Author pov
Diamond memasuki sekolah dengan bersamaan. Dan pakaian mereka di hari pertama cukup membuat Intan, Tiara dan Nabila kaget. Penampilan yang bahkan tidak pernah mereka pakai selama mereka sekolah.
Gak tau kenapa Bu Ketua aneh banget deh, mungkin dia abis kepentok tembok kali ya pagi ini? Tapi sebenernya gak jelek jelek amat sih pakaiannya kayak gini, tapi kebagusan buat gua yang seorang bad girl. Batin Tiara mendumel
Gila! Bu Ketua setres. Masa dia nyuruh kita make baju yang sangat rapih, rambut warna hitam, oh iya gua lupa. Rambut kita emang hitam semua kecuali bu ketua yang sering di ombre rambutnya. Dan kita semua dikuncit kuda, tinggal pake kacamata aja deh… pasti mirip nerd. Dan gosh!! Demi apapun gua belom sarapan... gara gara kesibukan mikir ada apa dengan Bu Ketua. Bagaimana gua menarik perhatian anak cowok disini kalo penampilan gua kayak gini?! Batin Nabila.
Sedangkan Intan hanya diam dan sekali kali melihat kembali gaya berpakaian mereka. Masih terlalu kaget untuk melihat penampilan terbaru mereka.
Well… sebenernya gua punya maksud tersendiri kenapa gua penampilan kayak gini. Kalian akan tau nanti. Batin Rista tersenyum misterius.
"Bu Ketua, masa iya kita berpenampilan kayak gini, gua gak dapet gebetan nantinya," rengek Nabila, Rista Cuma memutar bola matanya jengah.
"Kita kelas apa bu ketua?" Tanya Tiara dengan cepat harus memutuskan rengekan Nabila mengenai gebetan.
"10 IPS1," jawab Rista santai sambil melangkahkan kakinya menuju IPS1.
"Lo gak liat apa, kalo kita dipandang remeh sama anak sekolah ini. Wah ngajak ribut emang mereka semua ini," kata Intan ingin menghampiri anak yang menatapnya dengan tatapan meremehkan.
Rista dengan cepat memegang tangan Intan dan berkata, "Bisa gak lo kali ini diem aja"
Tuhkan apa gua bilang juga, intan itu sedikit barbar. Batin rista
"Kalian bisa gak dari tadi gak usah banyak komen? Kuping gua panas dengernya. Dan cobalah bersikap santai kayak gua. Sekali sekali kita berubah gpp kan?" Kata Rista sambil membaca tulisan di atas pintu kelas yang bertuliskan IPS 1.
"Bu Ketua mah emang santai kali. Bu Ketua itu selalu menghadapi masalah degan logika, dan jarang Bu Ketua itu marah. Tapi sekalinya marah, bisa kiamat ini dunia. Dan gua heran deh, kenapa Bu Ketua bisa sesantai ini?" Ujar Nabila lebay. Rista hanya mengacuhkannya saja dan mulai mencari tempat duduk di paling belakang, tentujya di pojok. Ia duduk diikuti Tiara di sampingnya.
Kring kring kring
Guru pun memasuki kelas dengan santai. Mereka hanya menatap guru itu tanpa minat. Guru itu mengedarkan kepalanya keseluruh kelas, ketika matanya menatap rombongan Diamond, guru itu mempersilahkan mereka memperkenalkan diri.
"Nama gua Rista,” bukannya berdiri dan melangkah maju kedepan, Rista hanya menyebutkan namanya dengan singkat dengan masih duduk di kursinya.
"Gua Tiara."
"Gua Intan."
"Dan gua Nabila." Dan tentu aja, tidak ada satupun yang memperkenalkan dirinya di depan kelas.
Satu kelas terdiam melihat perkenalan super singkat yang dilakukan mereka, bahkan guru hanya diam dan melihat mereka dengan mata membelak kaget.
Tentu saja ide perkenalan singkat itu dicetusi oleh Rista. 'Gua cape kalo setiap masuk sekolah baru harus ngenalin diri gua secara rinci. Yang simple aja.' Itu yang Rista katakan saat Intan bertanya dulu.
Dan selama pelajaran berlangsung, mereka berempat hanya diam. Intan, Tiara, dan Nabila fokus melihat Bu Ketua yang menyatat pelajaran dengan serius. Ini hal yang baru dilihat oleh ketiganya.
‘Sejak kapan Bu Ketua mau belajar?’
Kring kring kring
Mereka berempat memasuki kantin yang sedang ramai ramainya. Bu Ketua mendengus, dia paling benci yang namanya menunggu dan mengantri. Jadi dia putuskan untuk duduk di meja pojok yang letaknya di bawah pohon yang rindang karena tempat itu kosong.
"Gua bakso sama es jeruk deh," pesen Bu Ketua kepada Tiara.
"Gua juga," balas Intan dan Nabila. Sementara Tiara memesan makanannya, Intan dan Nabila memperhatikan Bu Ketua yang sedang menatap seluruh kantin dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Lo emang pinter bu ketua.. pinter buat nyari tempat duduk. Sejuk banget," ujar Nabila seraya mendudukkan dirinya di samping Bu Ketua, di ikuti oleh Intan.
"Nih pesenan kalian," ujar Tiara yang datang dengan membawa nampan pesanan mereka.
"Makasih." Saat mereka sedang asik asiknya makan, tiba tiba ada segerombol murid masuk kekantin dengan gaya sok berkuasa.
Dan segerombolan itu menuju meja mereka. Mereka hanya diam saja sampai akhirnya..
Brak
Mereka berempat terlonjak kaget akibat kelakuan kakak kelas songong yang asal gebrak meja mereka.
"Lo semua ngapain duduk disini hah?!" Bentak salah satu kak kelas itu marah.
Ini menarik. Batin Bu Ketua
"Karena disini adem kak," jawab Nabila polos.
"Lo itu anak baru ya, jangan ngelawan kakak kelas deh. Dan gua ingetin sama kalian untuk pergi dari meja ini. Meja ini milik gua!" Teriaknya membuat Rista meliriknya sinis tetapi masih asik memakan baksonya begitu pun yang lain.
"Lo pada gak budeg kan?" Bentaknya lagi.
"Bisa gak sih gak usah teriak teriak? Suara lo itu gak bagus," ketus Intan dengan mata tajam.
"Lo...." baru aja perempuan itu mau ngejambak Intan tetapi ditahan Tiara.
"Bisa kan lo ngomong baik baik sama kita? Kita pasti bakal ngalah kok sama kalian tapi setelah kita selesai makan," ujar Tiara geram.
"Cih." Ia mendesis dan menghentakan tangannya yang dipegang sama Tiara.
"Lo gak tau siapa kita hah? Berani ya lo ngelawan kita." Dia makin menjadi jadi. Sampe akhirnya sekumpulan lelaki tampan menghampiri kakak kelas songong ini.
Mereka emang tampan. Tapi masih tampanan Ksatria.
"Ada apa sih?" Tanyanya.
"Nih anak baru belagu banget. Minta gua kasih pelajaran kali ya," ujarnya sinis.
"Kasian kali mereka kan anak baru," ujar lelaki itu. Intan, Tiara dan Nabila menatap Bu Ketua dengan pandangan yang sulit diartikan. Bu Ketua gak suka dikasihanin.
"Gua gak peduli. Lo semua bakal mendapatkan masalah besar," ujar cewek itu ingin menumpahkan gelas kemuka Tiara tapi dengan kasar ditepis Tiara.
Brak
"CUKUP!!!" Teriak Bu Ketua sehabis menggebrak meja dengan keras membuat seluruh pasang mata menatapnya terkejut. Bayangin aja bu ketua ngebentak orang yang paling ditakuti di sekolah ini.
"Mau lo apa sih kak?! Kita berempat cuman nempatin tempat duduk lo doang ya. Lo bisa minta baik baik. Cara lo emang gak salah …, karena cara lo ngebentak kita dan berharap kita takut gitu sama lo? Gak salah kak, karena mungkin udah berapa tahun tempat ini menjadi tempat lo. Tapi-- yang salah itu karena lo udah salah milih musuh," ujar Bu Ketua tajam.
Byurr
4 gelas es jeruk mengenai baju mereka. Sedangkan Bu Ketua menatap mereka datar. Dan...
Brak
Prang...
Prang...
Bu ketua dengan santainya mendorong meja itu sampai kebalik dan semua gelas dan piring pecah.
"Makan tuh meja kesayangan lo." sinis Rista lalu menabrakkan bahunya dengan sengaja pada kakak kelas itu yang masih tercengang.
"BU KANTIN MINTA GANTI RUGI SAMA KAKAK KELAS SONGONG ITU AJA YA. KALO DIA GAK ADA DUIT, IBU KANTIN BOLEH MINTA SAMA GUA!" teriak Bu Ketua dengan santai.