“Eh ada nak Fariq ya, ayo duduk, ibu buatkan teh hangat ya?" terdengar suara lembut ibu Aca.
Fariq segera berbalik dan mengangguk hormat.
"Ah terima kasih ibu, saya harus ke kantor banyak pekerjaan yang masih saya tinggal di sana," ujar Fariq sambil tersenyum.
"Wah ini sudah jam sembilan nak Fariq, pasti nanti pulangnya sangat malam, jangan lupa makan dan minum vitamin," ibu Aca mendekati Fariq yang masih saja berdiri.
"Saya mohon pamit ibu," ujar Fariq lagi.
"Riq, kamu sama siapa di kantor?" tanya Aca pelan dan wajahnya lebih banyak menunduk.
"Tenti," jawab Fariq singkat dan tanpa senyum.
"Aku ikut, tunggu sebentar aku mandi dan ganti baju," Aca melesat ke kamarnya dan ibu Aca mengajak Fariq duduk.
"Ibu pikir nak Fariq sudah pulang tadi, ibu melihat dari jendela di kamar ibu, laki-laki itu datang lagi, dan d**a ibu jadi sesak mengingat almarhum suami ibu, dia tidak sadar telah membuat kami malu, malu pada semua orang, dan Aca yang masih saja mengingatnya, ibu titip Aca nak, jaga dia untuk ibu, bantu Aca melupakan laki-laki itu, dua tahun berlalu, Aca masih saja mengingatnya, dia masih sendiri, ibu jadi kawatir," ibu Aca mengusap air mata yang perlahan menetes.
Fariq menangguk perlahan dan merasakan sesak dadanya saat orang tua berwajah teduh di depannya meneteskan air mata.
"Baik ibu, akan saya jaga Aca demi ibu," jawab Fariq pelan.
Tak lama Aca muncul bercelana Jeans, kaos lengan panjang dan sneakers, rambut sebahunya dijepit asal ke atas dan hanya sapuan bedak tipis serta lipstik warna pink nude. Fariq menatap Aca sejak awal dia melangkahkan kaki menuju ke tempatnya duduk.
"Ada yang salah dengan dandananku Riq?" tanya Aca dan Fariq tersentak kaget.
"Ng..nggak Ca, nggak papa, ayo berangkat, ibu kami pamit ke kantor," Fariq mengangguk hormat, dan Aca mengekor di belakangnya.
****
"Duh kok lama sih pak saya nunggu dari tadi, loh kok Bu Anataya ikut?" ujar Tenti yang urung menyambut Fariq di pintu, yang awalnya tersenyum semanis mungkin jadi cemberut.
"Aku yang ngajak," sahut Fariq tanpa senyum.
"Loh mau ke mana Bu Anataya?" tanya Fariq waktu melihat Aca yang berjalan mendahuluinya.
"Ke ruangan saya Pak," jawab Aca.
"Ikut ke ruangan saya bu, saya ada perlu sebentar," Fariq berdiri menatap wajah Aca yang terlihat bingung.
"Cepat bu, tidak perlu mikir, ibu hanya perlu melangkah ke ruangan saya," suara Fariq terdengar memaksa.
Dan Aca akhirnya melangkah mengikuti Fariq.
Tenti menghentakkan kakinya berkali-kali.
"Ih sebel, sebeeeeel, selalu saja begini, ada saja gangguan, tadi pagi terlanjur senang eh, si bos malah enak-enak ngobrol sama klien, sekarang sudah ngerencanain berbagai jebakan eh malah ngajak manajer si muka jutek, aaaaah sebel deh," Tenti mengacak-ngacak rambutnya.
****
"Tidurlah kalau kamu capek, tungguin aku, paling bentar kok, ini cuman lihat dokumen perjanjian takut ada yang salah," ujar Fariq saat melihat Aca menguap, sambil menutup mulutnya. Dan berbaring di sofa panjang yang ada di ruangannya.
Setengah jam lewat Fariq masih asik dengan pekerjaannya. Ia melirik Aca yang sudah mulai lelap dengan berbantal pada bantalan sofa yang empuk.
Fariq tersenyum memandang Aca dari tempat duduknya, ia tak habis pikir apa yang membuat Aca ingin ikut ke kantor padahal ia tahu wajah Aca terlihat lelah.
Fariq melangkah mendekati Aca, duduk di dekat Aca dan tersenyum memandamg wajah cantik di depannya.
****
Tenti menghela napas dan menutup mapnya, ia berdiri dan berjalan ke ruangan Fariq ingin memberikan dokumen untuk ditanda tangani Fariq.
Ia buka pintu perlahan dan kaget serta kesal melihat bosnya yang tersenyum memandangi Aca yang sedang tidur, sejenak Tenti terpana melihat bosnya tersenyum, baru kali ini ia melihat wajah tampan itu tersenyum dan menggetarkan hatinya. Namun kembali ia kesal saat menyadari senyuman itu bukan untuknya.
"Ehm, maaf menggangu, dokumen sudah semua pak, tinggal bapak periksa dan tanda tangan," ujar Tenti dan Fariq kaget lalu bangkit menuju meja kerjanya.
Fariq memeriksa dokumen dalam map dan mengangguk.
"Makasih, kamu boleh pulang," ujar Fariq.
"Aduh pak sudah malam ini boleh ikut mobil bapak?" tanya Tenti.
"Ada mobil perusahaan di depan lobi, memang aku siapkan kawatir kita pulang malam, silakan," ujar Fariq lugas. Wajah Tenti terlihat kecewa.
"Ada hubungan apa bapak dengan ibu Anataya?" tanya Tenti penasaran.
"Apakah pertanyaanmu ada hubungannya dengan perusahaan?" tanya Fariq menatap tajam pada Tenti.
"Oh maaf tidak Pak," jawab Tenti gugup.
" Silakan ke luar dari ruangan saya," usir Fariq lagi.
Dan Tenti ke luar dari ruangan Fariq dengan marah.
"Huh dibela-belain dandan cantik malah di kacangin, dasar bos gila, nggak tahu selera bagus," ujar Tenti menyibakkan rambutnya.
****
Jam setengah dua belas malam semua pekerjaan selesai. Fariq bangkit dari duduknya dan berjalan ke tempat Aca berbaring.
Fariq melihat wajah Aca yang gelisah, keringat memenuhi dahinya. Ia ambil tisu dan mengusap dahi Aca.
Fariq duduk kembali di sisi Aca, membelai pipinya dan menunduk mendekatkan bibirnya pada bibir Aca.
Ia lumat perlahan, berusaha menormalkan dadanya yang bergemuruh, dan kaget saat Aca memeluknya sambil meneteskan air mata. Fariq semakin erat memegang bahu Aca, agak terengah saat ia lepaskan pagutannya dan samar ia mendengar Aca berbisik.
"Riq," dan Fariq tersentak melepaskan pegangannya pada bahu Aca, meraih tubuh Aca dalam pelukannya.
"Maafkan aku, sekali lagi aku sudah lancang Ca," bisik Fariq pelan, mengusap rambut Aca.
" Aku yang minta maaf Riq, aku tak bisa membalas apa yang kamu rasakan, aku tak bisa, mungkin takkan bisa lagi, kalaupun dekat paling hanya sebatas sahabat," Aca menangis di d**a Fariq.
Fariq melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Aca, mendekatkan wajahnya pada wajah Aca.
"Apa mungkin kita lebih baik saling mengabaikan Ca, aku lelah menyamakan langkah di sisimu," ujar Fariq mencoba menahan rasa sakit di dadanya.
Aca menggeleng dengan keras, pipinya masih dipegang erat oleh Fariq.
"Jangan Riq, jangan abaikan aku, aku butuh kamu di sisiku," rintih Aca.
"Melangkahlah bersamaku Ca, aku akan menunggu hatimu siap menerimaku," pinta Fariq.
Aca diam saja tak memberi jawaban ia lepaskan tangan Fariq di pipinya dan menunduk.
"Aku tak mau kau menunggu hal tak pasti Riq, aku tidak mau kamu tersiksa menungguku, biarlah waktu yang menjawab, kita jalani saja, aku tak tahu kapan bisa benar-benar melupakannya, ia terlalu kuat bersarang di dadaku, besarnya cinta dan benciku padanya sebanding Riq, aku mau menghilangkannya dari hatiku, hanya tak tahu caranya," ujar Aca terlihat lelah.
"Kau ingin tahu cara agar cepat melupakannya Ca?" tanya Fariq dan Aca mengangguk.
Fariq meraih dagu Aca, mendekap badan Aca dengan tangan satunya lagi.
"Pandang wajahku Ca, jangan pejamkan matamu," pinta Fariq. Ia mendekatkan bibirnya pada bibir Aca, menggigit bibir bawah Aca dan melumatnya dengan lembut. Aca melihat sinar mata Fariq yang lembut, berpendar pelan dan deru napasnya yang menyapu lembut permukaan kulit wajahnya.
"Riq," ujar Aca setelah mendorong tubuh Fariq agak menjauh.
"Maaf, kamu suka?" tanya Fariq sambil tersenyum dan Aca diam saja, mengalihkan pada hal lain.
"Riq, kamu kenapa ngajak Tenti tadi pagi dan ngilang seharian?" tanya Aca sambil menunduk.
"Dia sekretarisku, kalau aku ngajak kamu malah aneh, kenapa, kamu nggak suka?" tanya Fariq, Aca kembali diam.
"Dia sepertinya menyukaimu," sahut Aca.
"Aku nggak bisa ngatur perasaan orang Ca, terserah dia, yang penting aku nggak," jawab Fariq.
"Tapi...," Aca tak melanjutkan ucapannya saat Fariq menarik bahunya dan menatapnya dari jarak dekat.
"Apa karena ada Tenti tadi hingga kamu mau menemaniku di sini meski kamu lelah?" tanya Fariq dan Aca terperangah
****