part 4

657 Words
Tiffa duduk di meja belajar di kamar nya yang terasa sunyi. Ibunya sudah tertidur di kamar, sementara jam terus berdetak menunjukkan pukul 11 malam, laptop di depan nya Masih menyala, Tugas kantor nya belum selesai. Tiba-tiba— Drrrttt… drrrttt… Ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal muncul di layar. Tiffa ragu, namun akhirnya mengangkat. “Hallo?” Tak ada jawaban. Hanya suara napas berat di seberang. “Siapa ini?” Tiffa mengerutkan kening, jantungnya berdegup kencang. Lalu sebuah bisikan lirih terdengar, membuat darahnya berdesir dingin. “Kau harus menyerah… atau ibumu akan jadi taruhannya.” Seketika telepon terputus. Tiffa terdiam, wajahnya pucat. Tangannya gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan ponsel. Belum sempat ia menenangkan diri, suara gedebuk! terdengar dari luar jendela. Seperti sesuatu jatuh. Dengan hati-hati, Tiffa mendekat, membuka sedikit tirai. Matanya membelalak. Di halaman depan, sebuah boneka lusuh tergantung di pagar dengan leher terikat. Leher boneka itu digores tinta merah, membentuk kata: “PILIHANMU.” Tiffa mundur, napasnya terengah. Ia ingin berteriak, tapi khawatir membangunkan ibunya. Tubuhnya bergetar, namun ia tahu—ini pasti ulah Lydia dan Gavin. Ancaman mereka kini berubah menjadi teror nyata.. Air matanya jatuh, bukan hanya karena takut, tapi karena amarah yang membakar. “Mereka sudah keterlaluan… Aku tidak boleh mundur.” **** Tiffa terlonjak ketika melihat jam dinding di kamar nya menunjukan pukul 7 pagi..tidak biasanya ia terlambat.. Tiffa bergegas ke kamar mandi dan bersiap ia mengenakan kemeja dan celana panjang formal rambut panjang nya ia kuncir kuda dan memoles make up tipis di wajahnya, ia menyambar tas yang ada di meja dan segera turun.. ibunya yang sedang memasak di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Merasa heran melihat anaknya terburu-buru. "Tiffa sarapan dulu" Tiffa hanya meneguk s**u dan mengambil sepotong roti yang ada di meja. Memasukkan nya kemulut. "Tiffa buru buru maa.. ada jadwal operasi pagi ini..." Ucap Tiffa sebelum pergi. Tidak lupa ia mencium tangan ibunya dan menyambar kunci mobil yang ada di nakas. Ibunya hanya menggeleng pelan. Melihat putri nya pergi dengan terburu-buru. Sampai di rumah sakit Tiffa segera memakai uniform sesuai prosedur dan pergi ke ruang bedah. Tiffa mencoba fokus dan tenang.. meski masalahnya masih menghantui Fikiran nya. Hujan di luar turun dengan deras, Siang itu, ketika Tiffa masih bekerja di rumah sakit, ibunya sendirian di rumah. Suasana rumah terasa sepi, hanya suara burung di luar jendela. Tiba-tiba, bel rumah berbunyi keras—berulang kali, hingga membuat jantung ibunya berdegup tak tenang. Saat membuka pintu, ia terkejut mendapati sosok Anita, istri Gavin. salah satu Kaka iparnya, Anita berdiri dengan senyum dingin. Dua pria berjas hitam berdiri di belakangnya, jelas bukan sekadar pengawal. “Selamat siang, Maya,” suara Anita terdengar manis, tapi sorot matanya tajam. Ia langsung masuk tanpa dipersilakan. “Aku datang dengan tujuan baik. Ada hal penting yang harus kamu lakukan.” Maya menatap dengan waspada. “Ada apa, kak Anita?” Anita mengeluarkan sebuah map dari tasnya, meletakkannya di meja ruang tamu. “Ini dokumen penyerahan rumah. Tanda tangani sekarang, dan semua akan baik-baik saja.” Wajah Maya memucat. “Rumah ini peninggalan suamiku. Aku tidak akan pernah menandatanganinya.” Senyum Anita melebar, dingin. Ia memberi isyarat, salah satu pria pengawal mengeluarkan sebuah amplop berisi foto. Dengan tangan gemetar, Maya meraihnya—dan hampir pingsan melihat isinya. Foto itu menampilkan Tiffa di rumah sakit, sedang berjalan menuju parkiran, diambil diam-diam dari kejauhan. “Cantik sekali putrimu,” bisik Anita, suaranya menurun tajam. “Sayang sekali kalau sesuatu terjadi padanya saat pulang kerja, bukan?” Tubuh Maya bergetar, air matanya mulai jatuh. “Jangan sentuh anakku… tolong, jangan apa-apakan Tiffa!” Anita menyandarkan tubuhnya di kursi dengan santai, seolah menikmati penderitaan di hadapannya. “Kalau begitu, tanda tangani, Maya. Satu tanda tangan, dan putrimu tetap aman. Kau yang memilih.” Tangannya gemetar hebat. Pena di hadapannya terasa seperti belati yang diarahkan ke jantung. Air matanya terus menetes, hatinya terhimpit antara melindungi rumah peninggalan suami, atau menyelamatkan putri nya. Sambil menahan isak, ia berbisik lirih, “Maafkan Mama, Tiffa…”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD