Aku nunggu jawaban kamu Riq
Eee..jawaban kamu yang bikin aku reflek ngelakuin itu Ca, aku ngerasa kamu jadi kerja mati-matian demi perusahaan, padahal aku nggak pernah nyuru kamu kayak gitu
Aku jawab gitu karena kamu terlalu masuk ke masalah pribadi aku, jangan pernah ngomentari aku lagi Riq, jangan perhatiin aku
Dan Aca memutus pembicaraan mereka begitu saja.
Razel mendesah lalu mengajak adiknya duduk di sofa ruang tamu.
"Aku jadi cemas mikir Aca, Riq, segitu sakit hatinya dia sampe kayak gitu, b******k, bener-bener b******k tuh laki-laki," Razel terlihat marah. Lalu menatap wajah putus asa adiknya.
"Kayaknya tidak ada jalan buatku kak, Aca sulit diraih, aku hanya ingin dia berbagi kesedihannya denganku, aku jadi ikut sakit saat dia menangis di dadaku," ujar Fariq dan Razel menepuk pundak adiknya.
"Sabar Riq, pelan-pelan aja, kayaknya memang nggak bisa jika kamu terlalu ngepush dia," ujar Razel berusaha menenangkan adiknya.
"Oh iya aku lupa, besok ulang tahun papa, mama tadi bilang sepulang kantor ajak Aca ke rumah," ujar Razel sambil berdiri hendak pamit.
"Aku nggak berani ngajak kak, mama nelpon sendiri aja ke Aca, biar aku kirim nomor ponsel Aca ke mama," ujar Fariq terlihat lelah.
"Oh iya Riq, lusa aku balik ke Papua, ikut?" tawa Razel mulai terdengar.
"Yah kak, nanti, jika Aca benar-benar nolak aku," jawaban Fariq semakin membuat tawa Razel memenuhi ruang tamu.
****
Seharian Aca tidak melihat Fariq, ia berusaha untuk tidak bertanya dan berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
Siang hari saat makan di cafe seperti biasanya, staf Aca terlihat sedang asik bergosip.
"Eh bos jutek amat sejak pagi ya"
"He'eh bener, tapi si Tenti yang akhirnya terkabul keinginannya"
"Emang kenapa?"
"Akhirnya si bos ngajak dia ke luar"
"Yaaah kok nggak ngajak aku sih?"
"Siapa juga yang mau ngajakin kamu, wanita kok nggak ada seksi-seksinya"
"Heh matamu aja yang juling, ini mah lemak seksi roti tawar tiada tara,siapapun yang bareng aku bakalan tertidur dengan mesra di dadaku"
"Bener, jadi kasur sekalian"
Dan pecahlah tawa semuanya yang ada di cafe itu, Aca hanya mengernyitkan dahinya perlahan dan menghabiskan makan siangnya.
****
Aca kaget saat ada nomor asing yang menelponya sejak tadi siang, terpaksa ia angkat
Halo Aca sayaaang ini mama nak
Eh mama, iya ma
Nanti malam ke rumah ya sayang, papanya Fariq ulang tahun, harus datang ya jangan kecewain mama
Iii iya ma
Dan Aca mendesah perlahan, mau tidak mau ia harus ke rumah itu.
****
Jam delapan malam Aca baru sampai di rumah Fariq. Aca disambut mama Fariq dan di ajak ke ruang makan, di sana sudah ada papa Fariq, Razel dan wanita anggun dan cantik berada di dekat Razel, yang segera dikenalkan padanya.
"Ini Verina, Ca, kalau nggak ada halangan kami akan bertunangan bulan depan dan nggak sampe setahunlah kami akan nikah," ujar Razel.
Verina mengulurkan tangannya yang disambut hangat oleh Aca sambil tersenyum.
"Ini Aca sayang, sahabat adikku sejak sma, sampe sekarang kok ya sekantor," ujar Razel.
"Kita makan malam aja duluan ya, Fariq emang ke mana sih Ca, kalian kok nggak bareng sih?" tanya mama Fariq.
"Dia sibuk sejak pagi ma, sampai tadi saya mau ke sini nggak ketemu," ujar Aca.
"Bentar lagi nyampe Fariq ma, paling mobilnya dah ada di depan," ternyata benar ucapan Razel, terdengar Fariq menuju ruang makan.
Menyapa semuanya dan menyalami Verina. Lalu acara makan malam berlangsung dengan hangat.
Meski Fariq duduk dekat Aca, ia sama sekali tak menyapa Aca. Ia asik dengan makanannya. Aca sempat melirik laki-laki yang ada di dekatnya, lalu menghela napas.
"Ca, nambah lagi ya?" suara mama Fariq menyadarkan lamunan Aca.
"Nggak ma makasih," sahut Aca.
Aca melihat Fariq pamit sebentar menuju kamarnya, ia terlihat melangkah cepat.
****
Sesampai di kamarnya, Fariq membuka jas dan kemejanya, menyisakan kaos tanpa lengan yang menempel ketat di badannya. Ia rebahkan badannya.
"Aku turuti kemauanmu Ca, meski aku ingin memelukmu saat mata sedihmu memandangku," ujar Fariq lirih sambil terpejam.
Tak lama Fariq bangun dan melepas semua bajunya yang tersisa di badannya dan melangkah ke kamar mandi.
Setelah selesai, ia menggunakan kaos lengan pendek dan bercelana jeans. Melangkah kembali ke ruang makan, namun saat hendak turun ia melihat Aca yang mendekat dengan ragu menatap Fariq.
"Kamu kenapa?" tanya Aca ragu. Fariq mendesah pelan lalu menatap Aca.
"Bukankah seperti ini yang kamu inginkan, aku nggak usah perhatiin kamu?" Fariq berlalu dari hadapan Aca.
Ah wanita, aku tidak pernah mengerti kamu..
Fariq pamit pada semua yang ada di ruang tamu karena ada yang harus ia selesaikan malam ini.
Mama Fariq menatap Razel sambil mencoba bertanya karena ia melihat ada hal aneh antara Aca dan Fariq, Razel hanya mengedikkan bahunya.
****
Aca melangkah pelan menuruni tangga, entah mengapa ia merasa Fariq jadi menjauhinya, apakah ia terlalu keras pada Fariq semalam, tanya itu berkelebat di pikiran Aca.
****
Fariq melajukan mobilnya tanpa arah, ia tidak tahu harus kemana, tiba-tiba saja ia berhenti di depan rumah Aca, meski ia tahu Aca masih ada di rumah orang tuanya.
Setengah jam kemudian ia melihat mobil Aca yang baru sampai, ia melihat Aca turun dan yang lebih mengagetkan tiba-tiba saja ada laki-laki yang setengah berlari mendekati Aca, menarik tangannya dan memeluk Aca, terlihat Aca yang meronta.
Dan tergesa Fariq berlari mendekati Aca, melayangkan pukulan ke rahang laki-laki itu dan menarik Aca ke dalam pelukannya.
Laki-laki itu terhuyung dan memegang rahangnya.
"Jangan coba-coba mendekati tunangan saya, apa perlu saya laporkan pada pihak berwajib karena ini bukan yang pertama anda menganggu tunangan saya," Fariq terdengar mengancam.
"Tidak Ca, aku yakin dia bohongkan, aku masih melihat kabut di matamu dan tak mungkin kau akan bisa melupakan aku," kata Reyhan tak percaya.
"Kamu bisa melakukan hal keji padaku, membohongiku selama tiga tahun, menjalin hubungan dengan beberapa wanita di belakangku, lalu aku harus tetap mengingatmu, aku tidak bodoh, aku memilih laki-laki ini, laki-laki yang bisa membantuku melupakan laki-laki pembohong, pembunuh dan tak tahu malu, setelah menyiramkan kotoran pada wajah keluarga besarku, kamu masih berani muncul dan mengharap kita bersama lagi, benar-benar binatang kamu," Aca menarik tangan Fariq, membuka pagar dan menutupnya dengan suara keras.
Sesampainya di dalam rumah, Fariq melepaskan pelukannya di bahu Aca, ekspresinya kembali dingin dan berbalik menuju pintu. Aca menahan lengan Fariq. Fariq diam saja tak menoleh.
Perlahan ia lepaskan tangan Aca di lengannya, dan melangkah pelan ke pintu, berharap Aca akan memanggilnya.
"Riq, jangan pergi."
Dan hati Fariq bersorak riang...
****