Bab 2. Simpanan Zein

948 Words
Maudy memberanikan diri keluar kamar mandi, setelah tak mendengar suara Zein selama kurang lebih setengah jam. Cukup lama, karena dia benar-benar takut dengan pembalasan yang akan dilakukan oleh pria itu. Sehingga sebelum memutuskan, Maudy sangat memastikan kepergian suaminya dari sana. "Fiuh! Ternyata laki-laki itu beneran pergi. Entah apa yang akan terjadi saat dia kembali nanti, tapi aku harus beristirahat sekarang," ucap perempuan itu sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia sudah mandi, saat menunggu dan memastikan Zein pergi dari sana. Namun, sekarang dia harus bangkit dan mengganti pakaiannya dengan setelan tidur. Barulah kemudian kembali berbaring ke tempat empuk itu. "Kalau gini kan enak. Semoga aja laki-laki itu tidak kembali!" ucap Maudy. Dia nyenyak malam ini tanpa suaminya, dan bahkan bahkan tak pernah terpikirkan akan berbaring bersama suaminya itu, apalagi sampai melakukan hak dan kewajiban sebagai suami-istri. Drrrttt-drrtt! Suara telepon membuat kelopak matanya yang sudah terpejam langsung membuka kelopak matanya lebar. "Siapa lagi yang menelepon malam-malam begini? Apa mereka tidak tahu aku capek ya?!" gumam Maudy yang tidak berbohong soal ucapannya. Dia memang lelah akibat resepsi seharian, belum lagi sepanjang acara aura Zein yang mengancam dan seperti hendak menghabisinya membuat Maudy tertekan. Apalagi yang puluhan menit lalu terjadi, Zein hampir memberinya perhitungan andai saja dia tak segera mengunci diri di dalam kamar mandi. "Sayang--ugh!" ucap seseorang yang terdengar seperti suara perempuan dengan nada sensualnya, membuat Maudy yang menjawab panggilan telepon tersebut segera melirik teleponnya. Itu tak seperti miliknya, dan setelah diperhatikan lagi, Maudy yakin itu milik suaminya. "Kamu di mana, aku sudah menunggumu di tempat biasah ughh ... kemarilah, sentuh aku di tempat favoritmu, tubuh ini merindukan belaianmuh," ucap wanita itu lagi membuat Maudy bergidik ngeri. 'Laki-laki macam apa suamiku? Dia punya simpanan atau jangan-jangan ini pacarnya. Hm, apakah inilah alasan pengantinnya kabur dari pernikahan?!' batin Maudy. "Kamu kok diam terus sejak tadi, Love. Kamu ughh ... tidak kangen padaku, hm?" 'Genit banget cewek ini. Gatal?! Ckckck, mending aku kerjain, ah!' pikirnya menyeringai. "Ah-ahh ... ugh! Lebih cepat Mas!" ucap Maudy antara jijik dan geli sendiri dengan suaranya itu. "Baby kamu lagi ngapain?" Suara wanita itu terdengar meningkat, dan walaupun tidak bisa melihatnya Maudy yakin dia pasti syok. "Ah-ahh!! Ma--sss ... sssttt!" ulang Maudy dengan suara yang lebih keras. Begitu mendengarnya lagi, wanita itu pun langsung menutup teleponnya begitu saja dan membuat Maudy langsung terbahak. "Kayaknya kapok! Hahaha, lagian kenapa jadi wanita nggak ada malu-malunya gitu!" Namun tawanya tak lama setelah menyadari sesuatu yang salah. "Sial. Kalo wanita tadi telepon buat ngajak gituan, berarti suami aku orang nggak benar dong?!" Maudy langsung menggaruk-garuk dahinya yang tak gatal. Antara miris, tapi dia sebenarnya juga tak bisa menolak pernikahan mereka. Kejadian sebenarnya tidak sesederhana yang dibayangkan. Zein menikah, ditinggal pengantinnya dan Maudy terpaksa menggantikannya. Sebenarnya semua itu sudah direncanakan sejak awal. Maudy sudah ditargetkan jadi pengantin pengganti untuk Zein. Kedua pihak keluarga tahu hal itu dan Maudy, tapi tidak dengan Zein. Karena bahkan mereka itu juga terlibat membantu pengantinnya kabur dari pernikahan. "Kamu jangan seperti ayahmu!" ucap Maudy seraya menghela nafasnya kasar dan mengusap perut ratanya. ***** Byur!! "Bangun pemalas!" teriak Zein tiba-tiba saja sudah berada di kamar. Membuat Maudy terkejut dan sontak terbangun dari tidurnya. Dia mengucek kelopak matanya sejenak, sebelum kemudian tersadar dan langsung memeluk tubuhnya lantaran kedinginan. "Hum! Baru segitu kamu sudah manja .... Bangkit dan bersiaplah. Pagi ini kita akan ketemu Mama aku!" tegas Zein serius. Maudy mengangguk dan tidak protes. Walaupun dia kesal dan ingin marah, tapi kemudian diapun berjalan masuk ke kamar mandi. Tak lupa sebelumnya Maudy membawa pakaian ganti ke sana. Tentu saja, hal itu dikarenakan adanya Zein di sana. "Kamu menyentuh teleponku semalam?!" interogasi Zein menatap penuh selidik. "Ya, dan aku bahkan masih ingat dengan jelas bagaimana wanitamu itu berbicara. Tubuh ini merindukan belaianmuh, ugh ...," ucap Maudy sembari menirukan nada bicara wanita yang semalam menghubungi suaminya. "Brengs*k, dasar perempuan tidak tahu malu. Berani-beraninya kau melakukan itu? Dasar tidak punya adab!" geram Zein langsung menghampiri Maudy. Menyadari hal itu Maudy pun segera menghindar, dan membela diri. "Lalu aku harus bagaimana. Teleponmu sangat berisik, dan aku hampir tidak bisa tidur karenanya?" 'Ckckck, tapi sebenarnya aku juga tidak terlalu menyesal melakukannya. Karena dengan begitu aku tahu kamu laki-laki macam apa,' batin Maudy melanjutkan. "Lain kali tidak usah tidur, aku paling tidak suka barang-barangku disentuh. Terlebih lagi oleh wanita sepertimu!" balas Zein menusuk. Maudy segera mengusap dad*, dia bukan tidak tersinggung, tapi mengebalkan perasaannya. "Baiklah. Lain kali aku tidak akan menyentuhnya, tapi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu pada teleponmu!" "Memangnya kau mau melakukan apa?!" tanya Zein sedikit sarkas. 'Melempar batu, sekalian supaya teleponmu berhenti beroperasi!' batin Maudy sambil melirik suaminya sinis. Namun, dia memilih tak mengatakannya langsung, sebab dia tebak mereka akan berdebat lebih hebat seterusnya, jika dia melakukannya. "Cih!! Awas saja jika kau berani macam-macam. Ingat statusmu, kau cuma pengganti dan selamanya akan terus begitu!" cibir Zein cukup kejam. "Aku ingat dan akan mengingatnya sampai mati, lagi pula siapa yang mau serius jadi pengantinmu. Lihatlah, buktinya saja perempuan itu kabur. Hanya aku yang bernasib sial!" balas Maudy tak tahan. Namun, dia segera merutuki ucapannya. Bukan karena tak pas, tapi baru saja dia memancing pertikaian di antara mereka. Padahal sebelumnya dia sudah mencoba menghindarinya. Hal itupun membuat Zein menyambar lengannya, dan kali ini berhasil, sebab Maudy tak siap menghindar. Pria itu sontak mencengkram rahang istrinya dengan kuat, disertai dengan tatapan tajamnya. "Tutup mulutmu, Jalang, atau lain kali aku yang akan menjahitnya!" geram Zein. Bersamaan dengan itu dia segera mendorong dan menepis wajah istrinya dengan kasar. Maudy terhuyung dan hampir saja terjatuh, tapi beruntunglah dia berhasil menyeimbangkan tubuhnya. Menyaksikan hal itu, Zein terlihat datar. Enggan merasa bersalah ataupun sebaliknya. "Cepatlah! Aku tidak mau mama menunggu kita terlalu lama," lanjut pria itu seolah tidak terjadi apa-apa. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD