Author pov
Mereka semua kumpul di cafe deket rumah Bu Ketua. Mereka masih jadi anak baik baik, maksudnya penampilannya.
"Bu ketua tadi beneran nyatet apa yang diomongin guru?" Tanya Tiara dengan polos, Bu Ketua memandangnya dengan senyum sinis.
"Sejak kapan gua nyatet hah?"
"Terus Bu Ketua ngapain?" Tanya Intan dengan serius.
"Gua...."
"Gua...." mereka menunggu dengan serius
"Ck. Serius dulu Bu Ketua," keluh Nabila membuat Bu Ketua terkekeh.
"Gua... nyari cara buat guru yang ngajar tadi kapok. Gua nulis nulis dikertas, karena gua lagi mikirin berapa persen keberhasilan yang akan gua dapet," ujar Bu Ketua membuat mereka semua melongo.
"Bu Ketua memang hebat!!" Teriak mereka bertiga sambil bertepuk tangan. Bu Ketua memandang mereka bertiga dengan risih.
"Gua sangka bentar lagi kiamat. Terima kasih yaallah karena telah memberikan Bu Ketua yang sesungguhnya," ujar Intan sambil mengadahkan tangannya keatas seolah bersyukur.
"GILA!" Sentak Bu Ketua, Nabila dan Tiara bersamaan. Intan terkikik geli.
Kalo Bu Ketua berprilaku baik pada hari pertama, itu harus waspada.
***
Hari kedua di SMA 1. Mereka sudah merubah penampilan mereka seperti biasa. Dan Bu Ketua di ombre warna merah.
"Wohoo... akhirnya bebas juga gua mau ngapain aja," ujar Intan dan Nabila. Sedangkan Tiara mulai tebar pesona ke siswa-siswa yang mereka lewati.
"Ayo Bu Ketua kita masuk kelas," ujar Nabila menarik tangan Bu Ketua dengan sedikit menyeretnya.
Rista pov
Huft..
Gua menghela nafas pelan saat mengetahui pelajaran guru kemarin lagi. Tiba tiba guru itu masuk denga wajah marah.
"Kalian berempat. Apa apaan telah membuat kantin ancur," teriaknya kepada kita berempat.
"Bukan salah kita Bu, salahin aja kakak kelas songong itu," kata gua dengan santai.
"Yang kamu katakan songong itu anak saya!" Bentaknya marah. Oow, dapet masalah baru gua.
"Maaf bu saya gak tau," ujar gua dengan fake smile.
"Pantesan ibu sama anak gak jauh beda kelakuannya," lirih gua, dan tanpa disangka sangka ibu itu denger. Siaga 1.
"Kamu!!! Mau nantangin saya huh?" Teriaknya. Gua menampilkan senyum sinis. Dengan santai gua maju dan berdiri dideket meja guru, gua pun menuangkan lem aibon ke kursinya.
"Gak kok Bu, mungkin Ibu aja yang ngerasa saya nantangin Ibu," jawab gua santai sambil memutar tubuh gua. Gua mengarahkan agar guru itu bisa duduk dikursinya dan... tepat saat gua majukan badan gua, guru itu terduduk dikursi. Gua menuangkan minyak goreng kelantai biar licin.
"Kamu ini jangan ngejawab aja!" teriaknya marah. Gua mengambil tas gua dan pergi meninggalkan kelas, saat didepan pintu gua bisa liat guru itu mau berdiri tapi gak bisa. Dia pun berdiri sambil menggotong kursinya, saat dia berjalan tiba tiba dia kepeleset dan kursi itu nyangkut di meja. Karena sentakan yang begitu kuat, akhirnya dia terlepas dari kursi itu, tapi…
Krekk
Rok guru itu sobek mengakibatkan tawa seluruh kelas pecah.
"Kayaknya ibu gak bisa ngajar, saya pamit pulang dulu ya Bu," kata gua santai diikuti tawa Intan, Tiara dan Nabila mengikuti gua.
Gua ke kafe kemarin lagi bersama teman gua. Dan kita berempat duduk di area smoking.
Author pov
Dengan cepat Bu Ketua mengeluarkan rokoknya dan mulai menghisapnya. Sementara Nabila sibuk makan, Intan sibuk dengan gamenya dan Tiara sibuk dengan cowok.
Tiba tiba ada sekelompok cowok yang menempati meja mereka berempat. Ksatria.
"Boleh duduk sini?" Tanya mereka.
"Lo udah duduk disini kali," balas Bu ketua dengan ketus. Yang dimongin Bu Ketua itu bener, Ksatria udah duduk dimeja mereka dan dia baru minta ijin duduk.
"Kenalin kita Ksatria."
"Udah tau dari dulu," balas Intan, Tiara dan Nabila cuek.
"Dan gua baru tau tiga hari yang lalu,"balas Bu Ketua sambil menghembuskan asap rokoknya dimuka Ksatria.
"Kalian diamond kan?" Tanya salah satu cowok itu, dia dari tadi banyak omong banget sih.. gerutu diamond. Nabila, Indah dan Tiara pun menghentikan kegiatan mereka dan menatap Ksatria serius.
"Mau kalian apa sih? Bukannya kalian benci ya sama kita? Dan kita ini rival kan?" Kesal Tiara.
"Hah? Yang benci sama kalian itu siapa coba?"
"Kalian lah, gua tau dari orang orang," balas Nabila.
"Bukannya kalian ya yang benci sama kita?" Tanya mereka membuat Bu Ketua menatap mereka dengan menaikan alisnya.
"Jadi kita diadu domba?" Tanya Bu Ketua santai, mereka semua mengangguk.
"Berhubung kita ketemu disini, gimana kalo kenalan?"
"Boleh," ujar Intan dengan senyum.
"Gua Sam."
"Gua Levin."
"Gua Davin."
"Dan ini Pak Bos kita, Brian," ujar mereka bertiga mengenalkan cowok yang pastinya ganteng dan itu Pak Bos mereka.
"Gua Intan."
"Gua Tiara."
"Gua Nabila."
"Dan ini Bu Ketua kita, Crystal atau Rista," kata mereka bertiga kompak. Bu Ketua hanya tersenyum singkat.
'Drtt.. drtt'
Bunda gaul: lo dimana?
Rista: luar, kenapa lo nanya kabar gua? Tumben. Ada maunya kan pasti?
Bunda gaul: tadi gua nonton di tv tentang batagor. Terus beliin gua batagor dong, gua mau nyicip.
Rista: batagor? Kayak apaan tuh bentuknya?
Bunda gaul: gua juga gak tau. Penasaran. Pokoknya lo harus beliin.
Rista: sipp.
"Kalian tau jualan batagor yang enak?" Tanya Rista serius.
"Tau," jawan Ksatria.
"Dimana?" Tanya Bu Ketua semangat dengan mata berbinar.
"Didepan sini ada jualannya kok," kata sam. Bu Ketua menghela nafas dan menyuruh supir untuk membelinya.
"Lo mau beli batagor? Beli berapa? Tumben."
"Gua bagi yaa," kata Nabila dengan semangat.
"Disuruh Bunda gua. Gak tau, gua kasih sama supir gua tadi uang 100 ribu," ujar Bu Ketua santai, mereka membelakan matanya.
"Lo gila!!" Kata mereka kompak, bahkan Brian yang gak pernah ngomong dari awal pun berteriak
"Kenapa sih?" Tanya Bu Ketua.
"Lo buat apa beli sebanyak itu?" Tanya Tiara.
"Banyak? Gak ah, gua cuman beli 100 ribu," jawab Bu Ketua polos.
"Lo tau gak berapa harganya?"
"Gak tau... makanya gua beli 100 ribu. Paling satu harganya 10 ribu," jawab Bu Ketua sambil minum es tehnya.
"Satu itu harganya seribu," ujar Brian dengan datar.
Uhuk uhuk
"Demi apa? Terus gua buat apa beli banyak banyak?" Teriak Bu Ketua polos.
"Mana gua tau," jawab mereka kompak.
"Oh iya, batagor itu apa sih?" Tanya Bu Ketua polos.
Plak
Mereka menepuk dahi merek dengan kompak.
"Lo gak tau batagor?" Tanya Ksatria histeris.
"Gak. Gua kan baru di Indonesia," jawab Rista.
"Pantes."
"Bakso tahu goring," jawab mereka kompak.
Oh itu toh batagor..
"Kalian sekolah dimana?" Tanya Levin.
"SMA 1, kalian?"
"Oh.. SMA SKY," jawab mereka, bu ketua memandang dengan alis terangkat.
"Oh."
"Oh iya Bu Ketua. Ngomong ngomong tadi lo keren banget lo bisa ngejailin kepala sekolah," Ku Ketua langsung menatap Tiara dengan tajam dan mata melotot. Apa katanya? Kepala sekolah?
"Kepala sekolah? Gua kan ngejailin guru tadi," sela Bu Ketua cepat.
"Guru yang lo kerjain tadi Kepala Sekolah," jawab mereka bertiga. Bu Ketua udah lemes aja dimeja. Dengan lesu dia memencet nomor Bundanya.
"Halo Ris, udah dapet belom?"
"Udah kok bun, gua beliin banyak. Beliin 100 biji, biar puas."
"Banyak banget dah lo. Tumben baik."
"Em Bun..."
"Apa?mau minta ganti uangnya?"
"Gak kok bun, gua kan baik jadinya gak usah ganti uang gua. Selow aja."
"Terus apa?"
"Dirumah ada kiriman buat gua gak?"
"Gak ada, wait--- ada nih. Sebuah surat."
"Surat ya Bun? Itu hadiah buat Bunda."
"Surat apaan sih, Bunda lagi baca ini,"
"Gua tutup dulu ya Bun tel--"
"CRYSTAL!!! LO BENER BENER JADI ORANG."
Klik
Tepat saat suara membahana milik Rebeca keluar, Bu Ketua menjauhkan ponselnya dari telinga. Bahkan Ksatria dan Diamond mendengar teriakan itu.
"Bu Ketua…" Mereka tercekat saat melihat senyuman miring dari Ku Ketua.
"Nightmare."
"Bye bye SMA 1," kata bu ketua dengan santai dan menoleh kearah Diamond yang tercengang. Sedetik kemudian tawa mereka pecah.
"Hahahaa.... gua bisa pastiin bunda lo pasti geleng geleng kepala liat kelakuan lo," ujar Nabila. Bu ketua dengan santainya menghisap rokok dan menghembuskannya pelan
"Bukan masalah besar," ujar Bu Ketua santai.
"Dan.. besok kita bakal masuk SMA mana lagi Bu Ketua?" Sindir Tiara.
"Gak tau gua," balas Bu Ketua santai.
"Gimana kalo SMA sky?"
What?