MK—Tiga

889 Words
Berkumpul dengan keluarga adalah cara untuk mempererat hubungan antara satu dengan yang lainnya Usai maghrib, keluarga Romi makan bersama. Sesuai permintaan Ros membeli lauk kesukaan anak-anaknya. Semua menyukai ayam. Ya, itulah yang dibeli Romi. Seekor ayam bakar. Khusus Una beda. Skylar makan sendiri, Silmi disuapi ayahnya. Sementara Una disuapi ibunya. Sebelumnya Ros sudah membagi rata ayam tersebut. Una dibelikan yang berbeda--karena otak ayam dia suka. Ayam yang dibumbu kecap. Sementara yang lainnya, ayam bakar. Bagian sempol untuk Silmi dan Skylar, bagian d**a untuk Romi dan Ros.  "Anak ayam, Mama." pinta Una setelah menerima suapan. Yang dimaksud Una itu otak ayam, suka-suka Una saja. Dibenarkan pun yang ada malah marah-marah. Berakhir tidak mau makan.  Ros menuruti kemauan Una, menyuapi otak ayam. Tak tertinggal dengan nasinya.  "Udah, Yah," ujar Silmi, sepertinya sudah merasa kenyang. Sebenarnya jarang Silmi disuapi, sebab lama sekali untuk Silmi hanya sekedar makan saja. Jadi, Romi berinisiatif untuk menyuapinya. "Ini masih ada.” Silmi menggeleng. "Ya udah, minumnya ambil sendiri, ya."  Berbeda dengan Una yang kini merengek. "Anak ayam, Mama."  "Habis."  "Gak oleh abis."  "Udah nggak ada, Adek."  Romi menimbrung. "Ini mau?" mengangkat bagian d**a ayam. Una menoleh ke arah sang Ayah lantas menggeleng, tidak sama bentuknya jelas beda. "Anak ayam!" dengan menggaruk kepalanya. Ros langsung menatap Romi. "Ini tadi beli berapa?"  "Dua, adanya cuma itu aja."  Ros beralih lagi ke Una. "Besok masak sendiri, y?."  Akhirnya Una mengangguk masih dengan garuk-garuk kepala, karena kepedasan. Tapi ia suka. Asalkan ayam. Pasti tidak bisa menolak. Lucunya ketika dibayangkan.   ***   "Soimah." ejek Skylar pada Una. Saat mereka sedang berada di ruang televisi, menonton film tentu saja. Karena Una tidak bisa berhenti bertingkah, ada saja yang dilakukannya itu.  "Mama."  "Apa?"  Dengan bibir cemberut Una menyahut, "Abang bilang Una, Soimah."  Lainnya tergelak tapi Ros menahannya. "Bukan Soimah, Bang." se-simple itu menanggapinya, setidaknya Una mendapat sahutan cukup. Seperti itulah anak kecil, ia hanya butuh perhatian saja.  "Nanti dikasih jamu bawang, ya," katanya lagi. Ros mengangguk.  Silmi tiba-tiba memeluk adiknya itu dan mencium dengan gemas. Sontak Una langsung merengek. Mengusap bekas ciuman Silmi.  "Mama, Akak cium-cium."  "Emangnya kenapa? Kan, kak Silmi cuma cium aja."  "Bedaknya ilang." Una menghampiri ibunya sembari menangis, padahal juga tidak mandi. Eits, tapi bedaknya tidak pernah tertinggal dong. Una bisa pakai bedak sendiri. Dia itu tak mau dicium karena takut bedaknya hilang, sama siapapun itu. "Una plokoto." dengkus Skylar merasa gemas dengan adiknya yang berlebihan itu.  "Sini sayang, Mama ganti." Ros menempelkan pipinya pada pipi Una.  "Padahal bau asem," kata Silmi bercanda membuat semuanya tergelak. Tapi bukan dengan Una yang kian.  "Gak asem ya, Mama."  Romi buru-buru menjawab, "Orang nggak mandi."  Pada akhirnya Una tadi hanya cuci muka saja dan memakai bedak. Cukup. Lelah juga membujuk Una yang keras kepala. Yang ada nangis. Jurus andalan.  Kalah telak, karena tidak ada yang membelanya Una pun duduk dipangkuan ibunya lantas memeluknya lalu menyembunyikan wajahnya di d**a sang Mama dan tak lama ia menangis. Karena suaranya yang terisak dan baju yang dikenakan Ros basah. Ros membalas pelukan Una.  "Cengeng," cibir Skylar.  "Cupp."  Tangan Una menunjuk ke arah Skylar, Silmi dan Ayahnya tanpa mengalihkan wajahnya. "Itu-itu sama itu, nakal." Ugh!! Monsterku. "Dimaafin, ya?" ucap Ros seraya tangannya membenahi rambut Una, mengucirnya lebih rapi.  "Kak Silmi sama Abang tadi udah siapkan jadwal besok, belum?" tanya Ros menatap kedua anaknya itu bergantian. "Mama gak oleh omong." Ros langsung diam menuruti permintaan Una. Meletakkan dagunya di puncak kepala Una. "Udah." baik Skylar dan Silmi menjawabnya berbarengan.  "Bang, beli pizza, yuk. Adek nggak usah dikasih, ya," ujar Romi membuat Skylar dan Silmi tersenyum semangat. Jarang sekali, Ayahnya mau membeli makanan seperti itu. Junk food. "Berangkat!!" Skylar langsung beranjak dari posisinya dan langsung diikuti Romi.  "Silmi mau yang banyak sosisnya, ya." "Sippo!" Akhirnya pun mereka benar-benar pergi untuk membeli pizza yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka, jadi cukup membawa motor saja. Walaupun delivery bisa tapi sekalian menikmati malam yang hari ini cukup terang. "Mama inus." Una menegakkan tubuhnya, memberitahukan ingusnya yang meleleh dari kedua lubang hidungnya. Ros langsung menyuruh Silmi untuk mengambilkan tisu. "Kak, Mama minta tolong ambilkan tisu."  Silmi segera mengambilkannya tanpa banyak kata, tak seperti Una yang mempunyai segudang alasan. "Makasih," ucap Ros ketika Silmi memberikan tisu yang dimintanya. Lantas mengelap ingus Una dengan pelan agar tidak iritasi. "Pengen pitsa, Mama," ujar Una.  "Nunggu Ayah dulu."  Beberapa menit kemudian, Romi dan Skylar pun tiba. Tentu saja dengan membawa kotak berisi pizza. Dengan langkah semangat Skylar menaruhnya di atas meja. "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumussalam." Una langsung berbisik pada Mamanya. "Mama pitsa."  "Adek nggak usah dikasih, ya," Romi berujar dengan melirik Una yang menatap dengan minat ke arah kotak pizza.  "Adek tadi bilang ke Mama, pengen pizza." Silmi menimpali.  "Nggak usah dibagi, ya," sambung Skylar. Una langsung memukul ibunya dan merengek. "Pitsa, Mama. Mau pitsa!"  Ros jelas sontak meringis. "Iya, tapi Mama nggak usah dipukul juga."  "Mpok Inem cengeng banget," ejek Skylar. "Ini Adek." Silmi mengambilkan sepotong pizza untuk adiknya lalu menarik pelan hidung Una.  "Kok pake usil juga," geram ibunya, membuat Silmi menyengir. Lalu segera menyambar pizza yang ia pesan tadi. "Udah, sekarang kita makan pizza-nya bareng-baren." lerai Romi seraya membuka kardus pizza lainnya. Dan memakan bersama-sama, Una hanya memakan satu gigitan saja. Bukan seleranya itu.  "Lama-lama bikin Mama gendut, kalau gini caranya." karena Una memberikan bekas gigitan pizza-nya pada Ros. Selalu seperti itu. Karena yang makan pada akhirnya Ros. Una tidak memperdulikan ucapan mamanya, sibuk dengan ingusnya yang meleleh. Kali ini mengusapnya dengan tisu, bukan baju mamanya.  "Mama, sama Bu Guru besok suruh bawa kerupuk," ujar Silmi begitu mengingat pesan gurunya. "Buat apa, Kak?"  "Katanya mau bikin rujak."  "Berapa bungkus kerupuknya?"  "Satu aja, soalnya yang bawa kerupuk ada tiga anak."  "Buahnya nggak?"  "Udah ada yang bawa."  "Siap!"  Di sekolah Silmi sedang mengadakan kegiatan tengah semester yang mana diisi dengan lomba, bermain tentang edukasi, berwisata kemudian juga seperti yang disebutkan Silmi; makan rujak bersama.    ***    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD