Bab 1. Terkecoh
"Aku ingin bicara berdua dengan Maudy sebelum menikahinya, bagaimanapun juga aku tidak mau dia terlalu dirugikan karena pernikahan ini," jelas Zein terdengar bijak dan begitu pengertian.
Dia menatap para orang tua seolah meminta persetujuan dengan sopan. Hendra selaku ayahnya langsung mengangguk begitu juga Setiawan ayahnya Maudy.
Saat itu juga setelah mendapatkan persetujuan, Zein membawa Maudy ke suatu tempat yang privat dan aman. Dia tidak mau jika pembicaraan mereka bocor dan terdengar orang lain, karena yang ingin disampaikan pria itu menurutnya adalah hal yang sangat serius.
"Aku tidak mau basa-basi, dan aku yakin kau masih mengenalku bukan?" tanya Zein begitu mereka sampai di tempat yang dimaksudnya.
Wajahnya langsung serius dan mengintimidasi. Membuat Maudy langsung terlihat kikuk, dan meneguk ludahnya kasar.
Sementara Zein yang menyadari kegugupan Maudy, dia langsung menyeringai dan terlihat sedikit puas, berpikir kalau perempuan dihadapannya mungkin mudah dikendalikan.
"Kamu laki-laki malam itu yang sudah merenggut kegadisanku," ucap Maudy bahkan sedikit bergetar, Maudy bertingkah seolah semakin meyakinkan Zein kalau dia tidak bisa menjadi ancaman besar, dan tak perlu ditakutkan.
"Baguslah kamu masih ingat," jawab Zein antara memuji dan mengejek Maudy. "Apa kamu mau aku bertanggungjawab atas malam itu?"
Maudy langsung menganggukkan kepalanya tanpa ragu. Setelah kegadisannya di renggut, tentu saja dia berhak mendapatkan tanggungjawab. Meskipun malam itu sebenarnya mereka tidak saling menginginkan. Satunya setengah mabuk, ditambah frustasi dan butuh pelampiasan, sementara satunya lagi dalam pengaruh obat perangs*ng.
"Baiklah aku akan bertanggungjawab, tapi sebelum itu kau harus menolak dan mengatakan tidak setuju pada orang tua kita. Kau tidak suka jadi pengantin pengganti, karena dengan begitu aku akan bertanggungjawab. Aku akan membayar harga perawanmu senilai satu miliar, bagaimana?" tanya Zein terus terang diakhir kalimatnya.
Maudy tampak terlihat syok seperti bukan ucapan itu yang diharapkan olehnya, seperti bukan tanggung jawab itu yang dia inginkan. Namun, alih-alih menolak, dia malah mengontrol emosinya dan memasang wajah datarnya, sebelum kemudian menganggukkan kepalanya.
"Baiklah," jawab Maudy dengan mudah dan tanpa penolakan.
Membuat Zein langsung terlihat puas dan amat senang. "Kalau begitu tidak ada hal penting yang perlu kita bahas lagi, karena sekarang tak usah buang waktu cepat katakan penolakan itu pada orang tua kita!"
Sampai detik itu semuanya masih berjalan sesuai dengan rencana Zein, hingga kemudian keduanya menghadap orang tua mereka, dan Maudy kembali diberi pertanyaan yang sama.
"Kamu sudah tahu apa yang terjadi pada keluarga Om, Maudy. Tinggal beberapa menit dan semuanya akan hancur jika kamu tidak membantu kami. Pernikahan yang gagal, Zein yang ditinggal kabur oleh calon istrinya adalah aib untuk kami, dan kamu adalah satu-satunya harapan kamu.
Maudy maukah kamu menjadi pengantin pengganti, menjadi menantu keluarga ini atau tepatnya istri untuk Zein?" tanya Hendra.
Zein masih terlihat santai, karena dia merasa sudah berhasil mempengaruhi Maudy beberapa menit lalu.
"Tentu saja ...." Jawaban itu langsung membuat Zein kaget, bagikan dikejutkan oleh ledakan bom.
Dia dalam seketika menatap Maudy dan mengubah ekspresinya menjadi terlihat geram dan juga marah. Namun, orang lain tidak ada yang menyadarinya, sebab mereka terlalu fokus pada jawaban Maudy yang membuat semua orang lega.
"Aku, ayah-ibu dan selaku adik-adikku sudah terlalu banyak menikmati kebaikan dari Om dan juga tante Utari. Kalian sudah banyak membantu keluarga kami, jadi bagaimana mungkin aku menolak hal ini," jelas Maudy semakin membuat orang menghela nafas lega.
Berbanding terbalik dengan Zein langsung pucat dan juga tak terima. Dia langsung menatap Maudy dengan tajam, seraya menatapnya dengan tatapan mematikan untuk mengancamnya. Namun, apa yang terjadi? Maudy justru menoleh serta memalingkan wajahnya enggan menatap ke arah Zein.
Hal itupun semakin membuat Zein murka serta geram. Akan tetapi, dia tidak berdaya. Pria itu ternyata sudah berjanji pada orang tuanya, terutama ibunya yang tiba-tiba jatuh sakit mendengar calon pengantin kabur.
Mau tak mau pernikahan itu pun dilaksanakan dengan pengantin yang berbeda.
*****
Brubh!
"Wanita munafik!!" umpat Zein langsung mendorong Maudy ke atas tempat tidur.
Acaranya sudah selesai dan mereka juga sudah sah menjadi pasangan suami istri. Sedang berada di kamar hotel, tepatnya kamar bulan madu untuk mereka menikmati malam pertama yang harusnya penuh dengan kehangatan.
"Apa yang kau lakukan kenapa berubah pikiran secepat itu, bukankah kau setuju menolak menjadi pengantin pengganti?!" geram Zein sudah mirip orang kesetanan.
Dia bahkan sedang menindih tubuh mungil Maudy, juga mencekik leher istrinya itu dengan cukup kuat. Maudy bahkan sampai terbatuk dan memukul mukul-mukul tangannya, sebab hampir kehilangan pasokan udaranya.
"Ughhh! Lepas--kan!" pinta Maudy yang tak didengarkan.
"Katakan kenapa kau melakukannya?!" bentak Zein begitu marah
Sementara itu, Maudy juga tak mau menyerah. Terus berontak dan berusaha melepaskan dirinya sendiri.
"Auchhh!!" jerit Zein langsung merasa linu.
Dia bahkan sampai bangkit dan mengusap pusat masa depannya. Ternyata Maudy yang panik dan kesulitan memikirkan jalan keluar, terpaksa menggunakan kekerasan. Barusan dia menendang itu suaminya dengan dengan lumayan keras.
"Brengs*k!! Aku akan membalasmu!!" geram Zein membuat Maudy buru-buru kabur.
Tidak bisa berpikir panjang, Maudy langsung masuk kamar mandi dan mengunci pintunya dengan cepat.
Bruhh-burhh!
Gedoran Zein yang memukul pintu. "Kau pikir bisa lari dariku? Tidak Maudy. Aku akan memberimu perhitungan yang tak bisa kau lupakan seumur hidupmu!!" peringat Zein dengan serius.
Blam!
Blam!
Blam!
Pria itu mulai mendobrak dan kali ini membuat Maudy takut. Wanita itu bahkan sampai membaca doa, berharap dijauhkan dari suaminya. Sampai akhirnya suara ketukan berhasil memecah perhatian Zein.
Dia berhenti dan menghadap pintu kamar hotelnya dan membuka pintu seseorang yang di sana.
"Apa yang Papa lakukan di sini?" tanya Zein sedikit kaget menyaksikan ayahnya tiba-tiba saja di sana.
"Maaf sudah menggangu kamu dan istrimu. Oh, ya, di mana Maudy?" tanya Hendra sembari memperhatikan serta menjelajahi kamar pengantin putranya.
"Dia sedang mandi, Pah," jelas Zein berbohong. "Oh, iya. Bagaimana keadaan mama sekarang?"
Hendra langsung murung dan menatap putranya dengan tatapan yang tak mengenakkan. "Itu dia, sepertinya Mama ingin ditemani kamu malam ini. Entah kenapa dia mau memastikan sendiri bagaimana keadaanmu," jelas Hendra pelan serta perlahan.
"Sekali lagi Papa minta maaf atas apa yang terjadi. Kamu pasti kesal karena Papa sudah mengganggumu," jelas Hendra dengan wajah tak berdayanya.
"Tidak apa-apa, aku paham maksud Papa. Mama pasti kepikiran soal diriku dan pernikahanku," tebak Zein serius dan Hendra langsung menganggukkan kepalanya.
"Yasudah, kalau begitu pamitlah pada istrimu dahulu, sebelum dia salah paham, dan mencarimu," saran Hendra.
"Tidak usah, nanti aku tinggal kirim pesan pada Maudy," jelas Zein meyakinkan.
Dia tak tahu saja, kalau ternyata ponselnya tertinggal di kamar hotelnya. Sementara itu, tanpa sepengetahuan Zein. Hendra nampaknya menghela nafasnya lega.
*****