part 2

1591 Words
Hari itu, Tiffa mencoba kembali ke rutinitasnya sebagai dokter. Meski hatinya masih diliputi duka, ia tahu hidup harus terus berjalan. Lorong rumah sakit yang biasanya hening kini terasa seperti tempat pelarian bagi pikirannya. Namun, suasana tiba-tiba berubah riuh. Beberapa pasien berbisik-bisik, perawat lain saling melirik, bahkan dokter lain pun ikut penasaran. Suara langkah cepat dan bisikan histeris terdengar di koridor. “Benarkah itu dia?” “Astaga, aku tak percaya artis sepopuler itu datang ke sini!” Tiffa mengerutkan kening, menoleh, lalu langkahnya terhenti. Di ujung lorong, seorang pria tinggi dengan penampilan rapi berjalan dengan percaya diri. Kacamata hitam menutupi sebagian wajahnya, tapi semua orang tahu siapa dia: Javier Alvaro Wiratama, artis terkenal yang wajahnya sering menghiasi layar televisi dan papan iklan di kota. Yang mengejutkan, pria itu menoleh padanya dan tersenyum. “Tiffany…” panggilnya. Lorong rumah sakit seketika hening, semua mata menatap Tiffa dengan rasa ingin tahu. “Ja… Javier?” Tiffa tergagap, tak percaya melihat sepupunya itu di depan mata. Mereka memang lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing, apalagi Javier selalu sibuk dengan jadwal syuting dan konser. Javier melepas kacamatanya, menatap Tiffa dengan sorot mata hangat. “Aku dengar kabar tentang Paman. Aku datang bukan hanya untuk melayat… tapi juga untuk melihatmu. Sudah lama sekali kita tidak bertemu, sepupu kecilku.” Tiffa tercekat. Emosi bercampur dalam dadanya: senang bertemu kembali dengan sepupunya yang terkenal, tapi juga getir karena kehadirannya mengingatkan kembali pada ibunya yang kini penuh intrik. Perawat lain berbisik-bisik dengan kagum. “Ternyata dokter Tiffa sepupuan sama Javier…” “Pantas dia cantik, ternyata memang darah artis!” Tiffa menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Terima kasih sudah datang, Javier. Tapi… kenapa ke rumah sakit? Kau seharusnya datang langsung ke rumah, bertemu ibuku..” Javier tersenyum samar. “aku sudah bertemu bibi, dan meminta maaf padanya karena tidak hadir di pemakaman paman." "Lalu..." Tiffa mulai risih dengan beberapa pasang mata para perawat yang melirik kearahnya --atau lebih tepatnya ke arah Javier.. "Ada yang ingin aku.... Javier belum menyelesaikan ucapannya, Tiffa menarik tangan nya.. membawanya ke luar rumah sakit. Tiffa dan Javier untuk sesaat mendadak jadi pusat perhatian orang-orang di sekitar,, itu karena dengan jelas dan terang terangan Javier sang artis terkenal mengekspos dirinya. Lorong rumah sakit sakit yang mereka lewati tampak riuh, tapi bagi Tiffa, dunia seolah menyempit hanya pada Javier. Sepupunya yang terkenal itu tidak datang hanya untuk menjenguk—ada hal lain yang lebih serius menunggu untuk diungkap. "Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Tiffa,, mereka sekarang sedang berdiri berhadapan di taman belakang rumah sakit, yang tidak terlalu banyak orang. Javier menatap Tiffa dengan serius. “ada hal yang harus kau pertimbangkan baik-baik Tiffa, Perusahaan Paman… jangan pernah kau serahkan pada siapa pun.” Tiffa mengernyit, menatapnya heran. “Tapi… aku bukan orang bisnis, Javier. Aku hanya seorang dokter. Bagaimana aku bisa mengurus perusahaan sebesar itu?” “Justru karena itu.” Javier menarik napas dalam. “Kalau kau menyerahkannya pada keluarga besar, terutama pada Ibu… aku jamin kau dan bibi Maya akan tersingkir. Ibu sudah menyiapkan penerus lain, dan aku tahu siapa dia.” Tiffa terdiam. Kata-kata itu seperti pisau dingin menusuk hatinya. “Penerus lain?” tanyanya lirih. Javier mengangguk. “Aku. Ibuku ingin aku menjadi penerus perusahaan. Tapi dengar baik-baik, Tiffa… aku tidak ingin. Dunia bisnis bukan jalanku. Aku sudah memilih dunia seni dan aku tidak akan kembali.” Tiffa menatap sepupunya, bingung. “Lalu kenapa kau menolaknya? Bukankah dengan posisimu, semua akan lebih mudah?” “Karena itu bukan yang kuinginkan,” jawab Javier mantap. “Dan aku tidak ingin menjadi boneka Ibuku. Dia hanya akan mengendalikan semua keputusan melalui aku. Perusahaan itu milik Paman, bukan miliknya. Dan Paman menginginkan kau atau bibi Maya yang melanjutkannya, bukan orang lain.” Tiffa tertegun. Hatinya berkecamuk. Ia teringat wajah lelah ibunya di pemakaman, betapa berat beban yang kini dipikul sang ibu sendirian. “Javier… aku tidak tahu apa aku mampu.” Javier menatapnya lekat-lekat. “Kau mampu. Kau hanya belum percaya pada dirimu sendiri. Paman selalu melihat kekuatan itu dalam dirimu, Tiffa. Dan aku akan ada di pihakmu, meskipun aku tidak terjun langsung ke bisnis.” Tiffa mengepalkan tangannya. Meski ragu, hatinya perlahan dipenuhi tekad baru. “Kalau begitu… aku akan berjuang. Aku tidak akan biarkan Tante Lydia atau siapapun merebut apa yang seharusnya jadi hakku dan ibuku.” Senyum Javier merekah, tipis tapi penuh keyakinan. “Itu baru sepupuku.” "Kalau begitu Tiffa, aku pergi dulu, kau ingat ucapan ku ya.." Javier menepuk pelan pundak Tiffa lalu pergi, dengan kembali memasang kacamata hitamnya... Tiffa masih berdiri, ia memejamkan matanya sesaat mencoba menguatkan hati dan fikiran nya untuk melangkah melewati kehidupanya yang rumit. Setelah pertemuan nya dengan Javier yang menghebohkan hampir satu rumah sakit, teman seprofesi nya tidak segan mendekati Tiffa untuk meminta no telpon Javier.. Saat Tiffa sedang duduk di ruang kerja nya, saat sedang istirahat atau saat memeriksa pasien,, ada saja seseorang yang mendekati nya hanya untuk mendengar bagaimana rasanya memiliki sepupu artis terkenal seperti Javier... Tiffa menarik nafas dalam.. " kau tahu... itu sangan membebaniku...PLEASE JANGAN GANGGU AKU LAGI !!!" Tiffa merasa sangat lelah belum lagi masalah warisan kini sepupunya yang artis itu memberi beban dengan para fans nya yang membuat nya, pusing... Siang itu, setelah memeriksa pasien oprasi,, Tiffa melangkah gontai ke ruangan nya, ia menjatuhkan pantatnya di kursi, bersandar relax, dan menarik nafas dalam mencoba menenangkan fikirannya... -aahh lelah sekali - bisiknya dalam hati... Tiba tiba TING.... pesan masuk di ponselnya Tiffa merogoh saku jasnya,, pesan singkat dari sahabatnya, Rere. "Tiffa, ketemu di kafe biasa ya. Malam ini Aku pengen ngobrol soal kerjaan." Ia membalas singkat lalu memasukkan nya kembali ke jas dokternya. Setelah shift panjang di rumah sakit, Tiffa pun melangkah menuju kafe langganan mereka. Aroma kopi langsung menyambut begitu ia masuk. Rere sudah menunggu di sudut, melambai dengan senyum hangat. “Tiffany !” seru Rere sambil berdiri dan memeluknya erat. “Akhirnya kita bisa ketemu lagi. Aku kangen ngobrol sama kamu.” Tiffa tersenyum tipis, rasa lelahnya sedikit berkurang. “Aku juga kangen. Maaf ya, akhir-akhir ini aku sibuk banget.” Rere mengamati wajah sahabatnya dengan penuh perhatian. “aku ngerti kok. Dokter mana ada jadwal santai ya kan.." guraunya, membuat sedikit senyuman terbit di wajah mereka. "Aku dengar kabar tentang ayah kamu… aku benar-benar ikut berduka.” Tiffa menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh. “Terima kasih, Rere. Rasanya masih sulit dipercaya sampai sekarang.” Mereka terdiam sejenak, lalu Rere membuka laptopnya. “Sebenarnya aku ngajak ketemu bukan cuma buat ngobrol santai. Ada hal penting yang ingin aku tawarkan. Kamu masih ingat aku lagi kerja di perusahaan konsultan kesehatan?” Tiffa mengangguk. “Iya, kamu pernah cerita.” “Nah, kebetulan perusahaan kami lagi butuh dokter dengan pengalaman lapangan seperti kamu. Posisinya lebih ke laboratorium medis dan penelitian. Jam kerjanya juga lebih fleksibel dibanding rumah sakit.” Rere menatap Tiffa dengan harap. “Aku pikir, ini bisa jadi peluang bagus buat kamu, Tiffa. Kamu nggak harus terus-terusan terjebak di shift malam yang bikin kamu makin drop.” Tiffa terdiam. Tawaran itu terdengar menggiurkan, apalagi di tengah masalah keluarganya. Namun pikirannya langsung kembali pada ucapan Javier—tentang perusahaan ayahnya, tentang tanggung jawab besar yang menunggunya. “Aku… nggak tahu, Rere,” ucapnya pelan. “Aku masih harus mikirin ibuku, juga urusan ayahku yang belum selesai. Kadang aku merasa nggak sanggup ngatur semuanya sekaligus.” Rere menggenggam tangannya lembut. “Aku ngerti, Tiffa. Tapi apapun pilihanmu, kamu harus ingat kalau kamu nggak sendirian. Aku selalu ada buat kamu, oke?” Senyum tulus Tiffa akhirnya muncul. Kehadiran Rere memberinya sedikit rasa tenang di tengah badai yang sedang ia hadapi. Mereka mengobrol ringan dan curhat mengenai hari hari yang mereka lewati di tempat kerja. Malam itu rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Angin berhembus dari jendela, membawa dingin yang menusuk. Tiffa duduk di ruang tamu dengan wajah letih. Di meja ada dua cangkir teh hangat, satu untuknya dan satu lagi untuk ibunya. Sang ibu keluar dari kamar dengan wajah sendu, matanya masih sembab karena tangis yang belum juga kering sejak kepergian sang suami. Ia duduk di samping Tiffa, menatap putrinya lekat-lekat. “Kamu kelihatan capek sekali, Nak. Ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan sama ibu?" suara ibunya lembut, tapi penuh kekhawatiran. Tiffa menunduk, jari-jarinya memainkan gagang cangkir. Butuh beberapa detik sebelum ia akhirnya berani membuka suara. “Tadi… Javier datang ke rumah sakit, bu.” Ibunya sedikit heran “javier? ” Tiffa mengangguk pelan. “Iya. Dia bilang satu hal yang penting… dia tidak ingin ikut campur urusan bisnis keluarganya. Bahkan dia memintaku untuk tidak menyerahkan perusahaan ayah pada Tante Lydia. Dia bilang… ayah pasti ingin aku yang melanjutkan.” Suasana hening. Hanya terdengar detak jam dinding dan desahan napas berat sang ibu. “Tiffa…” suara ibunya bergetar, “ayah mu memang pernah bilang begitu pada ibu. Dia ingin kamu yang meneruskan perjuangannya. Tapi ibu takut… takut kamu jadi korban permainan mereka.” Air mata menggenang di mata Tiffa. Ia menggenggam tangan ibunya erat. “bu, aku juga takut. Tapi aku tidak bisa diam saja. Kalau aku menyerahkan semuanya, itu berarti aku membiarkan kerja keras ayah hancur begitu saja. Javier mungkin bukan orang yang bisa banyak membantu, tapi setidaknya dia memberiku kekuatan untuk percaya… kalau aku memang harus melawan.” Ibunya menatap Tiffa dengan mata berkaca-kaca. Lalu ia mengusap pipi putrinya dengan lembut. “Kalau itu memang pilihanmu, Nak… ibu akan selalu di sampingmu. Kita berdua akan hadapi mereka, apa pun risikonya.” Pelukan hangat menyatukan keduanya malam itu. Meski dunia di luar penuh ancaman, setidaknya mereka tahu: mereka masih punya satu sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD