"Maafkan aku, Dy. Aku benar-benar nggak ada maksud kayak gitu sama kamu. Hiks-hiks ... kamu tahu sendiri gimana hidup aku, aku janda dan anak aku butuh uang yang banyak buat berobat. Aku terpaksa," jelas Hilda dengan wajah yang menyedihkan.
Namun, Maudy tetap tak terima. Bukannya tidak kasihan hanya saja dia punya nasib buruknya sendiri dan bukan tugasnya juga berkorban demi kehidupan rekan kerjanya.
"Aku kasihan sama anak kamu, aku juga bisa bantu sedikit semampu aku, tapi Hilda tidak berarti kamu berhak menjualku!" Maudy melirik dan ternyata beberapa rekan kerjanya di restoran sudah tiba lebih seperti mereka.
"Teman-teman dengar bukan, wanita ini hampir menjualku tiga minggu lalu dan bukan tidak mungkin dia melakukan hal yang sama pada kalian. Jadi, waspadalah untuk tidak pernah tergiur tawaran pekerjaan tambahan darinya!" ucap Maudy menaikkan nada suaranya.
Siapa yang baik-baik setelahnya. Di jual dan meskipun berhasil kabur dari si tua bangka, Maudy tetap saja hamil gara-gara insiden tersebut. Dia keluar dari lubang buaya, tapi alih-alih selamat dia justru masuk ke kandang singa.
Lebih tepatnya malam itu Maudy yang masih dalam kondisi pengaruh obat p*rangsang. Hendak berlindung dengan bersembunyi di sebuah ruangan. Namun, dia justru bertemu bajing*n yang saat itu dalam kondisi setengah sadar, dan bajing*n itu adalah suaminya sendiri saat ini.
Membayangkan kejadian itu, Maudy membuang nafasnya kasar. Sudah berlalu, tapi sesak dan batinnya masih saja dalam tekanan.
"Cih, aku juga udah duga sih Hilda kayak gitu. Kamu laporkan saja Maudy ke polisi supaya dia kapok!" ceplos salah satu rekan kerjanya.
"Aku juga ingin melakukan itu, tapi tidak ada bukti yang kuat untuk membuatnya masuk penjara. Intinya kalian hati-hati saja dengan Hilda, dan tidak usah tergiur dengan tawaran pekerjaan tambahan darinya," jelas Maudy yang sangat disayangkan oleh rekan kerjanya itu.
"Benar itu, untung saja waktu itu aku tolak soalnya dia juga pernah menawarkan hal yang sama dan sedikit memaksaku," jawab salah satu teman kerjanya.
"Muka saja yang polos, tapi hati iblish!" umpat rekan kerjanya yang lain.
Mendengar itu, Hilda mengeram kesal, namun tak berdaya untuk membalas. Akan tetapi, dia segera bersumpah pada dirinya sendiri untuk memberi perhitungan pada Maudy, bagaimanapun caranya.
*****
Siang itu Maudy sedang bertugas mengantar makanan ke meja pelanggan. Tanpa dia ketahui, Hilda yang sudah dendam padanya langsung menyeringai.
"Bos tidak mungkin menyalahkan chef, karena dia lebih lama dan sangat berpengalaman, tapi pasti menyalahkan kamu Maudy!" ucap Hilda seraya tersenyum licik.
Dia segera menghampiri hidangan yang akan diantar pada pelanggan. Tepat saat Maudy sedang pergi dari sana. Mengeluarkan sesuatu dari kantongnya kemudian menyembunyikannya di dalam makanan itu.
"Setelah ini kau pasti dipecat. Kita liat apa nggak frustasi kamu. Hahaha! Aku yakin lama-lama nggak kerja kamu sendiri bakalan mengemis buat jadi jal*ng dengan sendirinya!"
Buru-buru Hilda pergi dari sana dan bersembunyi. Dia menyaksikan semuanya dadi Maudy mengantarkan pesanan ke meja pelanggan hingga kejadian yang diinginkan olehnya.
*****
"Maudy kamu dipanggil manager ke ruang kerjanya!" ucap Jihan sahabatnya yang juga bekerja di sana.
Maudy pun sontak terkejut dan mengerutkan dahi. Sekelebat pikiran buruk disertai perasaan tak mengenakkan membuatnya sedikit takut. Dia tak pernah dipanggil atasannya sebelum ini, tapi wanita itu dalam keraguan dan firasatnya segera menurut. Menjumpai atasan di sana.
Sebelum masuk dia mengetuk dan minta izin dengan sopan, akan tetapi setelah dipersilahkan Maudy langsung kaget dan syok menghadapi siapa yang di sana.
"Oh, jadi kamu kerja di sini dan tadi itu ulah kamu?!" ucap Zein yang ternyata ada di sana, selain manager Maudy.
Dia ternyata adalah pelanggan yang menjadi korban, tapi kini salah paham dan berpikir Maudy sengaja.
"Apa maksudnya?" Maudy beralih pada atasannya dan menatap sambil geleng kepala. "Pak saya tidak mengerti?"
Menager itu terlihat menghela nafasnya dengan kasar dan menatap Maudy dengan kesal. "Kamu tidak usah pura-pura tidak tahu alasan mengapa kamu dipanggil ke sini. Kamu sudah merugikan pelanggan!"
"Dan kau sengaja melakukan itu. Memasukkan kecoa ke dalam makanan karena kau tahu itu pesananku!" tambah Zein sedikit berteriak. "Wanita sialan!!"
"Jelaskan apa motifmu melakukan itu, apalagi pada pelanggan istimewa kita Pak Zein?" tanya atasannya sambil membentak.
Melirik pada sosok suaminya yang ternyata menatap balik padanya. Namun, tatapan pria itu tak jauh beda dengan tatapan yang dilakukan oleh menagernya. Zein seakan ingin menguliti dan membuat Maudy merinding.
"Saya tidak melakukan ini, Pak dan--" Maudy menjeda kalimatnya, sekali lagi meneguk ludahnya kasar. Dia beralih dan menatap suaminya. "Tolong percaya padaku! Aku tidak sekeji itu untuk menaruh kecoa pada makananmu!"
Menatap ekspresi Maudy yang meyakinkan, sebenarnya hati Zein sedikit luluh, namun dia segera terbayang kejadian sebelum pernikahan. Maudy dengan mudah setuju pada perkataannya, tapi dihadapan keluarga mereka wanita itu justru berkhianat.
"Pecat wanita ini sekarang juga! Aku tidak suka melihatnya bekerja di sini, atau aku akan membawa masalah ini ke jalur hukum!" ucap Zein seperti petir di siang bolong yang menyambar Maudy.
"Tidak!" Maudy langsung menghampiri suaminya reflek berusaha meraih lengannya dan menggelengkan kepala. "Aku mohon jangan lakukan ini, aku masih butuh pekerjaan ini!"
"Sekarang kau baru mengemis meminta pengampunan padaku, tapi apa kau tahu apa yang aku alami?!" bentak Zein sambil mendorong Maudy menjauh.
Sial, dia malah terbayang kejadian beberapa saat lalu. Kejadian ketika Zein menyantap makanannya. Sebenarnya dia menemukan kecoa tepat saat mengigitnya dan merasakan hal yang aneh. Zein yang curiga langsung memeriksa, dan menemukan kecoa yang sudah terpotong oleh giginya.
"Gara-gara kejadian ini nafsu makanku jadi hilang. Entah sampai kapan aku dalam bayangan buruk itu!" geram Zein seraya merasakan jijik luar biasa terhadap apa yang sudah terjadi.
Di sempat muntah sebelumnya, dan sekarang perutnya kembali terasa dililit akibat mengingat kejadian itu.
"Tapi aku tidak melakukannya sama sekali, kita bisa cek CCTV di dapur, dan kalian bisa memeriksanya sekarang," ucap Maudy yang akhirnya terpikirkan solusinya.
Zein terdiam untuk sesaat menatap binar mata istrinya yang serius. Melihat keyakinan Maudy, Zein sadar dia bukan pelakunya.
"Baiklah kita akan memeriksa rekaman pengawasan dari CCTV, tapi jika sampai terbukti kau harus membayar denda kerugian atas apa yang terjadi karena ulahmu itu!" tegas atasan Maudy.
Mendengar itu hampir saja Maudy lega, tapi kemudian Zein menyela. "Tidak perlu bukti, bagiku kau tetap menjadi pelakunya, dan aku tetap akan menuntut restoran ini jika wanita ini tidak dipecat!!"
*****