MK — Tujuh

1164 Words
Setiap kesalahan perlu dimaafkan, bukan?Kebahagiaan seorang Ibu adalah melihat anaknya selalu dalam keadaan baik-baik saja. Siangnya Una terbangun dengan menangis, membuat Ros yang ada disampingnya pun ikut terbangun. Lalu segera mengelus punggung Una agar kembali terlelap, tapi bukannya terlelap ia malah membuka matanya lebar-lebar. "Inum s**u, Mama." pintanya merengek dengan mengucek matanya. Ros yang tidak bisa bergerak bebas karena rasa sakit yang ia alami; perih, pegal dan kaku. Ia tak mungkin beranjak dari tempatnya tanpa bantuan orang lain. Solusinya adalah ia berteriak. "Ayah!" dan bersyukurnya Romi langsung datang menghampiri, merespons panggilannya. "Mau apa?" tanya Romi begitu berada di kamar. "Adek minta susu." Romi seketika mengiyakannya dan kembali keluar kamar untuk membuatkan s**u anaknya. "Inum s**u!" Una menghentakkan kakinya, ia tak sabar. Sepertinya ia kehausan usai tidur panjang tadi. "Sebentar, yang sabar dong." "Gak mau sebental." rengeknya tak sabar dan terus menghentakkan kakinya. "Masih dibuatkan Ayah, Adek." Tak lama Romi pun kembali dengan sebotol s**u berukuran besar, lalu menyerahkan pada Ros yang langsung menerima dan mengeceknya. Begitu pas; tidak terlalu panas pun langsung diberikan pada Una. "Bismillah dulu." Una mengabaikannya dengan merebut botol susunya lantas meneguknya secara tak sabar. Lalu kakinya disilangkan kepada kaki lain. Ros yang melihatnya tentu gemas, ia memukul pelan paha Una. "Kok nggak berdoa." Yang di tegur malah merengek. Ros mencebik, "Anak siapa kayak gitu modelnya." Romi terkekeh. Ia beranjak mendekati kasur di sisi Una. Mengganggu Una sepertinya lucu. "Adek, Ayah minta." Una langsung balik badan menghadap ke arah Ros yang terkekeh. "Pelitnya." Romi mencium punggung Una yang langsung menjauhkan tubuhnya dan merapat ke arah Ros. "Padahal yang buat tadi Ayah." Una merengek karena merasa geli pada bagian belakang, tanpa melepas botolnya ia bicara. "Mama." mengadu. "Adek pelit, sih." "Susuna gak nak." ujar Una, padahal setengah botol tandas ia berkata seperti itu, ck. Tapi maksudnya ia membujuk Romi agar tidak meminta kepunyaannya. "Nggak enak kok abis." Romi membalas yang langsung dipukul Una dengan botol susunya yang kini sudah kosong. "Ih, Ayah nakal Mama!" "Aduh!" "Adek pelit." "Gak pelit, yo?" kata Una meminta persetujuan Ros yang langsung mengangkat salah satu alisnya. Seketika responnya itu mendapatkan pukulan dari Una—tepat melukai luka pada sikunya. "Awws!" tepat bagian sikunya yang terluka, Ros seketika melotot ke arah Una yang langsung balik badan menghadap ayahnya. Nyeri sekali rasanya. "Mama marah sama Adek.” Una malah bersembunyi di d**a ayahnya. Ia melupakan adegan k*******n pada Romi. Membuat Ros pun memukul p****t Una pelan, ia benar-benar gemas dengan anak bungsunya itu. "Adeknya Bang Skylar, Subhanallah!"   ***   Kedua anak Ros pun pulang, ia langsung menuju kamar orang tuanya untuk melihat keadaan sang mama, tentu saja. Mereka tadi dijemput oleh ayahnya, tentu saja. Memang siapa lagi. Setelah mengganggu Una Romi bergegas menjemput kedua anaknya. "Mama!" Silmi langsung menubruk tubuh mamanya, merasa takut jika sesuatu yang lebih dari kecelakaan menimpa. Pikiran buruk itu sempat terpatri dalam benaknya. "Kakak  cuci kaki dulu," tegur Ros langsung. "Mama nggak papa, kan?" tanya Silmi khawatir tanpa menyahuti teguran Ros. "Nggak papa. Udah, Kakak cuci kaki dulu sekalian ganti baju," titah Ros. Begitu Silmi pergi Una pun masuk kamar, ia baru saja dimandikan oleh ayahnya. Dalam balutan handuk bergambar dan rambut yang basah, lucunya. Una berjalan cepat menuju ke arah Ros membuatnya ketar-ketir. "Pelan-pelan!" pekiknya berbarengan dengan Una yang terjatuh posisinya tengkurap. Seketika Una menangis, bagian dahinya terasa sangat nyeri. Ros tentu spontanitas bangkit dari posisinya dan meraih tubuh Una. Melupakan rasa yang menyakitkan pada tubuhnya. Tangisan Una semakin kencang dan memekikkan telinga. Ros terus mendekapnya erat. "Cupp diem, sayangnya Mama." "Sakit.." keluh Una seraya mengelus dahinya yang ternyata bertambah maju. "Oh, iya. Mama cium, ya." Ros mencium pelan dahi Una yang benjol. Jadi seperti ikan louhan. Romi pun muncul langsung melempar tanya, "Kenapa?" "Nyium lantai,” jawab Ros. "Sakit Mama.” Una kembali mengeluh saat tangannya menyentuh bagian dahi. "Nanti diobati, ya." Obat yang bisa cukup manjur dari nenek moyang itu—kencur  karena dapat mengurangi rasa sakit pada bagian luka lebam, pun bagian yang benjol bisa mengempes secara perlahan. Asal pemakaian secara teratur. Caranya, kencur dikupas kemudian dicuci lalu digeprek atau diparut setelah itu diusapkan pada bagian yang luka. Romi pun menyiapkan baju serta perlengkapan Una, jelas untuk memakaikan baju anaknya itu. Ia mencarikan baju yang ada kancing bajunya, ia paham jika memakai dari kepala nanti akan susah dan berdampak Una tak mau memakai baju dengan alasan dahinya terluka. Romi mendengkus karena membayangkan jika itu akan terjadi. Ada saja alasannya. "Pake baju dulu, yuk!" Romi angkat bicara, setelah tak mendengar suara tangisan Una kecuali isakan. "Gak." "Heh?" "Pake baju dulu, ya. Biar nggak masuk angin.” Una menggeleng. "Pake baju sama Mama?" Una menunjukkan dahinya. "Sakit." "Pelan-pelan." Romi meletakkan baju Una di sisi Ros agar istrinya itu mudah menggapainya. "Pake baju ini loh." Romi menunjukkan baju kesukaan Una, lengan panjang bergambar Upin-Ipin, baju tidur sebenarnya. Ya, cara agar anaknya mau memakai baju. Sebab, ia khawatir nanti malah masuk angin. "Loh, pake baju Upin-Ipin. Mau pake baju, ya," lelah membujuk Ros pun meletakkan Una di kasur dan memakaikan handuk di pinggang. Kemudian mengolesi minyak telon pada bagian perut dan punggung. Setelah itu memakaikan kaos dalam dengan sangat pelan agar tidak mengenai dahinya, sebab Una sempat menolak dan kemudian mengatakan untuk pelan-pelan. Terakhir memakaikan baju bergambar tersebut. "Pake bedak, nggak?" Ros bertanya dan Una langsung menggeleng. Benar-benar dijaga lukanya. "Minum s**u?" tawar Romi yang langsung diangguki Una. Minuman kesukaan tidak mungkin ditolaknya. Romi beranjak seraya membawa handuk Una untuk dijemur sekalian mengembalikan perlengkapan Una pada tempatnya. Setelah itu baru membuatkan s**u untuk Una. "Sekalian minta tolong Bi Ipah buat parut kencur, dikit aja," ujar Ros sebelum Romi benar-benar pergi. Lalu Una memperhatikan luka Ros yang ada di siku, "Mama.. sakit?" tanyanya seraya menunjuk ke arah luka Ros. "Iya, obatin Mama." Una langsung menurutinya. Ia semakin merapat pada Ros. "Bismillah.” lalu Una meniupinya. Ros pun mencium pipi Una sayang dan tak lama Romi membawa sebotol s**u kali ini berukuran kecil dari sebelumnya. Romi juga membawa kencur yang sudah diparut. Ia letakkan di nakas. "Bilang apa?" "Makasyih,” setelah itu ia membaringkan tubuhnya dan meminum susunya. Tak lupa kakinya ditumpangkan pada kaki lain. "Kok nggak pernah berdoa, ya." yang ditegur--Una diam saja dan terus meminum susunya. Ros mencoba menurunkan kaki Una tapi yang punya kaki dikembalikan ke posisi semula. Apa semua anak bungsu seperti ini sifat dan sikapnya. "Ayah, capek?" tanya Ros menatap Romi yang tampak kelelahan. Romi menggeleng lalu tersenyum seraya mendekat ke arah ranjang dan duduk di samping Ros. "Maaf, ya. Jadi bikin repot," ujar Ros, sebab sejak ia kecelakaan tadi Romi yang mengganti peran Ros. Salah satunya tadi, memandikan Una. "Makanya kalau udah dilarang sama suami jangan main nerobos aja." tak sadar Romi mengucapkan kalimat seperti itu membuat Ros yang tersinggung langsung terdiam. Ia mengaku salah. "Mama, abis!" ucapan Una langsung ditanggapi Ros dengan meminta botol s**u. "Jempol dua.” "Dahinya diobati, ya." Una mengangguk membuat Ros langsung mengambil kencur yang tadi sempat Romi taruh di nakas. "Bau apa ini?" Buyar sudah niat Ros, Una sudah memberi tanda. "Gak enak.” ia langsung mual membuat Ros memekik tertahan. s**u yang diminumnya dibuang begitu saja. "Ih, bau." rengeknya dengan kembali mual. Ros langsung mengembalikan kencur ke tempat semula. Sprei kasur tersebut tentu kotor, karena kena muntahan Una. Ia paling anti dengan bau yang tak sedap, dan yang membuat Ros sayang itu ketika Una usai makan atau minum. Susah-susah ia membujuk anaknya itu makan yang ada berakhir menyedihkan. Sebab Una memuntahkannya. Romi mengambilkan baju baru. "Sini ganti baju dulu." sama seperti sebelumnya, baju yang akan dikenakan Una berkancing bagian depan. Una menurut, sementara Ros melepas spreinya.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD