DELAPAN

1049 Words
pagi yang begitu sibuk dengan kendaraan lalu lalang,jalanan kota begitu ramai dan macet,duvessa yang dari tadi terus fokus pada laptopnya tak melihat eric yang terus melihatnya dari kaca. "masih pagi kau sudah sibuk duv.." "ya,banyak pekerjaan yang tertunda sejak kemarin,tapi akan segera selesai.." "oh,nanti ada pertemuan dengan prasetya davies hari ini.." "hah,apa tidak ada orang yang bisa menemui dia selain aku,kau saja yang pergi.." "bagaimana aku bisa pergi duv,aku juga ada pekerjaan hari ini,aku sudah janji dengan anak-anak hari ini,menyelesaikan perjanjian yang sudah di buat beberapa waktu yang lalu.." "hah,baiklah,suruh rai dan axel nanti ke kantor,aku akan menemui tua bangka itu.." "dia ayahmu duv.." "bukan,ayahku hanya zeroun oxlay,tak ada yang lain.." "baiklah,turunlah sudah sampai.." "baiklah,hati-hati di jalan ok,jangan lupa rai dan axel suruh datang.." "ya,masuklah,aku pergi dulu.." eric pergi dari sana dan duvessa pun masuk ke dalam gedung 30 lantai tersebut,semua karyawan pun memberi hormat padanya,duvessa pun tersenyum dan menuju ruangannya,sesampainya di ruangannya dirinya memeriksa semua dokumen yang sudah menumpuk di mejanya,beberapa kali dirinya memanggil sekretarisnya dan menyerahkan dokumen yang tidak sesuia dengan isi dokumen yang tidak jelas,hingga siang tiba duvessa menyelesaikan semua dokumen yang menumpuk dari pagi. "permisi nona,1 jam lagi kita akan rapat.." "baiklah,siapkan semua dokumennya.." "baik nona,permisi.." duvessa pun mengangguk dan menyenderkan badannya ke kursi kerjanya,menyiapkan diri untuk menemui ayah kandungnya yang telah memberikan kehidupan yang mengerikan kepadanya,saat tengah termenung,seseorang mengetuk pintu ruangan kerjanya,duvessa sedikit terkejut dan menyuruh orang itu masuk. "siang duv,maaf kami berdua baru sampai.." "tak apa,ayo kita pergi,apa eric terlambat mengatakannya padamu rai.." "ya,seperti biasanya.." "kebiasaan buruknya tak pernah hilang.." "duv,aku ingin mengatakan sesuatu padamu,tapi nanti saja.." "baiklah,apa itu sesuatu yang penting.." "sangat,nanti saja,silahkan masuk.." "terimakasih rai.." Duvessa masuk ke dalam ruangan rapat itu dengan santai,semua mata tertuju padanya,begitu juga dengan ayahnya,membuat lelaki yang sudah berumur itu tak percaya dengan apa yang di lihatnya,duvessa pun duduk di kursi CEO di ruang rapat,melihat dengan dengan aura yang kuat dan menekan semua orang di ruangan tersebut. "baiklah,silahkan mulai saja rapatnya.." "baik nona.." sekretarisnya pun memulai presentasinya,duvessa pun mendengarkan dengan seksama dan serius,ayahnya terus melihat ke arah duvessa yang tak sekalipun melihat ke arahnya.1 jam berlalu rapat itu pun selesai,duvessa pun berdiri dari tempatnya,namun dengan tiba-tiba ayahnya menghalangi langkahnya.duvessa pun melihat dengan enggan ke arah ayahnya itu. "ada apa tuan Prasetya,apa ada yang ingin anda tanyakan..?" "bagaimana bisa kau jadi CEO di perusahaan oxley,apa kau menjual diri kepada zeroun oxley.." "hah,axel tolong usir dia dari sini,aku tak ingin melihat orang ini lagi,jika ada kontrak dengan perusahaan dia,tolong batalkan semuanya.." "baik nona,silahkan nona kembali.." dengan angkuh duvessa pun meninggalkan ayahnya,prasetya davies begitu murka mendengar ucapan duvessa,hingga dirinya mengejar duvessa kembali dan menamparnya dengan sekuat tenaga. "kau memang wanita jalang seperti ibumu,apa kau tau,kau bukan bagian dari keluarga ku dari semenjak kau lahir,kau tau duvessa,ibumu adalah wanita jalang yang aku pungut saat dia mencoba meminta makan pada orang-orang di luar sana,dan ezra bukanlah adik kandungmu,jangan pernah kau mencari kami saat kau sudah tak berdaya.." Prasetya davies pun pergi setelah mengatakan semua itu,membuat duvessa syok bukan main karna selama ini dia menganggap ibu ezra juga ibunya padahal bukan sama sekali,kakinya langsung lemas seperti agar-agar,rai pun menangkap tubuhnya yang hampir jatuh. "duv kau baik-baik saja,ayo kembali ke ruangan mu duv.." Duvessa hanya bisa mengangguk dan dirinya di papah oleh rai sampai ke ruangannya,sesampainya di ruangannya,duvessa langsung terduduk di kursi kerjanya,mengingat kembali semua omongan ayahnya. "hah,baiklah,rai aku punya tugas untukmu,cari tau siapa istri pertama prasetya davies.." "baik nona,saya permisi.." "ya pergilah,hah kepalaku sakit sekali.." "apa kau mau aku belikan obat duv.." "tidak axel,kamu boleh keluar,aku ingin sendiri.." "baiklah,kalau ada perlu panggil saja aku.." Duvessa pun tersenyum dan mengangguk pelan,dia memijat pelan kepalanya yang terasa nyut-nyutan,beberapa kali menghembuskan nafas kasar,duvessa bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dinding kaca di sampingnya,pandangannya begitu jauh dan tak seorang pun yang bisa menghalanginya. "hah,ternyata ini alasan mengapa mereka membenciku,aish betapa bodohnya aku saat aku menganggap mereka ayah dan ibuku,aish sangat lucu sekali.." Duvessa tersenyum masam dan air matanya jatuh di pipinya,duvessa memukul dadanya karna sesak menahan tangisnya sendiri,cukup lama duvessa menangis sendiri,hingga perasannya lega dan akhirnya dirinya tak sedih lagi. "hah,ternyata menangis ini menguras tenaga juga,axel kau di luar.." "ya nona,ada apa nona..??" "bisa belikan aku minuman yang manis dan dingin.." "baiklah nona,saya pergi sekarang.." duvesaa pun memberikan kartu kreditnya,setelah axel pergi rai masuk ke ruangannya dan membawa sebuah map coklat dan memberikannya kepada duvessa. "wah,kau cepat sekali rai,tak salah tuan zeroun memilihmu.." "hah,beginilah untungnya aku seorang hacker.." "iya deh,aku liat dulu ok.." "baiklah,aku akan tidur,melelahkan mencari semua informasi itu.." "ya baiklah,selamat tidur.." Rai pun membaringkan dirinya di belakang meja duvessa,menutupi wajahnya dengan jaket kulitnya,duvessa pun membaca semua informasi yang di dapatkan rai,satu persatu fakta terungkap,duvessa terlihat murka dengan apa yang dia tau. "kurang ajar,dia yang mengmbil semua milik ibuku dia pula yang membunuh ibuku,dasar lelaki biadab,kau harus menerima balasan dari semua itu,kau akan ku buat sengsara.." duvessa menggebrak meja kerjanya dan melempar semua kertas di tangannya,namun dengan suara yang begitu berisik tak membuat rai bergerak dari tempatnya dan tetap tidur pulas.ketika sore datang,duvessa keluar dari kantornya,eric sudah menunggu di depan kantor dan tersenyum lebar melihat duvesaa yang melihat ke arahnya. "kau cantik duv,aku hampir melayang melihatnya.." "dari mana kau belajar menggombal seperti ini ric.." "itu ungkapan hatiku saja.." "aish,baiklah,ayo ke markas besar,aku harus melihat jadwal bulanan.." "baiklah,mana rai dan axel.." "merek bawa mobil sendiri,ayo jalan.." "ya nona muda,ayo pergi.." Eric langsung tancap gas menuju markas besar mereka yang sedikit tersembunyi dari keramaian kota,sesampainya di sana,semua orang-orang mereka menunduk kepada duvessa. "cukup,apa ada yang mencurigakan akhir-akhir ini yoga.." "tidak nona,semua penjualan senjata terkendali dan ini laporannya nona.." "um,bagus,kerja yang bagus yoga,kapan-kapan bawalah tim mu berlibur.." "baik nona,terimakasih.." "duv,kamu masih ingat omonganku tadi pagi.." "oh tentu rai,apa yang ingin kamu katakan.." "kamu ingat bisnis rubi kita yang baru kita rintis beberapa bulan yang lalu.." "tentu,ada apa dengan hal itu.." "seseorang telah membocorkan lokasi pemyimpanan kita saat ini dan hampir saja kita kehilangan rubi-rubi itu.." "wah sangat mengejutkan,siapa yang brani menyusup ke tempat kita.." "aku masih menyelidikinya,paling lambat besok akan ketemu orangnya.." "hah,besar juga nyalinya,baiklah aku tunggu informasinya besok.." "baiklah,aku pergi dulu.." "ya,hati-hatilah,jika terjadi sesuatu telfon saja aku.." "baiklah duv,sampai jumpa.." "hai,apa yang kalian bicarakan barusan duv.." "oh hanya masalah kecil,dari mana saha ric.." "toilet,kamu perlu sesuatu.." "tidak,ayo ke atas,aku perlu melihat beberapa jadwal lagi.." Eric pun mengangguk dan mengikuti duvessa dari belakang,ketika semuanya telah selesai di cek,duvessa menyimpan semua file itu ke dalam flashdisk,tak lama mereka pun turun dari lantai atas dan menuju mobil,saat kekuar dari tempat itu langit pun sudah sangat gelap dan mereka pun menuju rumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD