Menghapuskan Ancaman

1059 Words
Suara kunci diputar perlahan, memecah Kesunyian malam yang nampak sepi menciptakan dentingan lobam yang merambat di sepanjang koridor rumah. suasana semakin tegang seolah-olah waktu Berhenti sejenak untuk memberikan tempat pada suara itu. Dreaaatt! Dengan Gemerincing yang lembut pintu terbuka perlahan, suaranya menghidupkan kembali ruangan yang sebelumnya sunyi dan penuh kedinginan. Angin Malam membawa kelembutan pada suara pintu yang bergeser di engselnya, memberi sentuhan lembut pada kehilangan yang mendominasi ruang tamu. Di ruang tamu yang remang-remang mengandalkan cahaya yang terpancar dari ruang keluarga dengan lembut menerangi sudut-sudut ruangan yang dipenuhi bayangan, menciptakan suasana penuh misteri. perabotan yang terlihat seperti patung-patung bisu menantikan sesuatu yang terungkap. Dalam Kesunyian, Akmal kembali menutup pintu ruang tamu kemudian memindai keadaan sekitar mencari keberadaan pemilik rumah. setelah merasa aman Akmal mulai berjalan dengan perlahan tanpa menimbulkan suara menuju ke ruang keluarga. suara dengkuran dari kamar utama semakin terdengar begitu nyaring, membuat suasana semakin menegangkan. "Pasti kalian tidur dengan nyenyak, telah menyantap makanan yang sudah dicampur dengan obat tidur." umpat Akmal sambil menundukkan tubuhnya di atas kursi yang berada di ruang tamu, nampaknya dia tidak ingin tergesa-gesa menikmati setiap momen yang mendebarkan. Akmal yang sejak dari tadi memantau rumah Shakila, dia belum sempat memasukkan makanan ke dalam perutnya. ketika melihat ada sebuah roti yang berada di atas piring tanpa ragu dia pun mengambil selalu membuka plastiknya. "Lumayan untuk mengganjal perut!" gumamnya sambil melahap roti itu seperti di rumah sendiri. Tangan Akmal mengambil laptop yang tadi sudah ditutup kembali oleh Rinto, kemudian dia menyalakannya tanpa terlihat raut ketakutan sedikitpun. sambil menunggu booting Akmal kembali bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan mendekat ke arah pintu kamar utama. dia menempelkan telinganya ke daun pintu untuk mendengarkan apa yang terjadi di dalam. "Suara yang mendengkurnya dua orang, berarti mereka sudah tertidur dengan lelap." gumam Akmal sambil memutar handle pintu kebetulan pintunya tidak terkunci. "Memang benar-benar ceroboh kalian. tapi tidak apa-apa ini memudahkan pekerjaanku." lanjutnya sambil mendorong pintu itu ke dalam, terlihatlah Ada dua sosok orang yang tertidur dengan pulas, dengkuran mereka saling bersahutan seperti sedang berkompetisi. Melihat hasil kinerja yang begitu memuaskan, kedua sudut bibir Akmal terlihat terangkat ke atas. dia berjalan dengan perlahan menuju ranjang, matanya tetap memindai ke arah dua orang yang masih tergeletak, berhati-hati menerima segala kemungkinan. Kala itu Shakila hanya mengenakan baju tidur dengan bawahan celana pendek, memamerkan paha mulus dan putih membuat jakun Akmal terlihat naik turun seperti ingin merekamnya. "Kalau kamu tidak menghianati, mungkin tubuhmu yang mulus ini sudah menjadi milikku." ujarnya sambil menurunkan celana Shakila yang sedikit naik. Dengan santainya Akmal pun duduk di tepian ranjang, matanya terus memindai tubuh Shakila yang begitu menggairahkan, di bagian d**a terlihat dua bola besar yang menggantung, membuat Akmal ingin meremasnya. namun dia sadar tujuannya datang ke situ bukan untuk melakukan hal kurang ajar, namun ingin memberikan pelajaran kepada kedua orang yang sudah menyakitinya. "Wajahmu adalah paduan elegan antara keanggunan dan kemewahan, Matamu seperti dua permata yang berkilau mampu mencerminkan keindahan seluruh dunia, rambutmu yang panjang berkilauan seolah mengalir seperti sungai emas, menambah Pesona keindahan yang selalu ada saat kamu berada di antara orang-orang." Puji Akmal sambil menggeserkan rambut yang menutupi wajah Shakila. Namun sayang kecantikanmu tidak berbanding dengan sikapmu yang sangat jahat, yang memanfaatkanku dengan pengkhianatan. kamu sudah mengerjaiku untuk melenyapkan suamimu dan kau hidup bahagia bersama pria lain. memang benar-benar Wanita berhati iblis...!" lanjut Akmal dengan merubah raut wajahnya yang semula tersenyum kini datar kembali. Plak! Satu tamparan di daratkan oleh Akmal ke arah wajah Rinto, dia yang merasa gemas dengan Shakila namun tidak berani menyakiti seorang perempuan hingga akhirnya Rinto lah yang menjadi korban. Orang yang ditampar tidak memberikan respon sedikitpun, hanya mengusap bekas tamparan kemudian dia mendengkur kembali dengan begitu kencang, seolah tidak merasakan rasa sakit sedikitpun. Akmal memindai keadaan sekitar yang terlihat remang-remang, karena hanya lampu tidur yang dinyalakan, sambil tetap mengelus wajah Shakila seperti sangat menyayanginya. "Ternyata di sini rupanya!" ujar Akmal yang melihat sebuah kabel charger handphone yang melintas masuk ke bawah bantal milik Shakila. Akmal pun menelusurinya Sampai akhirnya dia menemukan sebuah handphone, Akmal menekan tombol power untuk menyalakan layar terlihat backgroundnya foto seorang wanita cantik. Tanpa membuang waktu Akmal pun mengambil tangan Shakila, kemudian menempelkan ibu jarinya ke fingerprint untuk membuka kunci layar. setelah itu dia pun membuka galeri foto untuk mengecek bukti-bukti yang masih disimpan oleh Shakila, Namun ternyata di handphone wanita itu tidak ada barang yang dia inginkan. Akmal pun tertegun sebentar memikirkan apa yang akan dilakukan dengan handphone Shakila. Sampai akhirnya seutas senyum tersirat di bibir, kemudian dia mengetikkan sesuatu lalu mengirimkan ke nomor handphonenya. setelah pesan terkirim, pesan pun dihapus kembali namun hanya untuk sendiri bukan untuk semua orang, sehingga Akmal masih bisa melihatnya. Setelah tidak menemukan apa-apa Akmal, kembali menyimpan handphonenya ke tempat semula. bahkan dia memasukkan kembali charger handphone ke port agar tidak menimbulkan kecurigaan. Akmal kembali mengitari ranjang menuju ke sebelah Rinto yang tertidur dengan terlentang, tangannya ditindih oleh Kepala, memamerkan d**a yang begitu bidang. melihat Rinto tertidur dengan pulas kedua sudut bibir Akmal pun kembali terangkat. Plak! Satu tamparan kembali mendarat di wajah Rinto, namun dia yang masih terpengaruh oleh obat tidur tidak terlalu memperdulikannya, membuat Akmal menambah kembali dengan satu tambalan. "Makanya jangan sok jago, kalau sudah begini kamu tidak bisa apa-apa kan? untung aku orangnya sangat baik kalau tidak kucekik lehermu." ujar Akmal sambil meletakkan kedua tangan di atas leher Rinto seolah mengukur lingkarannya. Plak! Akmal tidak jadi mencekik Rinto, dia mengelus rambut pria yang sudah mencuri kekasihnya, kemudian ditampar dengan begitu kencang, membuat Akmal semakin leluasa menyiksa orang yang sudah menyakitinya. Pria introvert itu mengambil handphone yang berada di atas nakas, kemudian menekan fingerprint dengan ibu jari milik Rinto, sampai akhirnya kunci layar pun terbuka. dengan leluasa Akmal mencari foto-foto yang dijadikan barang bukti tangan yang kanan sesekali terus menampari pria yang masih tertidur dengan lelap. Setelah menemukan foto-foto yang dijadikan ancaman, Akmal pun menghapus satu persatu agar mereka tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengancamnya. "Beres...! semuanya sudah beres. semoga saja kalian bisa sadar dan meminta maaf, karena pintu maaf ku akan tetap terbuka, walaupun kalian sudah menyakitiku dengan Tanpa Rasa perikemanusiaan." gumam Akmal sambil meletakkan kembali handphone milik Rinto, namun matanya sedikit tertarik dengan kunci mobil yang berada di samping handphone. Akmal merenung kembali seperti sedang mencari cara untuk melanjutkan balas dendam, sampai akhirnya dia pun mengambil kunci mobil milik Rinto, lalu keluar dari kamar melewati ruang keluarga yang terlihat laptop yang tadi dinyalakan sudah menyala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD