Meminta maaf itu sama seperti mengungkapkan cinta, menyimpan banyak ego dan gengsi.
Keesokkan harinya, jam 5 pagi Ros sibuk mencari tukang sayur untuk mencari kerupuk yang diminta Silmi. Sekalian mencari ayam untuk dimasak pagi ini. Dan biasanya mobi dengan bak terbuka itu sudah melintasi area rumahnya. Terbukti dari gerombolan Emak-emak yang sedang mengerubungi tukang sayur keliling itu.
"Kerupuk goreng pasirnya berapa ini, Pak?" tanya Ros.
"Dua belas ribu."
"Beli dua, Pak." tukang sayur itu pun segera memotong tali untuk memisahkan dengan kerupuk lain.
"Sama ayamnya satu kilo."
"Tambah apa lagi?"
"Udah, berapa?"
"Kerupuknya dua, dua puluh empat ribu ditambah ayamnya satu kilo tiga puluh dua ribu, jadinya.., lima puluh enam ribu." Ros memberikan uang seratus ribu.
"Uangnya seratus ribu, berarti kembaliannya empat empat ribu, ya."
Ros mengangguk sembari menerima kembalian lantas menghitungnya. "Makasih, Pak."
"Sama-sama."
"Tumben Mbak Ros belanja," sapa Ibu Hanik membuat Ros berhenti lantas tersenyum.
"Iya, Bu. Bi Ipah nggak bisa hadir lagi ada acara di rumah saudaranya," jawabnya.
"Oalah, pantes." Ros tersenyum. "Mau masak apa?"
"Ayam kecap, Bu. Una minta masak ayam kecap," terang Ros sedikit menjinjing kantong plastik yang berisi ayam.
Bu Hanik terkekeh mendengarnya, balita seusia Una bisa meminta makanan. Beliau adalah pembimbing Una di TAPOS, yang biasa dipanggil dengan Bunda.
"Kalau begitu mari, Bu," pamit Ros.
"Oh, ya. Silahkan."
Belum juga menginjakkan teras rumah, Ros sudah mendengar Una menangis. Membuat Ros segera mempercepat langkah kakinya. Melihat keadaan anaknya.
"Mama Una mana? Huuu...”
Begitu masuk ke dalam rumah Ros melihat anaknya itu berada digendongan suaminya. Rambut yang berantakan, wajah yang banjir dengan air mata, menangis saja tak lupa menggaruk kepalanya dan jangan lupakan cemongnya karena ingus.
Ugh! Gemas.
"Kenapa nangis?" tanya Ros langsung menghampiri Una lantas mengusap air matanya dengan tangannya yang bebas.
"Cari induknya-lah," sahut Romi dengan gemas.
"Padahal di rumah ada orang, kok nangis segala."
"Tukang nangis, emang."
Plakk
"Gak nangis, kok," ujar Una setelah memukul wajah ayahnya.
Ros melotot melihat tindakan Una. "Adek nggak boleh gitu, jadi temennya setan, mau?"
Una membalas cemberut.
"Mama masak dulu, Adek sama Ayah. Kan, katanya mau ayam kecap." Ros pun berlenggang pergi meninggalkan keduanya dan menuju dapur.
"Mama!!" panggil Una manja dengan berteriak. Membuat Ros mengikuti istrinya ke dapur. Kembali menangis, lagi.
"Kenapa sih, kok nangis terus?" ucap Ros mengurungkan niatnya untuk memasak. Lalu mengambil alih Una untuk digendongnya.
"Dulu aku ngidam apa, sih?" gumam Ros membuat Romi terkekeh mendengarnya.
"Namanya juga anak kecil."
"Tapi Silmi, Skylar. Nggak gini banget, lah ini, kemana-mana dibuntutin." Romi tentu tertawa keras tapi seketika berhenti karena cubitan Ros dipinggang membuatnya meringis.
"Awws!"
"Ayah kok nyebelin, ya. Ini anak Ayah juga kali."
"Minum susu."
Mendengar permintaan Una, Ros pun menatap suaminya. "Minta tolong."
Bergegas Romi membuatkan s**u untuk Una. "Botolnya dimana?"
"Rak, susunya empat sendok."
Ros mencuci muka Una dengan air keran yang ada di pencucian piring, agar terlihat segar. Tidak peduli dengan airnya, sama saja. Asal bukan air comberan, kan. Kalau saja Una bukan anak manusia.
"Mama, kerupuknya mana?" Silmi datang dengan seragam lengkap, ia memakai jilbab juga. Itu membuat Ros tak perlu ribet untuk menguncir atau mengepang rambutnya.
"Ini, Kak. Ada di meja."
Silmi mendekat menuju meja makan. "Kok, dua?"
"Satunya buat di rumah, Mama juga udah buatkan sambalnya." Kerupuk dan sambalnya sudah siap, Silmi tinggal membawanya saja. Jika bertanya kapan membuatnya, jelas semalam sebelum Ros tidur. Lalu menyimpannya di lemari pendingin.
"Tapi nggak disuruh bawa sambal sama Bu Guru."
"Nggak papa, itu sambalnya nggak pedes, kok."
Pada akhirnya pun Silmi menuruti perintah mamanya, lantas segera menyatukan dengan tas sekolahnya. Agar tak terlupakan.
"Minum s**u, Mama."
"Ayah lama!" Ros mengomel dan ditanggapi Romi dengan cengiran tak lupa dengan wajah tanpa dosanya. s**u Una tumpah dimana-mana, tidak banyak. Tapi sayang juga kalau terbuang seperti itu.
"Udah, ini loh." Romi menyerahkan susunya pada Ros yang langsung terkejut, karena cukup panas.
"Nggak pake air dingin?"
"Kan, nggak bilang." Ros mendengus. Menaruh botol s**u Una di freezer, sejenak.
"Mama kaos kakiku dimana?"
Ini lagi, permasalahannya selalu tentang atribut sekolah. Kerap kali membuat Ros gemas karena sering membeli kaos kaki. Kadang yang belum tercuci, kadang yang hilang sebelah malah juga keduanya. Bisa-bisanya seperti itu.
"Kok bukan hidung Abang aja sekalian, ya. Yang hilang." Skylar hanya tersenyum tanpa dosa. Sok ganteng lagi.
"Beli aja, Bang." Romi menyahut seraya mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu.
"Matursuwun, Ayah," girang Skylar, merasa ada untung banyak dari uang tersebut.
"Tiap hari beli," gumam Ros.
"Masak apa?"
"Belum masak, Adek lagi pinter. Sarapan sama roti aja.” Ros beranjak duduk, kakinya pegal juga tangannya jelas kebas. Sebelumnya mengambil botol s**u Una. Karena Una juga tidak bisa minum s**u tanpa tiduran.
"Una plokoto." Skylar menyambar pipi Una dengan gemas.
"Jangan ganggu Adeknya, Abang."
"Sarapan nasi goreng mau, Bang?" tawar Romi pada anak sulungnya.
"Boleh, deh."
"Bentar."
Romi segera menyiapkan bumbu instan, Ros menyediakan jika ia malas memasak atau sedang terburu-buru seperti ini. Simple dan cepat. Selain itu, Romi menggoreng nugget, sosis dan telur. Jika untuk memasak nasi goreng bisa saja, sangat simple.
Beberapa menit kemudian.
"Udah abis." Una mengangkat botol susunya yang sudah kosong dan langsung ditarik Ros untuk diletakkan di meja. Lalu mendudukkan Una.
"Makan roti, mau?" tawar Ros pada Una yang langsung menggeleng.
"Ayah, minta nugget sama sosisnya."
"Mpok Inem aja yang ditawarin, padahal yang ini juga anaknya." Skylar bersuara.
"Abang kan bisa ambil sendiri."
"Oh, gitu.." nadanya terdengar kurang bersahabat, tentu Skylar cemburu. Akhir-akhir ini Ibunya itu hanya perhatian pada adiknya yang bungsu.
"Ayah, aku berangkat sendiri aja." ujarnya.
Romi yang sedang memasak itu menatap anak lelakinya. "Nggak sarapan?"
"Nggak." Skylar menggeleng. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Skylar dan Silmi sekolah di tempat yang sama, jarak antara rumah dan sekolah bisa ditempuh dengan sepeda. Mungkin, kurang lebih satu kilometer. Maka dari itu, Skylar kali ini memilih untuk bersepeda saja.
"Kenapa dia?" tanya Romi bingung, tak biasanya Skylar bersikap seperti itu. Ros terdiam, ia sendiri juga bingung.
"Kak Sil, ayo sarapan!" Romi memanggil seraya menata masakannya di meja makan.
Silmi pun segera merapat dan mereka sarapan bersama, tanpa Skylar. Tapi kali ini jelas beda dengan hari biasanya, ada yang berkurang.
***
Beberapa hari kemudian, semenjak Skylar memilih untuk bersepeda saat sekolah dan hingga sekarang pun jarang terlibat percakapan bahkan berkumpul pun semakin tak pernah saja. Membuat Romi tak tahan untuk tidak bertanya, sebab ia merasa ada keganjilan.
Dan malam itu usai belajar, Skylar memilih untuk mengurung diri di kamar. Tidak, tapi pada kenyataannya ia memang memilih belajar di kamar. Tidak seperti biasanya di ruang keluarga dan dibantu sang aama untuk mengerjakan tugas sekolahnya yang dikiranya susah.
"Abang, Ayah boleh masuk?" Romi mengetuk pintu kamar putranya.
"Masuk aja."
Romi pun masuk setelah dipersilahkan, ia langsung disuguhkan dengan anak sulungnya yang sedang asik bermain game—PS2, itu masih mengabaikan kedatangan sang ayah yang bertandang ke kamarnya.
"Udah belajar, Bang?" tanya Romi setelah ia duduk di kasur milik Skylar.
"Udah."
“Udah makan juga?”
“Udah.”
"Ayah ngobrol sama Abang, bisa?" pinta Romi meminta persetujuan, sebab anaknya itu seperti tak menghiraukan kehadirannya. Membuat Romi menahan amarah sedari tadi.
"Dari tadi 'kan, udah ngobrol."
"Skylar.” terdengar nada tegas disana membuat Skylar langsung men-stop game-nya dan menatap sang ayah. Ia tahu jika ayahnya sedang marah, karena memanggil nama.
"Kenapa?" Skylar langsung kemana arah pembicaraan ayahnya itu.
"Mama pilih kasih."
Romi tersenyum, seketika tahu maksud putra sulungnya itu. "Sini, deh."
"Mau diapain?" tanya Skylar berjaga-jaga. Takut jika ayahnya akan berbuat jahat atau usil padanya. Tapi opsi pertama sepertinya tidak, sebab Romi adalah sosok ayah penyayang.
"Astaga, Abang! Emangnya Ayah mau ngapain, Abang." Romi terkekeh pelan mendengar Skylar seperti ketakutan padanya.
"Janji dulu, beliin mobil remot," ujar Skylar, tanpa berkata pun Romi mengangguk dan akhirnya Skylar pun mendekat. Yang didapatkannya adalah pelukan dari sang ayah.
"Abang kan anak pertama, Kakak buat adik-adik perempuan Abang. Yang harus dijaga, Abang juga harus bisa memimpin adik-adik perempuan Abang. Jangan cemburu kalau Mama lebih mengutamakan Una. Dia kan masih butuh bantuan orang dewasa, kalau Abang kan udah bisa ini-itu sendiri lain cerita sama Una." penuturan Romi membuat Skylar merasa bersalah terhadap mamanya, baiknya ia malah membantu mamanya itu untuk menjaga dan merawat adiknya bukan sibuk mengurusi keperluan sendiri.
Romi pun melepas pelukannya, menatap Skylar lembut. Tangannya terulur untuk mengusap kepala Skylar sayang. "Minta maaf ke Mama, gih."
"Makasih, Ayah." Romi tersenyum.
Skylar pun keluar kamar, lebih tepatnya keluar rumah. Ia akan membelikan sesuatu untuk ibunya sebagai tanda permintaan maaf. Dengan menggayuh sepedanya, Skylar pergi menuju toko kecil terdekat untuk membeli kesukaan mamanya.
Minuman kemasan kacang ijo.
Walaupun malam begini di lingkungan rumahnya masih ramai, karena Romi memang tak memilih rumah di derah kompleks. Sebab, takut nanti anaknya tidak bisa berbaur dengan tetangga kanan-kirinya.
"Ibu, beli ini satu." Skylar langsung mengambil dan menunjukkan barang yang dibelinya.
"Lima ribu." dan Skylar sudah menyiapkan uang yang pas untuk membayarnya.
***
"Sky kemana?" tanya Romi begitu keluar kamar Skylar tak menemukan putranya.
"Bukannya di kamar?" Ros malah balik tanya.
"Assalamu'alaikum." uluk salam Skylar menjawab kebingungan kedua orang tuanya.
"Wa'alaikumussalam."
"Darimana, Bang?" Romi melontarkan pertanyaan saat Skylar masuk.
"Dari mana-mana hatiku senang."
Romi melotot tapi tidak ditanggapi Skylar karena ia menghampiri mamanya yang sedang duduk—menatap Skylar bingung.
Skylar langsung memeluk mamanya. "Maafin aku, ya."
Ros yang bingung melirik suaminya meminta penjelasan anaknya yang bersikap seperti ini, "Maafin kenapa, Bang?" ujar Ros seraya mencoba melepaskan pelukannya.
"Maafin dulu."
"Iya, Mama maafin." Skylar pun melepaskan pelukannya lalu kemudian mencium pipi mamanya.
"Kemarin-kemarin cuek sama Mama, karena cemburu sama Mpok Inem." ungkapnya jujur walau terselip pengawuran di dalamnya.
Ros mengerutkan keningnya saat menatap Skylar, membuat putra sulungnya merengek. "Ah, Mama nggak asik. Masa responnya gitu, sih."
Ros dan Romi sontak tertawa, Silmi yang diam-diam mencuri dengar menjadi bingung. Karena ia fokus bermain dengan Una.
"Ngomongnya yang bener dong, Bang," tutur Romi kemudian.
"Adek Abang yang mana, namanya siapa?" sambung Ros.
"Iya, deh. Abang cemburu sama Adek Una.” geli Skylar menyebut nama adiknya dengan embel-embel. Lebih simple Mpok Inem atau Una plokoto.
Sementara itu, Una yang merasa disebutkan namanya langsung merapat. "Napa?"
Skylar mendadak gemas, ingin berduaan dengan mamanya ada monster datang. "Yang manggil itu sapa, deh."
"Gak ada?"
"Nggak."
"Ya wis." Una pun kembali lagi ke Silmi untuk bermain, setelah mendapat jawaban Skylar.
"Maafin, ya, Ma. Nanti aku kasih hadiah." kata Skylar kemudian. Romi terus memperhatikannya, serius ini acara yang paling geli menurutnya. Bukan dengan tangis cara Skylar meminta maaf tapi dengan cara menyogok.
Ros tergelak mendengarnya, dan hal itu membuat Una merapat lagi. "Heh? Gak oleh lame-lame, kok." dan kembali lagi. aneh.
Skylar, Romi dan Ros mengerutkan kening saat memperhatikan Una. Ada apa dengannya.
"Oke, karena dikasih hadiah Mama maafin Abang," kata Ros.
"Kok, karena dikasih hadiah?" protes Skylar.
Alis Ros terangkat keduanya, padahal tadi sudah diiyakan untuk memaaf. "Lah, gimana? Tadi kan, Abang yang bilang gitu.”
"Tapi jangan gitu juga." Skylar mendengus.
"Iya, deh."
Skylar pun mengambil yang tadi dibeli dari saku celananya. Lalu memberikannya pada sang Mama. Dan itu bisa membuat Ros terharu, pada kemasan minuman kacang ijo--kesukaannya ada sederet tulisan dengan spidol.
I'm sorry, Mom :)
Ros pun langsung memeluk Skylar dan disusul Romi. Ros merasa bahagia, karena memiliki keluarga seperti ini. Dan ini pembelajaran baginya untuk bisa menjadi ibu yang lebih baik, bersikap adil terhadap ketiga anaknya. Ros tak lupa untuk mencium pipi Skylar, sayang.
"Love you."
Namun momen itu seketika bubar karena Una tiba-tiba menangis melihatnya, membuat pelukan itu terlepas. Una menghampiri Skylar lantas memukulnya.
"Gak oleh peluk Mama, kok."
Skylar mendengus, lainnya tergelak mendengar penuturan Una. Silmi tak mau ketinggalan, ia segera merapat dan duduk di pangkuan ayahnya.
Karena gemas Skylar malah memeluk mamanya erat, jelas Una menangis dan memukul Skylar hingga membabi buta bahkan menjambak juga. "Mama Una." katanya begitu terus.
"Kasian Abang, Adek. Abang juga anaknya Mama.” lerai Ros akhirnya dengan memangku Una.
"Gak oleh, huuu."
Skylar mencium gemas pipi Una yang langsung dipukul mengenai wajahnya. "Astaghfirullah, Adek, ya. Nggak boleh gitu."
Tangis Una malah semakin kencang membuat Ros pun memeluknya erat, "Cupp, diem."
"Semua itu anaknya Mama, jadi Mama juga sayang Abang, Kakak sama Adek."
Skylar dan Silmi kompak membalas, "Sayang Mama."
"Sama Ayahnya, nggak?"
"Pake ditanya."
***