Bab 3. Dijual

1169 Words
"Ini kamarmu mulai sekarang!" ucap Zein dengan wajah datar dan hampir tanpa ekspresi sama sekali. Maudy melirik dan segera meremas ujung bajunya sendiri. Kamar macam apa yang Zein tunjukkan, jelas itu bukan kamar melainkan ruangan penyimpanan barang yang tidak terpakai, atau tepatnya gudang. "Kenapa melihatku seperti itu, apa ini tidak sesuai ekspektasi-mu? Kau berpikir dengan menikah denganku, kau bisa menikmati hidup enak dan menjadi nyonya kaya? Pamer dan hidup mewah? !" cibir Zein yang kali ini menunjukkan ketidaksukaannya. "Aku bukan wanita seperti itu!" tegas Maudy terus terang. "Sayang sekali aku harus mematahkan harapanmu, dan biar aku katakan apa posisimu di sini. Istri itu cuma status, karena aku tidak akan pernah menganggap atau sudi mempunyai istri sepertimu!" lanjut Zein mengabaikan perkataan Maudy. "Kau benar-benar perempuan tak tahu malu, setelah semua kebaikan keluargaku kau malah seperti ini. Mengambil kesempatan dan aku yakin ingin menguasai semua harta keluargaku!" tambah Zein tanpa perasaan. Maudy pun tak tahan dan segera membalas suaminya itu dengan tatapan tak terima. "Aku hamil!" ungkap wanita itu langsung membuat Zein tampak syok. "Ya, aku hamil," jelas Maudy mengulang kalimatnya. "Dan sebenarnya aku tidak tertarik dengan apa yang kau bicarakan. Pernikahan ini atau apapun itu termasuk hartamu." "Asal kamu tahu saja aku bisa mencari uang sendiri, dan aku tidak butuh kamu, atau apapun yang kau miliki. Namun, keluargaku berhutang budi, om Hendra dan tante Utari meminta bantuan dan keluargaku tidak berdaya menolaknya. Apa kau paham?!" Maudy geleng-geleng kepala. Dia tahu Zein pasti tidak mau tahu hal itu, sebab dia sudah cukup kenal suaminya itu lewat cerita ibu mertuanya. Pria egois, pemaksa, dan keras kepala. "Aku juga tertekan dengan pernikahan ini, bahkan sangat dirugikan. Apa kau tahu bagian paling mirisnya, 'aku cuma pengantin pengganti!' Tapi aku hamil, dan aku tidak peraw*n dan itu semua gara-gara kamu!" bentak Maudy melepaskan uneg-unegnya. Namun, bukannya mendapatkan pengertian dia justru mendapatkan sesuatu yang tidak terduga. Plak! "Jadi ini alasan terbesarmu menyetujui pernikahan, kau ingin aku bertanggung jawab atas anak harammu?!" bentak Zein segera mencengkram leher Maudy. "Di--a juga hadir karena ke--lakuan bejatmu, brengs*k!" balas Maudy emosi meskipun dia harus terbata saat melakukannya. Zein semakin marah dan mengencangkan cengkeramannya. Dia bahkan mendorong Maudy hingga terhimpit ke dinding dan menatap nyalang. "Kau pikir aku tol*l, kita cuma sekali melakukannya mustahil kau hamil. Di dalam kandunganmu pasti benih laki-laki lain!" ucap Zein enggan mengakui. "Kau sendiri tahu, kau yang pertama bajin*an!!" geram Maudy membalas Zein. Dia bukan perempuan lemah, hingga detik berikutnya dia membalas dengan hal yang tidak Zein duga. Brugh! "Ughh ... Ssstt! Wanita sial*n!" umpat Zein sembari merasakan sakit di bagian intimnya. Ternyata Maudy barusan menyikunya dengan lutut dan cukup keras. Dia terlepas setelahnya dan menatap suaminya dengan puas. "Rasakan itu pria brengs*k! Kamu pikir aku ini wanita seperti apa? Kemarin malam sudah membuktikan semuanya, teleponmu tertinggal dan simpananmu menelepon ke sana. Jadi, jika ada yang murah*n maka itu kamu!" Maudy melirik suaminya, meringis melihat Zein yang tengah mengusap-usap milik pribadinya. "Apa aku terlalu kuat menendangnya?" tanya Maudy tiba-tiba merubah nada suaranya. Zein langsung menatap tajam, tapi Maudy seakan tidak ada takutnya. "Wanita sial*n!!" geram Zein sambil menahan sakit dan juga ngilu yang sulit dijelaskan. Dia hendak meraih Maudy dan membalasnya, tapi wanita itu malah ke gudang dan menutup pintunya. Blam! "MAUDY!!" teriak Zein kali ini benar-benar kencang. ***** "Huftt ... untung saja aku masih bernasib baik. Entah apa yang akan dia lakukan jika tadi aku tertangkap ...." Maudy segera duduk dan bersandar untuk menghilangkan lelah serta ketegangan yang baru saja dihadapinya. "Baru sehari semalam menjadi istrinya sudah seperti ini," keluh Maudy sambil menatap ke sekitar. Dia akhirnya sadar jika benda dan barang-barang di sana masih baru. Perabotan yang disimpan bukan karena tidak bisa digunakan, tapi mungkin alasan lain. Bersamaan dengan itu dia terbayang soal ucapan ibu mertuanya pagi tadi sebelum mereka ke sana. Utari memberitahunya, kalau Zein baru saja selesai membangun rumah baru untuk mereka huni, dan wanita paruh baya itulah yang memaksa Zein membawanya tinggal di sana. Sebenarnya Zein sempat menolak, sebab rumah tersebut direncanakan olehnya untuk ditempati oleh dia dan istrinya yang seharusnya. Yaitu, pengantin yang melarikan diri dari pernikahan, tapi sekarang justru bersama Maudy, dia menempatinya. Semua itu tak lepas dari kondisi ibunya yang sakit, sehingga Zein tak berdaya menolaknya. "Tidak buruk juga. Baiklah, aku akan membersihkan tempat ini dan membuatnya menjadi kamar yang nyaman," ucap Maudy menyemangati dirinya sendiri. Setelah cukup beristirahat, diapun segera melakukan rencananya. Menyusun barang-barang yang benar-benar tak bisa dipakai, kemudian menata yang bisa dipakai. Seperti tempat tidur, sofa dan sebagainya. Maudy tidak mengerti apa alasan Zein menaruhnya di gudang, tapi mungkin barang-barang tersebut tak sesuai selera pria itu sehingga dia tak jadi memakainya. Drrtt! Teleponnya berbunyi sesaat setelah dia baru saja menyelesaikan urusan berbenah ruangan. Maudy memeriksa, dan ternyata itu dari sahabatnya. Jihan. "Hilda udah kembali, Dy. Kayaknya dia udah puas menghabiskan uang hasil menjual tubuh kamu. Aku melihatnya kembali ke kontrakan lamanya, ayo aku temani kamu melabrak wanita j*****m itu," jelas Jihan membuat Maudy mengepalkan tangannya. Perempuan bernama Hilda itulah yang menjadi penyebab dirinya serba salah, dan sekarang hamil anak suaminya sendiri, yang hadir sebelum pernikahan. Flashback "Tenang saja, Maudy. Aku juga bekerja di kelab malam itu dan tak terjadi apa-apa sampai sekarang. Gajinya besar dan semua pekerja di sana sangat dilindungi. Kamu tahu sendiri tempat hiburan malam seperti apa itu? Penghuninya hanya kalangan atas," bujuk Hilda merayu Maudy. Saat itu memang dia sedang dilanda masalah keuangan. Adik laki-lakinya tanpa sengaja menabrak seseorang saat balapan, dan membuat keluarganya harus membayar ganti rugi yang cukup besar. Mau tak mau, Maudy pun mencari pekerjaan tambahan, dan Hilda memberinya tawaran yang menggiurkan. Gaji besar, tapi menurut Maudy pekerjaan itu berisiko cukup besar sehingga dia masih ragu. "Aku cari yang lain saja, Hilda. Nggak masalah gajinya tidak sebesar itu, yang terpenting bisa membayar ganti rugi yang dilakukan Devin adik aku," jelas Maudy. "Yaampun, Maudy. Memangnya mau kerja apaan. Kamu saja di restoran ini hampir seharian, tempat kerja mana yang menerima kamu yang cuma punya waktu sore sampai malam?!" balas Hilda cukup sarkas. Membuat Maudy menimang kembali ucapan teman kerjanya itu dan berpikir lagi. "Sudah, cobalah semalam. Tidak ada salahnya. Toh, kalau tidak cocok kamu bisa berhenti," lanjut Hilda membuat Maudy pun akhirnya setuju. Dia akhirnya bekerja malam itu juga, setelah selesai dari restoran. Maudy dan Hilda berangkat bersama, tapi di tengah jalan Hilda menawarkan minuman padanya dengan sedikit memaksa dan membuat Maudy curiga. Dia menolak, tapi Hilda bersikeras. Mau tak mau diapun meneguknya. Beberapa menit kemudian, Hilda pamit ke toilet dan meninggalkan Maudy sendirian di dalam salah satu ruangan yang ada di kelab malam tersebut. Perasaan Maudy tak tenang sendirian di sana dan mengikuti temannya itu. Namun, dia justru menemukan fakta kejam, kalau ternyata Hilda baru saja menjualnya pada p****************g. "Aku tidak menyangka kamu seperti ini, Hilda. Kamu bilang aku cuma jadi pelayan, tapi apa maksudmu di telepon itu, kau bicara dengan siapa?!" Hilda panik dan sangat syok, tapi dia juga tidak mau rugi. Dia bersikeras tetap ingin melakukan niatnya itu. "Sudahlah, Maudy nanti kamu juga enak. Lagian uangnya banyak. Nikmati saja dan jangan munafik!" Flashback off *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD