SEMBILAN WARNING 21+

1106 Words
Siang yang panas tak membuat duvessa mengurungkan niatnya untuk tetap pergi menuju markas utama karna orang yang menyusup ke dalam kelompoknya sudah tertangkap dan akan di eksekusi sendiri olehnya,dengan wajah yang angkuh itu dirinya duduk di kursi di depan pria muda yang terduduk dengan tangan dan kaki yang terikat,senyum smrik duvessa terukir jelas di bibirnya,membuat pria itu menatapnya dengan penuh amarah. "hah,jadi kau yang mencoba mengacaukan semua usahaku hah,wah kau cukup berani sekali,siapa yang menyuruhmu masuk ke dalam kelompokku.." "memangnya kau siapa,berani sekali kau berbicara seperti ini padaku." "hah,kesabaranku sudah habis.." Dengan penuh amarah duvessa melempar bangku yang di dudukinya kemudian menendang pria sombong di depannya dengan sekuat tenaga hingga pria itu teriak kesakitan,duvessa menyeringai melihat pria itu kesakitan,membuat dirinya terus menendang dan memukul pria itu hingga pria itu akhirnya menyerah. "hah,aku akan mengatakan semuanya,aku mohon ampuni aku.." "ternyata kau tidak bodoh sialan,siapa yang menyuruhmu masuk ke sini.." "dia brian painter,ayah dari eric painter kekasihmu.." Mendengar hal itu membuat semua orang melihat ke arah eric yang terpaku mendengar pernyataan dari orang di hadapannya,identitasnya terbongkar begitu saja di depan semua anggota duvessa,dengan penuh amarah dia menatap ke arah eric. "usir mereka berdua dari sini,aku tak mau melihat wajahmu lagi eric,pergi sekarang." "duv,dengarkan penjelasanku,aku tidak tau apapun mengenai hal ini,aku.." "cukup,rai usir dia dan orang ini.." "baik nona,eric menurutlah.." Rasa cinta yang memenuhi hatinya kini lenyap seketika,orang yang di cintainya mengkhianatinya,duvessa meninju cermin di hadapannya menyebabkan luka sobekan yang cukup panjang,darah mengucur dari tangannya membuat axel yang melihatnya pun menghampirinya. "duv,kenapa kau begini,hah jangan menjadi bodoh karna perasaan,hilangkan rasa mu,kita penjahat dunia bawah,jangan membawa perasaan mu.." "kau benar,bawakan aku perban,akan ku obati sendiri.." "baiklah,oh iya henry datang tadi pagi meminta beberapa berlian langka lagi,griffin akan langsung datang hari ini jam 7 nanti.." "baiklah,jika mereka sampai,tunggulah aku di ruangan bawah.." "baiklah,aku akan turun dulu.." Duvessa mengangguk dan axel pun meninggalkannya sendiri di ruangan itu,langit pun mulai gelap,griffin dan beberapa orangnya sampai di sana,axel pun membawa mereka ke ruang yang di suruh duvessa,tak lama duvessa pun masuk ke ruangan yang sama. "hai,kau sangat berantakan duv,ada apa ini.." "tidak,hanya melakukan pemanasan saja,ada apa kau langsung ke sini.." "aku butuh ini.." menyerahkan selembar foto "wah,hahaha,kau sanggup membayar berapa grif,aku tak bisa mengambil resiko yang besar.." "$ 500.000,bagaimana..??" "hah,baiklah,kau membutuhkan berapa banyak.." "hanya sedikit,100.000 bungkus dengan isi full duv.." "hah,kau gila,baiklah,aku akan menyiapkannya besok,kau tunggulah kabar dariku besok.." "baiklah,tak sia-sia aku jauh-jauh dari luar wiayah,kau memang yang terbaik,baiklah,henry berikan uangnya pada mereka.." "ya tuan.." meletakkan 1 koper di atas meja "ini uang mukanya dulu,setelah pekerjaanmu selesai,aku akan memberikan selebihnya.." "hah,baiklah,axel bawa ini.."melempar koper " baik nona,rai jaga nona.." "baiklah duv,sampai jumpa besok,senang bekerja sama denganmu.." "ya sama-sama,aku tak mengantarmu.." Griffin pun hanya tersenyum kemudian berlalu dari sana,duvessa memerintahkan beberapa orang kepercayaannya mengambil barang yang di pesan griffin di tempat tersembunyi secara diam-diam,rai dan empat orang lainnya pun mengikuti rai dari belakang,duvessa berdiri dari tempatnya dan menuju kamarnya dan bersiap mandi,setelah selesai mandi,dirinya mengerjakan beberapa dokumen yang di bawa dari kantornya pagi ini,axel yang melihatnya pun menghampiri duvessa yang sedang melihat dokumen dengan fokus. "apa kau butuh bantuan duv.." "oh,kau bisa kerjakan bagian keuangan ini,periksalah dengan teliti,ok.." "baiklah,kau mau makan sesuatu.." "tidak,aku akan memikirkannya nanti." "baiklah,aku akan memeriksa ini dulu,kalau kau lapar panggil saja.." Duvessa pun mengangguk tanpa melihat axel yang berdiri di depannya,axel pun duduk di sofa di dalam ruangan itu dan melihat dokumen keuangan tersebut,malam pun semakin larut,akhirnya mereka berdua menyelesaikan semua dokumen penting tersebut,duvessa dan axel langsung menuju lantai dasar dan melihat rai sudah menyiapkan pesanan griffin. "baiklah,kalian bisa istirahat,axel suruh beberapa orang berjaga di depan dan belakang,aku akan istirahat di sini malam ini.." "baiklah duv,aku akan memerintahkan beberapa orang.." "baguslah,aku istirahat dulu,rai kerja bagus." Duvessa meninggalkan mereka yang membungkukan badan mereka kepada duvessa.keesokan harinya duvessa bangun lebih awal dan menghubungi griffin,2 jam berlalu griffin pun sampai di sana,dia tersenyum puas melihat kerja duvessa. "kau memang bisa di andalkan duv,henry,berikan sisanya pada mereka.." Henry pun memberikan beberapa koper berisi uang dan duvessa menyeringai melihat semua uang itu,dia pun melihat ke arah griffin dan mengangguk pasti. "baiklah,aku akan membawa ini,sampai jumpa lagi.." "ya baiklah,sampai jumpa.." Griffin pun meninggalkan tempat itu,duvessa melihat ke arah semua orang-orang nya dan memberikan satu koper penuh kepada mereka,semua orang di ruangan itu bersorak kegirangan. "baiklah,kalian boleh bersenang-senang dengan uang itu,rai ayo pergi ke kantor sekarang.." "baiklah,ayo duv.." Mereka pun meninggalkan markas mereka menuju kantor tempat biasa duvessa menghabiskan waktu dari pagi hingga sore,di lobby utama pun dia melihat eric yang sudah menunggunya dengan wajah cemas,namun duvessa tak menghiraukannya dan berlalu begitu saja,rai menghalangi eric yang akan mengejar duvessa yang masuk ke dalam lift. "sebaiknya kau tak menemuinya dulu eric,keadaannya sedang tidak baik.." "hah,aku salah sudah membohonginya,seharusnya aku jujur dari pertama bertemu,bahkan tuan zeroun tau siapa aku dan tak meragukan aku.." "aku akan bicara pada duvessa nanti,ok,kau tunggu saja kabar dariku.." "terimakasih rai,kau memang yang terbaik teman." "ya,selalu,aku harus masuk.." "baiklah,sekali lagi terimakasih.." Rai pun tersenyum dan mengangguk,kemudian dirinya masuk ke lift dan hilang dari pandangan eric yang tersenyum kecut karna kecewa,eric pun pergi dari sana menuju perusahaan ayahnya sendiri,saat sampai di sana dirinya langsung menuju ruangan ayahnya berada. "kau puas sekarang ayah,dia sungguh membenciku dan tak mau melihatku lagi.." "eric,sophia lebih baik dari gadis jahat seperti dia,dan juga dia bagian dari bos dunia bawah yang jahat,aku tak mau terlibat dengan perusahaan dan semua urusan oxlay eric,kau harus mengerti,aku sudah mengizinkanmu menjadi kacung zeroun selama 7 tahun,sekarang kau ingin menikahi anaknya,tidak akan ku setujui.." "hah,kau tak berhak mengatur hidupku ayah,aku mencintainya,tak akan ku nikahi sophia.." Dari balik pintu ruangan itu seseorang menguping pembicaraan mereka tanpa mereka tau,wanita itu mendengarkan percakapan mereka dari awal hingga akhir,membuat sebuah niat jahat tertanam di hatinya,setelah mendengarkan semua perbicaraan anak dan ayah itu,wanita tersebut pergi dari sana,eric dengan kesal pergi meninggalkan ruangan ayahnya dan membanting pintu ruangan itu dengan sekuat tenaga membuat orang-orang terkejut karna bunyi hempasan pintu yang kuat. "hah,dasar tukang ngatur.." sambil mengacak rambutnya. Eric pun pergi dari sana tanpa memperdulikan orang-orang yang melihat dirinya,saat makan siang duvessa keluar bersama axel dan rai menuju sebuah restoran dan makan bersama axel dan rai. "rai,apa kau sudah melakukan yang aku perintahkan sebelumnya.." "sudah,semua kontrak dengan perusahaan davies sudah di cabut,mereka sekarang mungkin akan menjual beberapa saham mereka.." "belilah semua saham itu menggunakan namamu,ambil alih perusahaan itu.." "baiklah duv.." "axel,urus pemindahan kekuasaan untuk ezra adikku ok.." "baik duv,kenapa bukan untukmu saja.." "karna ezra tak sama seperti ayahnya,tapi jangan beritahu ezra dulu ok.." Axel pun mengangguk tanda mengerti,rai hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum penuh arti pada duvessa,setelah selesai makan siang mereka pun kembali ke kantor dan memulai pekerjaan mereka lagi,tak terasa matahari hampir tenggelam,semua pekerjaan mereka pun selesai,duvessa pun membereskan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang. "duv,kau sudah selesai.." "sudah,ayo balik,aku ingin mandi air hangat saat ini.." "baiklah,axel ayo.." mereka bertiga pun pergi dari kantor menuju rumah utama di pusat kota,sesampainya di rumah,duvessa langsung menjalankan keinginannya yaitu mandi air hangat,dirinya berendam selama mungkin melepas penat di badannya. "hah,ini baru namanya hidup.." "benarkah.." Mendengar suara yang tak asing itu membuat duvessa kaget bukan main,saat membuka matanya eric tepat berada di depannya,mata duvessa membola dengan sempurna melihat eric,membuat eric menyeringai dan menelan ludahnya sendiri melihat pemandangan di depannya. "bagaimana kau bisa masuk.." "sangat mudah duv,kau tak menyadari aku di sini bukan.." menyeringai Duvessa tak bisa berkata-kata,eric tak bergerak dari tempatnya dan terus melihat duvessa yang masih syok akan kehadiran dirinya di sana,kamar mandi itu sunyi tanpa percakapan mereka,hanya suara nafas mereka yang terdengar di sana,perlahan eric mulai mendekatkan wajahnya ke arah duvessa. "apa yang kau la.." Perkataan duvessa terhenti karna eric langsung melumat bibirnya,sekali lagi mata gadis cantik itu membola sempurna karna perlakuan eric tersebut,duvessa berusaha mendorong tubub eric,namun eric menangkap tangannya,meremas dan menggenggam tangan duvessa dengan tangannya,cukup lama eric melumat bibirnya hingga hampir duvessa susah untuk bernafas,eric pun melepaskan lumatannya dan melihat wajah duvessa yang sudah merona merah,membuat eric tersenyum penuh kemengan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD