#9

1426 Words
Aca menggigit bibirnya dan menggeleng. "Nggak, aku cuman bosan aja di rumah," ujar Aca pelan. "Eeemmm gitu," ujar Fariq menahan senyumnya. "Pulang yuk, besok kerjaanku numpuk lagi, mau bertemu dengan rekanan kerja," ujar Fariq bangkit dari duduknya melangkah ke mejanya dan merapikan semua berkasnya. "Sama Tenti lagi?" tanya Aca dan ia menyesali kalimat yang ia ucapkan, Fariq menatap mata Aca dan Aca segera menunduk. "Emang kenapa, kamu nggak suka aku bareng Tenti?" tanya Fariq masih menatap Aca dan menahan senyumnya lagi. "Cuman nanya aja," ujar Aca bangkit dari duduknya menuju pintu. "Lihat kondisi besok, siapa yang siap menemaniku kerja seharian, ada tiga orang yang harus aku temui besok," ujar fariq lagi. "Ca, tunggu aku," Fariq melangkah ke pintu mengejar Aca yang sudah menghilang di balik pintu. **** Fariq melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dan tersenyum saat mendapati Aca yang kembali tidur. Caaaa ca, kamu itu capek, kok maksain ikut lembur, apa ia cemburu pada Tenti? Entahlah.. **** "Caaa sudah sampai, Acaaaa," perlahan Fariq menepuk pipi Aca pelan yang membuka matanya dengan berat. "Ngantuk banget Riq," ujar Aca dengan suara serak. Memejamkan matanya lagi. "Aku gendong?" tanya Fariq mendekatkan wajahnya pada wajah Aca. Dan Aca kaget lalu berusaha membuka matanya lebar-lebar. "Ih...," Aca membuka pintu dan Fariq cepat berputar membukakan pintu mobil lebih lebar lagi. Beriringan mereka memasuki rumah dan Aca melambaikan tangan saat Fariq melangkah ke luar pagar, menoleh pada Aca dan tersenyum melihat wajah lelah yang berusaha tersenyum. **** Saat akan masuk ke mobilnya, tiba-tiba Fariq mendengar suara berat di belakangnya. "Bisa saya bicara sebentar?" Fariq menoleh dan wajahnya menegang saat melihat Reyhan. "Apa perlu saya bicara dengan orang yang telah menikam kakak saya dari belakang dan juga membuat tunanga saya serta keluarganya menjadi gunjingan orang-orang di kota ini karena anda meninggalkan mereka dengan wanita yang lebih kaya dan bisa menjamin hidup anda lebih nyaman?" suara Fariq terdengar dingin, ia melihat mata bingung Reyhan. "Anda lupa pada teman baik yang telah memberi jalan agar usaha anda lebih lancar tapi anda rebut tendernya hingga ia hampir bangkrut," Fariq melihat wajah Reyhan yang kaget dan Fariq tersenyum sinis. "Tapi saya yakin anda bohong jika anda mengaku tunangannya, dia tidak akan mudah melupakan saya, saya cinta pertamanya dan dia melakukan apapun yang pertama dengan saya, saya yakin meski menikah dengan anda, dia masih akan menyebut nama saya dalam setiap hembusan napasnya," kalimat Reyhan seolah hal menggelikan bagi Fariq. "Oh ya, segitu yakinnya anda, asal anda tahu, dia menemani saya lembur di kantor sampai malam seperti ini karena ia tidak ingin saya ditemani sekretaris saya, dia accounting manajer, mau-maunya menemani saya lembur, meski badannya lelah, apa anda masih yakin dia begitu mengingat anda," terdengar tawa Fariq yang mengejek dan masuk ke mobilnya, menutup pintu dengan keras dan melajukan mobilnya dengan cepat. Reyhan menatap mobil Fariq dengan tatapan marah, ia hanya kurang yakin, apa benar yang dikatakan laki-laki itu. **** Pagi hari Fariq melewati ruangan Aca dan ia melirik, di sana ia melihat Aca yang sedang konsentrasi pada pekerjaannya. Fariq menelpon manajer pemasaran dan mengajaknya menemui klien mereka yang baru. Berdua mereka melewati lobi dan mengendarai mobil perusahaan. **** Makan siang kali ini Aca makan sendiri di ruangannya. Ia memesan lewat aplikasi online. Tak lama terlihat Tenti masuk ke ruangannya. "Ibu kok nggak ikut bapak ke klien hari ini?" tanya Tenti menyelidik. Aca menatap Tenti tanpa senyum dan melihat Tenti yang takut menatap wajahnya. "Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?" tanya Aca. "Eh nggak juga sih, nggak harus kalau ibu nggak mau jawab, soalnya ibu kayak akrab banget sama bapak, kayak tadi malem ibu pulang jam berapa sama bapak, ibu sampe ketiduran kan?" mulut usil Tenti masih saja nyerocos. Dan muncul kepala-kepala staf Aca dari kubikel masing-masing dengan wajah penuh tanya. "Apa kebiasaan kamu, mengintip urusan kami, perlu kamu tahu, sebelum kami di sini, sejak sma kami terbiasa bersama, kadang saya di rumahnya, atau dia yang berada di rumah saya, ada pertanyaan lagi?" tanya Aca menatap Tenti sambil memajukan wajahnya. Tenti terlihat takut dan menggeleng lalu ke luar dari ruangan Aca. "Oooh jadi ibu sama bos teman sejak sma ternyata, tapi kok galak ya sama ibu?" tanya Ryan dari kubikelnya. "Di sini aku bawahannya Ryan, kami harus tetap profesional," sahut Aca menyudahi makan siangnya. **** Lepas maghrib Aca melangkah menuju mobilnya. Ia mendengar langkah tergesa di belakangnya dan merasakan lengannya ditarik. "Ca, ikut aku bentar ya, ke mall, aku belum ngasi kado ke papa, pilihkan ya Ca, bentaaar aja," pinta Fariq dan Aca akhirnya mengangguk lalu mengikuti langkah Fariq ke mobilnya. **** "Ca, pilihkan yang bagus untuk papa," ujar Fariq saat mereka sudah sampai di gerai jam tangan. Aca melihat-lihat dan menunjuk salah satu model yang terlihat maskulin. "Kayaknya ini deh Riq yang cocok untuk papa," ujar Aca. Terlihat Fariq setuju dan Aca kembali berkeliling gerai jam tangan bermerek itu. Namun tiba-tiba Aca kembali mendekati Fariq dan memeluk lengan Fariq dengan erat. Kebetulan Fariq sudah membayar jam tangan yang dibelinya. "Ada apa Ca?" tanya Fariq, Aca hanya menggeleng. "Kita cepat pergi dari sini ya Riq," pinta Aca memelas. Fariq masih bingung dan ia menemukan jawabannya saat dari jauh di salah satu gerai makanan ia melihat Reyhan dengan seorang perempuan dan wajah keduanya sama-sama tegang. "Kau tenang saja, sebisa mungkin wajah kamu berekspresi datar, tampilkan wajah kamu setenang mungkin, kita lewat di dekat mereka, pandanganmu lurus, jangan tolah-toleh, ok, kita jalan, gandeng lenganku Ca, tubuhmu merapat ke tubuhku, ya bagus," Fariq dan Aca melangkah pelan, melewati keduanya yang tampak marah. "Aku hanya tak menyangka jika aku hanya kau jadikan pelampiasan nafsumu, ternyata kau main belakang dengan pengusaha kaya, dasar w************n" "Apa tidak lebih murah dirimu, yang mau menjadi laki-laki pemuas nafsuku agar kau mendapat uang banyak, kembalikan semua asetku, semua masih atas namaku, aku tidak bodoh, kau kira aku tidak tahu siapa dirimu" Teriakan keduanya nyaring terdengar pengunjung gerai makanan itu, benar-benar tak tahu malu, telapak tangan Aca dingin, ia genggam tangan Fariq, lalu Aca tarik kembali, namun Fariq menahannya. "Jangan Riq, takut kamu jijik, " terdegar suara pelan Aca. "Nggak papa, biar kamu nggak semakin dingin," ujar Fariq. Tiba-tiba ada suara berteriak memanggil Aca, namun Aca dan Fariq tetap berjalan lurus, bahkan Aca mengeratkan genggamannya dan melangkah semakin cepat. "Ca, pelan-pelan, biarkan dia menyusul kita, biarkan dia tahu jika kita sudah sangat dekat," ujar Fariq memeluk pinggang Aca. Aca memejamkan matanya dan melangkah di samping Fariq. Sesampainya di tempat parkir ia segera masuk ke dalam mobil dan menyandarkan kepalanya. Selama perjalanan Aca diam saja, sesekali Fariq melirik Aca, melihat wanita yang dicintainya memejamkan mata, ada perasaan menyesal dalam diri Fariq telah mengajak Aca ke mall malam ini. "Kok berhenti di rumahmu Riq?" tanya Aca. "Kalau langsung ke rumah pasti perasaanmu masih nggak nyaman, di sini kan nggak rame paling Bu Fera sama pelayan-pelayan yang lain itupun mereka di belakang semua," ujar Fariq membukakan pintu untuk Aca. Sesampainya di dalam rumah Bu Fera sudah menyiapkan minuman hangat dam kudapan. "Riq maaf, aku boleh tiduran kan?" tanya Aca dan Fariq mengangguk, mengantar Aca ke kamar tidur untuk tamu. Aca menutup pintu dan membuka blazernya. Lalu merebahkan diri, tidur menyamping dan meringkuk. Air matanya mengalir deras, ucapan kedua manusia b***t di gerai makanan tadi memukul harga dirinya. Merasa bodoh dan sia-sia Aca dua tahun menangisi laki-laki pembohong itu. Air mata Aca masih terus mengalir hingga akhirnya Aca tertidur karena lelah. Satu jam kemudian Fariq baru selesai mandi dan sudah berpakaian casual, kaos lengan pendek dan celana Jeans. Pelan-pelan Fariq membuka pintu kamar dan mendapati Aca yang tertidur pulas. Fariq duduk di tepi kasur dan melihat sisa air mata Aca. Kembali ia marah pada laki-laki itu. Disentuhnya perlahan bahu Aca, tanpa sadar Fariq mencium bahu Aca dan Aca bergerak perlahan, ia kaget saat melihat Fariq yang mencium lembut bahunya. "Riq, jangan," ujar Aca mendorong kepala Fariq perlahan. "Jawab dengan jujur Ca, benarkah kamu telah melakukan semuanya dengan laki-laki itu, ia pernah mengatakan padaku jika kau akan sulit melupakannya karena ialah yang pertama bagimu, benar Ca?" tanya Fariq menatap mata Aca lebih dekat. Aca mengangguk dan Fariq diam saja, meski hatinya merasa diremas. "Yah dia cinta pertamaku, dia yang pertama menciumku, memelukku dan membuangku ke jurang yang paling dalam, hingga aku sulit untuk ke luar dari jurang itu," jawab Aca yang langsung disambut Fariq dengan pelukan erat dan hembusan napas lega. Mengusap lembut rambut Aca dan Aca masih bingung menerima perlakukan Fariq. Ia mendorong pelan tubuh Fariq dan memandangnya dengan tajam. "Kau pasti mengira aku telah...," belum selesai Aca berbicara Fariq telah melabuhkan bibirnya pada bibir Aca. Kembali Aca melihat pendar aneh di mata Fariq, Aca memejamkan matanya membiarkan pendar itu menyala dalam pikirannya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD