Tidak Menyerah

1089 Words
Pagi di Jakarta membuka tirai harinya dengan langit yang perlahan menerangi jalan-jalan sibuk. Bunyi klakson dan suara gemerisik kendaraan menciptakan irama khas kota ini. Pedagang kaki lima mulai bersiap, membuka warung-warung kecil yang menawarkan aroma kopi dan nasi goreng yang menggoda. Orang-orang bergegas menuju kantor dengan pakaian serba rapi, menciptakan alur manusia yang tak pernah berhenti. Di tengah hiruk-pikuk tersebut, pepohonan di beberapa trotoar memberikan sentuhan hijau yang menyegarkan, sementara embun pagi melingkupi bunga-bunga kota yang terhampar di taman-taman kecil. Meski kepadatan lalu lintas menyiratkan kesibukan, suasana pagi Jakarta tetap memancarkan semangat dan harap, menandai awal dari sebuah hari yang penuh dinamika. Di salah satu rumah yang lampunya tidak dinyalakan dari semalam, terlihat cahaya matahari masuk dari celah jendela yang tidak tertutup, menerangi seseorang yang masih telungkup dengan begitu menyedihkan. kura-kura yang semalam terus berjalan mengelilingi area rumah, kini mulai berjalan menuju ke arah orang yang terbaring l,menabraknya seperti hendak membangunkan. Merasa geli dengan sentuhan-sentuhan yang diberikan, mata Akmal pun mulai terbuka dengan perlahan kemudian memindai keadaan sekitar yang terlihat nampak sunyi, masih seperti semalam. yang berbeda hanyalah kura-kura yang berada di sampingnya. "Kamu keluar dari mana Robi?" tanya Akmal sambil membangkitkan tubuhnya untuk duduk, tangannya mengambil kura-kura itu kemudian menciumnya dengan penuh kasih sayang, hanya hewan itulah yang menjadi teman setianya. "Apakah kamu lapar sampai kamu meninggalkan rumahmu, atau kamu merasa kesepian seperti apa yang sedang kurasakan sekarang?" seperti biasa Akmal akan mengajak hewan peliharaannya untuk berbicara, layaknya orang kurang waras yang masih membutuhkan perawatan rumah sakit jiwa. Merasa kasihan akhirnya Akmal pun bangkit kemudian memasukkan kembali hewan peliharaannya ke dalam kandang, tak lupa dia pun memberikan makan karena kemarin belum sempat. Perjalanan yang sangat jauh ditambah kesedihan yang menimpanya sampai dia lupa kalau hewan peliharaannya kelaparan. "Kamu tenang dulu ya, aku mau mandi nanti kita lanjutkan mengobrol." pintanya sama seperti sedang berbicara dengan seorang manusia. Akmal pun masuk ke dalam kamar, untuk menyegarkan tubuh yang terasa sangat berat, bahkan dibagi beberapa bagian wajah dan d**a masih terasa sakit akibat penyiksaan yang dialaminya, namun pagi itu seolah tidak terjadi apapun seolah sudah melupakan kejadian yang memilukan tadi malam. Setelah tubuhnya terasa segar dia pun menyeduh kopi untuk memulai Pagi harinya, sambil merenungi kesalahan-kesalahan apa yang sudah ia perbuat, sampai-sampai dia ditipu oleh seorang wanita. namun setelah ia telusuri tidak ada kesalahan yang ia lakukan ini adalah murni kesalahan, Shakila yang hanya memanfaatkannya sehingga rasa benci dan dendam mulai memenuhi Gejolak dadanya, tangannya terlihat meremas gelas kopi seperti sedang membayangkan mencekik leher Shakila. "Tidak boleh ada seseorang yang merendahkanku seperti itu. aku harus membalas semua yang sudah mereka lakukan." gumam Akmal sudah melewati masa kritisnya, perlakuan Sakila yang sudah di luar batas menjadikannya sebuah dendam yang harus dibalaskan oleh sang introvert itu. Akmal yang bukan seorang pemalas hanya saja dia tidak nyaman ketika berhubungan dengan khalayak ramai, mulai membangkitkan tubuhnya kemudian masuk ke dalam kamar mencari baju-baju yang dulu pernah dibeli untuk mendekati Shakila, bahkan barang-barang yang berhubungan dengan gadis itu dia kumpulkan kemudian membawanya ke halaman belakang. "Aku harus memusnahkan semua benda yang berhubungan dengan wanita sialan itu, agar aku bisa menata kembali hidupku menjadi lebih baik." gumam Akmal yang kembali lagi ke dalam gudang namun itu tidak lama karena dia pun keluar lagi dengan membawa jerigen bensin. Dengan menarik nafas dalam dan membuang semua khayalan khayalan indah bersama Shakila, Akmal mulai menuangkan bensin ke barang-barang yang sudah dikumpulkan, kemudian menyalakan korek api lalu membakarnya. sehingga api pun berkobar dengan begitu besar, Akmal berharap kalau dia bisa melupakan Shakila wanita yang beberapa saat mengisi ruang kosong di dalam hidupnya. Semua barang yang berhubungan dengan wanita yang sudah memanfaatkannya tidak sisakan sedikitpun bahkan kacamata yang sedang ia gunakan, dia buka kemudian dilemparkan kekobaran api, sehingga semua barang-barang yang berhubungan dengan Shakila sudah tidak ada lagi yang tersisa, berubah menjadi debu yang takkan bisa dikembalikan, seperti hati Akmal yang sudah hancur lebur dan mungkin tidak akan bisa diobati. "Aku bukan orang bodoh! aku bukan orang yang dengan mudah bisa dimanfaatkan, aku harus membalas kejahatan mereka semua, agar mereka mendapatkan pelajaran dan tidak ada lagi korban yang selanjutnya." gumam Akmal sambil tetap memindai kobaran api yang terus menari-nari menghabisi makanannya. Dalam kegelapan hatinya, rasa sakit dan pengkhianatan mulai kembali menyeruak memenuhi d**a. Akmal yang pernah menjadi korban penipuan dan pembodohan merasakan luka yang dalam, dan lambat laun dan dendam pun mulai tumbuh sebagai bayang-bayang gelap di dalam dirinya. Setiap kenangan yang menghantui seperti belati yang menusuk, dan api dendam terus berkobar di relung hatinya. Dalam setiap detik yang terus berjalan keinginan untuk balas dendam memenuhi pikirannya, menciptakan tekad yang tak tergoyahkan untuk menghancurkan mereka yang pernah menyakiti. Semakin mengingat kenangan-kenangan indah yang dilalui semakin besar pula rasa benci yang tertanam, Akmal mulai bergulat dalam kegelisahan hatinya antara mengembalikan rasa sakit itu kepada orang yang sudah membuatnya atau dia tetap terlarut dalam bayang-bayang kepedihan yang akan selalu menghantuinya, seperti kejadian yang sudah berlalu yang menimpa ibunya. "Minta maaf lah kalian, karena kalau tidak aku akan membalas lebih dengan apa yang sudah kalian lakukan." gumam Akmal yang masih tetap memindai kobaran api tapi khayalannya sudah terbang jauh menuju pikiran-pikiran Apa yang akan terjadi kedepannya. Tring, tring, tring. Suara handphone-nya pun berdering membuyarkan Lamunan Akmal yang sedang terfokus memikirkan Bagaimana caranya membalaskan dendam. "Halo ada apa Desi?" tanya Akmal ketika handphonenya terhubung. "Hari ini adalah hari di mana Bapak menjadwal ulang janji, karena tiga hari yang lalu Bapak pergi keluar kota. Sekarang semua pasien sudah menunggunya Apakah saya perlu mengatur ulang janji dengan mereka?" tanya Desi yang terus didesak oleh para pasien yang ingin mengobati giginya. "Tidak usah kalau mereka mau mereka suruh nunggu saja, sebentar lagi saya akan segera berangkat." "Baik Pak, terima kasih kalau begitu." Telepon terputus Akmal kemudian kembali ke dalam rumah setelah memastikan api yang membakar seluruh kenangannya padam. dia berdandan kembali seperti semula memakai kemeja dengan celana bahan yang sangat rapi, matanya dilindungi oleh kaca membungkusnya seperti orang yang sangat culun dan bodoh. Hari itu Akmal menyibukkan dirinya dengan bekerja agar dia tidak terlalu fokus dengan masalah yang ia hadapi, dia bekerja dengan begitu profesional padahal hatinya sedang hancur tak berbentuk. Kira-kira pukul 04.00 sore, semua pasien yang datang ke kliniknya sudah selesai ditangani. Akmal yang masih diselimuti dengan rasa amarah dengan segera dia pun bergegas pergi menuju salah satu Cafe yang sering ia kunjungi ketika menemui wanita dari kencan online. "Mau minum apa Pak?" tanya waiter yang menghampiri Akmal ketika duduk. "Es kopi." jawabnya sambil tetap memindai keadaan meja bar yang menampilkan beberapa barista sedang sibuk membuat kopi, mata itu terus memperhatikan satu persatu seperti sedang mencari seseorang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD