Bab 15. Naik Pitam

1033 Words
"Nah, itu dia suamiku. Aku pulang duluan ya, Han. Hati-hati di jalan .... " Maudy langsung menghampiri Zein yang ternyata sudah menunggunya di sana. Pria itu tengah berdiri sambil bersandar ke mobilnya. Namun, langkah kaki Maudy tiba-tiba saja berhenti. "Baby kamu nyusul aku ke sini?" Laura mendahului Maudy. Zein yang tadinya menggunakan kaca mata hitam, langsung membukanya. Dia melihat Maudy di sana, tapi bukannya bersalah kepergok bersama selingkuhannya, Zein malah tersenyum seolah sedang mengejek Maudy. 'Sepertinya ini bagus untuk menyadarkan wanita rese itu!' pikir Zein. Dia bermaksud membawa Maudy dan Laura dalam satu mobil. Untuk memperingatkan keduanya, bahwa mereka sama-sama tidak penting. Namun, sebelum Maudy mendekat seseorang mencegat istrinya itu. "Maudy!" panggil seseorang membuat Maudy menoleh. Ternyata itu Yoga mantan kekasih SMA-nya. Bisa dikatakan mungkin Yoga satu-satunya mantan Maudy. Setelah putus dia tak pernah lagi menjalin hubungan asmarah dengan seseorang lainnya. Bukan karena gagal moveon, tapi ekonomi. Maudy tidak punya waktu untuk hal itu, dia terlalu sibuk membantu orang tuanya bekerja. "Ternyata benar kamu Dy, aku sudah waspada salah orang. Bagaimana kabarmu?" basabasi Yoga. Menyadari kehadirannya, Maudy tidak lantas lupa soal kehadiran suaminya, tapi sengaja untuk memanasinya. Maudy bahkan sedikit tersenyum tanpa sepengetahuannya. "Seperti yang kamu lihat, Yog. Aku baik-baik saja," jawab Maudy ramah. Memperhatikan interaksi tersebut, entah kenapa Zein tidak suka dan juga marah. "Tapi kamu kelihatan tambah cantik sekarang. Seandainya kita tidak putus, mungkin aku pasti sudah menjadi suami yang beruntung saat ini," jelas Yoga membuat Zein tak tahan lagi. "Istri kamu sepertinya selingkuh, Baby ...." Tiba-tiba Laura memberanikan diri. Memegang lengan Zein dan bermaksud memanasi pria itu, tapi dia sendiri malah ditepis. "Menyingkirlah, dan jangan muncul dihadapanku sekarang!" "Ta--pi Baby ...." Wanita itu masih mencoba peruntungannya. Namun, suara berat, meski pelan, tapi sangat memperingatkannya. "Laura!" geram Zein sebelum kemudian mendekati Maudy dan meninggalkan Laura di dekat mobil sendirian. Mau, tak mau Laura juga segera pergi dari sana. Dia cukup mengenal tempramen Zein, dan dia tak mau mendapatkan masalah. 'Sial! Kali ini kamu menang wanita sampah, tapi tidak lain kali! Hanya aku yang pantas di sisi Zein!' batin Laura percaya diri. Selanjutnya dia benar-benar pergi dari sana. Sementara itu, Zein sudah cukup dekat ke posisi Maudy. Segera meraih pergelangan tangan istrinya itu dan menggenggamnya. "Aku sudah capek menunggumu sejak tadi, ayo pulang," jelas Zein membuat Yoga mengerutkan dahi. "Dia suamiku, Yoga. Baiklah kami pulang sekarang, sampai ketemu nanti," jelas Maudy santai. Akan tetapi, Zein tebak laki-laki bernama Yoga itu tampaknya kecewa setelah mengetahui fakta tersebut. "Aku pikir kamu masih menunggu aku, Dy. Ternyata sudah bersuami, tapi tak mengapa aku tunggu jandamu!" jawab Yoga percaya diri. Mendengar kalimat itu, Zein reflek mengencangkan pegangannya pada pergelangan tangan istrinya. Dia bahkan berbalik tanpa memperdulikan Maudy, atau menyapa Yoga. "Yah, kamu juga tidak mau mengenalkan kami. Hei, Tuan Arogan. Aku mantan kekasih istrimu. Satu-satunya!" panggil Yoga dengan sengaja. Langkah kaki Zein langsung melebar dan bergerak cepat. Membuat Maudy kesulitan mengikutinya. Sementara itu, Yoga tampak mengumpat ditempatnya. Blam! Zein membuka pintu mobil dan mendorong Maudy masuk ke sana dengan paksa. Kemudian menyusul dirinya sendiri dengan mengambil tempat duduk di sebelah Maudy, tepatnya bangku pengemudi. "Jadi wanita setidaknya kamu sadar diri. Jangan kecentilan dan mengoda pria di depan umum. Apa kau lupa sudah menikah, sudah menjadi istriku, Maudy, dan itu semua atas persetujuanmu sendiri!" terang Zein sambil membentak. "Kamu ngomong apa sih? Siapa yang kecentilan dan siapa yang menggoda siapa? Jelas-jelas kamu yang punya simpanan, dan bahkan mengakui sendiri kalau menyukai wanita lain!" balas Maudy dengan sarkas. Zein tertohok, tapi tentu saja dia tak mau mengalah. Pria itu segera dengan kasar meraih dagu istrinya dan mencengkramnya. "Kamu milikku!!" tegasnya sambil melotot tajam. "Tapi kau tidak pernah berhak memilikiku!" lanjut Zein dengan egois dan penuh penekanan. Dia langsung melepaskan cengkeramannya. Maudy memalingkan tatapannya, membuang muka dan menghadap keluar. Sementara itu Zein meski sedang emosi, dia masih teringat untuk mengenakan sabuk pengaman, pada dirinya dan juga Maudy. "Pelan-pelan! Aku tak mau mati muda!" peringat Maudy saat Zein sudah mengemudikan mobilnya. Agak cepat itulah sebabnya Maudy menegurnya. Namun, bukannya mendengar Zein malah semakin mempercepat laju mobilnya, membuat Maudy gemas dan berbalik menatapnya. "Brengs*k!! Aku benaran tidak mau mau mati muda! Kalau mau mati sendirian sa--" Cii...tttt! Bruk!! Belum juga Maudy selesai bicara, Zein tiba-tiba banting setir dan menghentikan laju mobilnya. Mungkin jika tidak memakai sabuk pengaman mereka akan terpental dan mengakibatkan luka serius. "Matikan?!! Brengs*k! Udah dibilanginkan!" Maudy langsung mengusap dahinya dan mendesah kasar. Dia dan Zein tidak kenapa-napa, tapi syoknya masih luar bisa. Mereka hampir saja kecelakaan, andai Zein tak mengelak dengan cepat. Namun, sekarang beruntunglah keduanya selamat. "Ini semua salahmu!" balas Zein sambil kemudian menatap tajam dan memukul setir. "Apa?! Sudah seperti ini, kamu masih menyalahkan aku?" balas Maudy tak percaya. "Kau yang egois dan jelas-jelas gila, tapi aku yang disalahkan ...." "Diamlah!!" bentak Zein tiba-tiba pusing sendiri. Maudy berdecak, tapi menurut. Begitu beberapa saat berlalu Zein kembali mengemudikan mobilnya. Sayangnya saat melewati jalan sepi, mobil itu berulah dan tiba-tiba berhenti. "Ngapain sih, berhenti ditempat seperti ini? Kamu mau ngapain?" tanya Maudy gemas, dia masih tak menyadari masalah yang terjadi pada mobil yang mereka tumpangi. "Bod*h! Siapa yang berhenti? Mobilnya mogok tahu!" jawab Zein memberitahu. "Nggak usah ngegas bisa nggak sih? Aku bisa dengar tahu, tidak perlu pakai nada tinggi!" omel Maudy. Zein menggertakkan gigi, sambil mengepalkan telapak tangannya. "Diam, bawel!!" Bertepatan dengan ucapannya itu, tiba-tiba saja hujan turun. Menyadari kondisi mereka yang semakin apes, Zein meninju jok mobil, tapi kali ini Maudy cuma menatap sinis, dan tak berkomentar lagi. 'Dasar oon, apa nggak sakit tuh tangan? Cih, biarkan sajalah. Biar tahu rasa dia. Habis ini pasti tangannya memar!' batin Maudy. "Sial, di sini tidak ada sinyal!" umpat Zein bertambah kesal. Namun, Maudy segera mengecek ponselnya sendiri, dan ternyata Zein memperhatikannya. "Habis baterai lagi? Duh, sekarang kita gimana?" Maudy mulai panik. Saat melihat situasi sekitar, dia bertambah panik. Lokasi mereka bukan cuma sepi, tapi sekarang hampir tidak dilewati satu kendaraan pun. 'Turun hujan, ponsel mati, dan bersama orang brengs*k! Huft ... habislah aku!' batin Maudy meringis ngeri. "Tenanglah, aku masih disini," ucap Zein menurunkan nada suaranya saat menyadari gurat wajah istrinya yang berubah menjadi tampak ketakutan. "Justru itu! Gimana kalau kamu ngapa-ngapain aku?!" jawab Maudy terus terang. "Ckckck, aku suamimu bod*h!!" balas Zein yang kembali naik pitam. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD