part 3

1113 Words
Esoknya pukul 7 pagi Tiffa berjalan menuju kantor rumah sakit, ia memberanikan diri mengajukan cuti sementara dari rumah sakit. “Aku butuh waktu untuk mengurus urusan keluarga,” katanya singkat pada atasannya. Ia tahu, langkah ini akan mengubah hidupnya. Dengan mengenakan pakaian formal sederhana—blazer hitam dan kemeja putih—Tiffa melangkah menuju gedung tinggi yang selama ini hanya ia lihat dari jauh: perusahaan milik ayahnya. Logo besar terpampang megah di depan pintu masuk, membuat dadanya bergetar hebat. Sesampainya di lobi, banyak pasang mata menoleh padanya. Beberapa karyawan saling berbisik, sebagian mengenal wajahnya. “Itu kan… putri Direktur utama Adam Wiratama” “Kenapa dia ke sini?” Tiffa menarik napas panjang, mencoba menahan gugupnya. Ia melangkah menuju meja resepsionis. “Saya Tiffany. Putri Adam Wiratama, Saya ingin bertemu dengan pak Sigit asisten pribadi ayah saya” Resepsionis itu terdiam sebentar, lalu segera menunduk sopan. “Baik, Nona Tiffany, Silakan tunggu sebentar, saya akan menghubungi ke atas.” Tak lama kemudian, seorang pria berjas rapi turun menemuinya. Tatapannya tajam, senyumnya kaku. Gavin. “Selamat datang, Tiffany... Aku direktur sementara yang ditunjuk keluarga besar. kau mencari Sigi?!” ucapnya sambil tersenyum licik. "Sigit sudah tidak bekerja lagi disini sejak ayah mu meninggal" Tiffa menatapnya lurus, berusaha menahan getaran suaranya. “om Gavin. Perusahaan ini masih atas nama ayah saya. Dan Saya datang sebagai putri dari pemilik sah perusahaan ini. Saya ingin melihat bagaimana perusahaan ayah saya dijalankan.” Gavin tersenyum sinis, meski wajahnya tetap ramah di depan banyak orang. “Tentu, Tiffa. Silakan. Tapi… dunia bisnis bukan tempat sederhana. Apakah kamu siap menghadapi apa yang akan kamu temui di sini?” Tiffa mengepalkan tangannya. “Saya siap. Kalau keluarga besar ingin menyingkirkan saya dan Mama, setidaknya saya tidak akan diam. Perusahaan ini bagian dari Papa—dan saya akan menjaganya.” Beberapa karyawan yang mendengar itu menatap dengan kagum, meski suasana tetap tegang. Gavin hanya tersenyum tipis. “Baiklah. Mari kita lihat seberapa jauh kamu bisa bertahan, Tiffany.” Dengan langkah mantap, Tiffa memasuki ruang demi ruang di perusahaan itu, mencoba memahami warisan yang ditinggalkan ayahnya. Ia tahu, sejak saat itu, pertempurannya tidak hanya soal rumah—tapi juga soal harga diri, warisan, dan masa depan. Tiba-tiba matanya menangkap sosok wanita yang melangkah anggun tapi penuh kesombongan, rambut pendek nya mengayun seiring langkahnya, kemeja ketat dan rok span pendek serta makeup glamor yang membutnya terlihat dewasa. Cindy sepupunya putri dari Gavin dan Anita. Dia berjalan menghampiri Tiffa, "waahh.. lihatlah..kita kedatangan tamu istimewa" ucapnya dengan senyum licik nya. Tiffa hanya menatap nya, ia tahu sepupunya yang satu ini berbeda dengan Javier, Cindy Monica Wiratama. Sejak dulu gadis itu tidak menyukainya "Apa kau bekerja di perusahaan papaku sekarang?" Mendengar pertanyaan Tiffa, Cindy tampak menatap tajam ke arah nya. "Yaa.. asal kau tau saja, sebentar lagi perusahaan ini akan menjadi milik keluargaku." Cindy tersenyum licik dia berjalan memutari Tiffa. "Tiffany, sayang sekali kau seorang dokter yang tidak tau apa-apa tentang bisnis, jadi kusarankan kau tidak perlu ikut campur mengurus perusahaan " "Semuanya belum berakhir Cindy, kita lihat saja nanti" Tiffa kembali berjalan meninggalkan Cindy yang terlihat kesal, dan Gavin ayahnya yang berusaha menenangkan putri nya. "Sudahlah, kamu jangan khawatir papa sudah membuat rencana untuk membuat nya jera" Gavin lalu merogoh saku nya dan mengeluarkan ponsel, ia menekan salah satu nomor dan menelponnya. Tiffa berjalan ke lantai atas, ruang kerja yang dulu milik ayahnya. Begitu pintu kayu besar itu terbuka, aroma khas kayu dan buku tua menyambutnya. Ruangan itu hampir tak berubah—meja kerja besar dari kayu jati masih berdiri kokoh, rak buku penuh dengan dokumen, Tiffa berdiri lama di tengah ruangan, menatap kursi kulit hitam di balik meja. Hatinya bergetar. “Papa…” bisiknya, nyaris tak terdengar. Ia berjalan mendekat, tangannya menyusuri permukaan meja. Di atasnya ada tumpukan dokumen perusahaan yang tertata rapi, seolah sudah disaring oleh orang lain. Tapi Tiffa tahu, ayahnya bukan tipe orang yang mudah di tebak, ayahnya pasti menyimpan sesuatu, entah itu sebuah rahasia keluarga yang membuat nya pergi secara mendadak. Naluri membuatnya membuka laci-laci meja. Sebagian kosong, sebagian berisi berkas-berkas umum. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah laci yang agak macet. Dengan sedikit tenaga, ia berhasil membukanya.di dalamnya Ada sebuah foto keluarga Tiffa bersama ayah dan ibunya, tergeletak begitu saja. Ia melihat dan mengusap wajah ayahnya yang berada dalam foto. Tiffa menarik nafas dalam merasakan dadanya begitu sesak. Ia meletakan kembali foto itu dalam laci. Lalu pergi Tiffa tidak tau kalau di balik foto itu ada rahasia. Tiffa menutup pintu ruang kerja ayahnya dengan hati-hati, perasaan nya masih perih mengingat kembali kepergian ayahnya. Ia berjalan meninggalkan ruangan itu, Namun langkahnya langsung terhenti. Di koridor panjang itu, dua sosok berdiri menunggu. Tante Lydia dengan mantel mahalnya, wajahnya penuh senyum dingin. Di sampingnya, Gavin dengan tangan terlipat di d**a, tatapan merendahkan menusuk lurus ke arah Tiffa, “Oh, kebetulan sekali,” suara Lydia terdengar halus namun penuh racun. “Ternyata benar gosip yang kudengar… kau nekat datang ke perusahaan ini.” Gavin menyeringai merasa kali ini ia akan membuat jera keponakanya yang satu ini “Aku sudah bilang padamu, kamu seharusnya tetap bekerja di rumah sakit tidak perlu repot-repot mengurus bisnis ayah mu” Tiffa berusaha menjaga ketenanganya, meski telapak tangannya basah oleh keringat. "bisa atau tidak menjalankan nya, aku memiliki hak untuk ini” Lydia melangkah mendekat, tumit sepatunya beradu dengan lantai marmer, menimbulkan bunyi nyaring yang membuat suasana makin mencekam. “Hak? Sayang sekali, di atas kertas, semua aset sudah dikuasai keluarga. Kau hanyalah anak yang masih bergantung pada belas kasihan kami.” “Belas kasihan?” Tiffa menatap lurus ke mata Lydia. “Papa membangun perusahaan ini dengan keringatnya sendiri. Kalau ada yang paling pantas meneruskannya, itu aku—bukan kalian yang hanya tahu merampas.” Tamparan keras Lydia mendarat di pipi putih Tiffa, Gavin tersenyum licik. Sekilas tatapan Gavin berubah tajam. Ia maju selangkah, suaranya rendah namun mengancam. “Hati-hati, Tiffany. Kata-katamu bisa menjadi bumerang. Dunia ini keras, dan kau terlalu lemah untuk bertahan.” Tiffa menggenggam erat tali tasnya, menahan amarah sekaligus rasa takut yang menyeruak. Dengan suara bergetar namun tegas, ia menjawab: “Mungkin aku seorang dokter, yang tidak tau bagaimana menjalankan bisnis. Tapi asal kalian tau, aku tidak akan mudah menyerahkan apa yang seharusnya menjadi milik aku dan ibuku." Koridor hening. Karyawan yang lewat menahan napas, pura-pura sibuk sambil mencuri pandang. Lydia tersenyum tipis, tapi kali ini senyumnya lebih menyerupai tatapan predator pada mangsanya. “Baiklah, Tiffa. Kau ingin melawan keluarga? Kau akan lihat sendiri, betapa cepatnya dunia menghancurkanmu.” Lydia berbalik dengan anggun, Gavin menyusul dengan tawa pendek penuh ejekan. Mereka meninggalkan Tiffa berdiri sendiri di koridor—gemetar, tapi matanya menyala penuh tekad. Untuk pertama kalinya, ia merasa dirinya benar-benar masuk ke medan perang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD