Akmal keluar kembali dari rumah Shakila dengan mengunci pintunya, menggunakan kunci duplikat. suasana di luar terlihat remang-remang tersinari oleh cahaya lampu jalan yang redup. Gemerincing gemerimis hujan menyalip diantara daun-daun pepohonan, menciptakan suara penuh kemisteriusan, namun tidak menurunkan niat Akmal untuk menyelinap masuk ke dalam heningnya malam.
Akmal menuju mobilnya kembali, kemudian mengambil alat-alat yang sudah sejak dari kemarin dia siapkan, lalu menekan tombol unlock yang ada di remote mobil Rinto.
Tin...! tin....! tin......!
Suara berisik itu Terdengar sangat mengagetkan, bahkan Akmal sedikit terperanjat, soalnya mobil yang ia cari berada tepat di belakang. dengan mengulum senyum Akmal mendekat ke arah mobil berwarna merah lalu membuka pintunya.
Ceklek!
Kunci kap mesin pun terbuka, Akmal berlari ke arah depan untuk mengecek bagian mesin mobil milik Rinto, dengan membawa peralatan yang tadi ia ambil dari mobilnya. setelah kapnya terbuka Akmal menyalakan handphone untuk melihat setiap detail mesin dengan penuh perhatian memeriksa setiap yang ia butuhkan.
"Hati-hatilah kalau kalian berkendara!" gumam Akmal sambil melepas salah satu selang Menggunakan kunci pas.
Akmal dengan leluasa bekerja sendirian, orang-orang yang Sudah terlelap dan terbuai oleh mimpinya seperti tidak mempedulikan apa yang dilakukan oleh orang asing yang menyelinap masuk ke dalam perumahan, atau mungkin mereka tidak mau mencampuri urusan orang lain. keringat dingin mulai membasahi dahi mengistirahatkan pekerjaan yang sedang ia lakukan begitu melelahkan.
"Beres juga pekerjaannya!" ucap Akmal sambil menutup kembali kap mesin, kemudian ia masuk ke dalam mobil lalu menyalakannya. dia mulai mencoba menginjak menginjak pedal rem untuk diperiksa. setelah sesuai dengan yang ia inginkan, dia pun keluar kembali dengan wajah yang terlihat penuh kepuasan.
"Sudah aku bilang kalian harus minta maaf, tapi kalian tetap menginginkan ini. rasakanlah pembalasanku...!"gumam Akmal sambil kembali memasuki gerbang kemudian masuk ke dalam rumah Shakila untuk menyimpan kunci mobil ke tempat semula.
Plak!
Sebelum pergi meninggalkan kamar Akmal melayangkan kembali satu tamparan ke arah wajah Rinto yang masih tertidur dengan begitu lelap, akibat obat yang dicampurkan. matanya kembali memindai kedua wajah orang yang sudah menghancurkan hidupnya, seolah tidak percaya kekejian yang mereka lakukan di mana sudah memanfaatkan dirinya untuk membunuh orang lain.
Setelah puas memandang, Akmal tidak jadi meluruskan niat untuk keluar dari kamar dia malah naik ke atas ranjang, kemudian membaringkan tubuhnya diantara Shakila dan Rinto, matanya menatap ke arah atas seolah menunjukkan bahwa dialah pemenangnya.
"Kalian sudah salah memilih lawan tanding, ingat yang kulakukan sekarang ini hanyalah peringatan supaya kalian sadar dengan siapa kalian berurusan, karena kalau aku menginginkan aku bisa melenyapkan kalian berdua seperti yang sudah kulakukan terhadap Ramlan." ancam Akmal dengan wajah datarnya, wajah yang tidak bisa ditebak Apa isi di dalam hatinya, karena sesekali wajah itu terlihat tersenyum namun sesekali wajah itu berubah menjadi es seperti banyak rahasia Terpendam di dalamnya.
Akmal kembali membangkitkan tubuhnya sebelum pergi dia pun kembali melayangkan tamparan ke arah wajah Rinto untuk terakhir kalinya, kemudian dia pergi meninggalkan kamar tak lupa menutup pintunya kembali agar mereka tidak curiga.
Sesudah berada di ruang tamu, Akmal pun duduk di kursi yang menghadap ke arah laptop, tangannya mulai kembali mengambil roti yang masih belum dihabiskan. dia mulai menelusuri folder dan file dengan penuh kesabaran, jarinya menari di atas touchpad laptop untuk menggeserkan kursor, suara ketukan ringan pada keyboard menjadi musik kecil yang mengisi keheningan ruang tamu.
"Ngakunya aja pinter, tapi kalian memang benar-benar ceroboh. sehingga kalian tidak pernah membackup data-data penting di perangkat yang lain." ungkap Akmal yang tidak menemukan foto foto dirinya ketika mengintai rumah Ramlan.
Akmal terus menelusuri setiap folder-folder yang berisi foto ataupun video, sampai akhirnya kedua sudut bibirnya tersenyum kembali karena dia menemukan banyak hal untuk membalas kebiadaban Shakila. tampak ada rasa ragu dia mulai mengkonekkan jaringan internet melalui wi-fi yang berada di rumah itu, setelahnya dia membuka aplikasi sosial media lalu memposting sebuah foto di akun milik Rinto dengan caption yang begitu luar biasa.
"Cukup segini aja dulu, Nanti kalau kalian masih belum paham maka aku akan kasih pelajaran tambahan." gumamnya sambil mematikan laptop kemudian menyimpannya ke tempat. plastik bekas pembungkus roti tak lupa ia masukkan ke dalam tong sampah yang berada di pojok ruangan.
Usai melakukan semuanya, Akmal pun dengan leluasa dia keluar dari rumah Shakila tanpa ada yang mencurigai. Angin sepoi-sepoi menyambutnya seolah mengucapkan Selamat atas keberhasilan yang sudah ia lakukan, sebelum pergi tak lupa Akmal pun mengunci pintunya kembali.
Gerimis malam masih membasahi bumi, saat Akmal berjalan menuju mobil yang terparkir di tepi jalan, cahaya lampu perumahan yang redup menambah kengerian sifat Apa yang sedang dimainkan oleh pria introvert itu.
Setelah berada di dalam mobil, Akmal mulai menyalakan mesinnya kemudian pergi meninggalkan Perumahan Sentosa. di perjalanan Dia terlihat Merenung mencerna kembali momen-momen yang baru saja ia lewati, mencari kekurangan-kekurangan yang mungkin bisa menjadi bumerang terhadap dirinya.
"Semua sudah dilakukan dengan begitu rapi. aku tinggal menunggu hasilnya saja. Apakah mereka akan bernasib sama seperti Ramlan atau ceritanya masih panjang." ungkap Akmal dengan mata yang tetap terfokus melihat ke arah jalan. ketika ada sebuah hotel yang memiliki parkiran yang luas Akmal pun menyimpan kembali mobil itu di sana, dilanjutkan dengan memesan taksi online untuk Mengantar ke rumah.
Setelah membersihkan tubuh. seperti biasa Akmal akan mengajak sahabatnya untuk bercerita. kala itu dia tidak duduk di sofa dia membaringkan tubuhnya di atas kasur, di dadanya ada Robi yang sedang mengunyah makanan yang terus diberikan oleh Akmal.
"Orang sombong seperti mereka memang layak diberikan pelajaran. Apa susahnya kemarin dia mau minta maaf, supaya kejadian buruk malam ini tidak menimpanya." cerita Akmal sama kura-kura yang terlihat Acuh dengan makanannya.
*****
Di tempat lain, Shakila masih tertidur dengan lelap. nafasnya yang teratur dan tenang menciptakan suara di keheningan malam, lampu kamar yang redup memberikan cahaya lembut memancar ke sekitar, menciptakan suasana damai. wajahnya yang pulas tidak sedikitpun menunjukkan kekhawatiran, namun ketika hendak mendekati subuh mungkin kira-kira waktu pukul 03.00 pagi. Sakila mulai terlihat gelisah tangannya mulai bergerak gerak tanpa henti, menggaruk-garuk wajah yang terasa gatal.
Namun, semakin lama menggaruk rasa gatal tidak sedikitpun berkurang yang ada semakin terasa panas, karena tidak sadar kalau dirinya sudah sedikit melukai kulit wajah. perlahan matanya mulai terbuka kemudian memindai keadaan sekitar yang terlihat samar, pikirannya difokuskan mencari kebenaran Apa yang sebenarnya terjadi. tangannya masih tetap menggosok-gosok pipi yang terasa panas.
Dengan Sempoyongan, Shakila turun dari atas ranjang, menyalakan lampu kamar mandi kemudian masuk ke dalamnya. dengan wajah yang masih dipenuhi rasa kantuk dia membuka mata menatap ke arah cermin.
Agrhhhh!
Teriaknya memecah keheningan malam, dia tidak menyangka kalau wajah yang sangat Ia agungkan sekarang berubah menjadi merah menyala, disertai dengan bintik-bintik gatal yang tidak terasa nyaman, matanya sedikit bengkak bahkan tidak nyaman untuk dibuka, terganggu oleh sensasi gatal yang terus-menerus menyebar di area wajah.
Setelah mengetahui apa yang terjadi, dengan langkah tergesa-gesa dia keluar dari kamar mandi, membuka lemari besar tempat penyimpanan P3K. raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan karena rasa gatal semakin tak tertahankan.
"Sial, sial....! kenapa obat anti alergi ku habis. ini gara-gara si Ramlan yang sering mengajakku berantem, sehingga aku lupa restock obat alergiku. sudah mampus aja kamu masih merepotkan, dasar sampah!" umpat Shakila sambil berlari menuju ke arah Rinto yang masih tertidur lelap di ranjang.
"Kenapa kamu Sayang, kenapa?" tanya Rinto yang melihat kekasihnya diliputi kepanikan.
"Antar aku ke rumah sakit...! buruan......!"