karena rasa lelah dan letih itu seperti menempel erat pada tubuhnya, seharian di sekolah membuat mereka sedikit penat. "Mama nakal." Una mengadukan Mamanya pada sang Ayah, tak lupa jarinya menunjuk ke arah sang Mama dengan tatapan sebal. "Orang dimandiin nggak mau, malah bilang Mama nakal." Una memilih abai dan beginilah sifatnya. Tidak mau dirinya terpojokkan. Posisinya harus selalu benar, menang dan kudu dituruti apa yang menjadi kemauannya. "Tadi jatuh, kan. Bugh. Telus ini bedalah, kan. Sakit. Una nangis," cerita Una sembari menunjukkan lukanya yang diplaster. Nggak nyambung banget, yang tanya itu siapa. Romi terkekeh, tentu saja. Pembawaan cerita Una terdengar menggemaskan. Ekspresinya, peragaannya lucu sekali. "Terus nggak mandi?" tanyanya. "Masih wangi, kok." Ros mencebik, mendengar jawaban Una. Bisa-bisanya seperti itu. Mandi di pagi hari saja, mana ada wangi sekarang? "Una plokoto." Skylar menimbrung, ia sudah berganti baju rumahan. Mandinya secepat kilat, selain Una yang tak mau mandi ada Skylar yang juga sama—tapi masih mending Skylar-lah segayung air ia mau mengguyurkan ke badannya, ibarat kata begitu. "Bukan Una plotoko, ya?" kata Una bertanya pada Romi. "Bukan." "Bukan, wlee." "Una plokoto, bukan plotoko." "Oo, dikasih jamu Mama, kapok!" Semua pun terkekeh mendengar penuturan Una. Romi yang gemas itu mencium pipi Una.  Kemudian beranjak untuk segera mandi untuk mengusir lelah dan kuman pada tubuhnya.   "Anak siapa sih, ini?"   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD