CHAPTER 18

1102 Words
Maisie memandang wajah tampan Darren yang tengah tertidur pulas di hadapannya. Nafasnya terdengar teratur, Maisie tersenyum sendiri melihat pemandangan langka yang jarang terjadi saat ia bangun tadi. Hampir setengah jam wajah Darren tak beranjak dari wajahnya, Maisie pun tak berniat untuk bangkit dari tidurnya dan masih tak bosan menatap wajah tampan pujaan hatinya. Dalam tidur pun pria itu terlihat tampan, ditambah bulu bulu halus yang mulang tumbuh di sekitar dagu dan rahangnya, menambah kesan sexy dan macho tentunya. Tiba tiba bibir Darren tersenyum, tangannya pun langsung merengkuh Maisie dalam pelukannya, membuat gadis itu terperanjat. "Selamat pagi adikku sayang" ucapnya dengan suara parau khas orang bangun tidur, dan di kecupnya puncak kepala Maisie, gadis itu masih diam, jantungnya benar benar ingin loncat dari rongga dadanya. Walau baru bangun tidur, tubuh Darren tetaplah wangi dalam penciumannya. "Apa sudah puas menatap wajah tampan kakakmu ini?" tanyanya lagi. Maisie mencoba melepaskan pelukan Darren namun pria itu semakin mengeratkan pelukannya. "Kakak sudah bangun dari tadi?" "Sudah sejak sebelum kau tersadar dan mulai menatap wajahku sambil tersenyum senyum sendiri. Bahkan tadi aku hampir saja keceplosan tertawa karena geli saat kau menyentuh lembut tiap inchi wajahku." Wajah Maisie memerah, kalau saja ia dtidak dala dekapan Darren pastinya pria itu akan menertawakannya karena melihat ekspresi malunya karena ketahuan. "Aku membencimu kak." Maisie memukul punggung Darren kesal, namun pria itu semakin mengeratkan pelukannya. "Tapi aku menyayangi mu." "Lepaskan aku kak...aku sulit bernafas." Darren melonggarkan pelukannya dan Maisie langsung melompat dari ranjang tanpa berani menatap wajah Darren. "Mau kemana?" "Haus. Ambil minum." Teriak Maisie dari balik pintu kamar, membuat pria itu kembali terkekeh gemas melihat tingkah adik kecilnya. Tak lama kemudian Darren menyusul Maisie yang berada di dapur. "Ambilkan kakak air juga" Maisie menyodorkan segelas air putih namun tak berani menatap wajah Darren, ia membuang pandangannya kesembarang arah. "Biasa saja. Kakak tidak apa apa kok." "Aku nya yang apa apa kak. Kau meledekku terus, membuatku malu saja." Darren tersenyum, kemudian semakin mendekatkan tubuhnya pada Maisie. "Mau sarapan apa?" "Apa saja." "Pesan antar saja bagaimana? Kakak sedang tidak ingin melakukan apapun." dan dijawab anggukan oleh Maisie. Darren meletakan gelasnya kemudian kembali kekamarnya. "Mau tidur lagi kak?" teriak Maisie. "Mandi. ikut?" "Bolehkah?" kali ini Maisie yang balik menggoda kakaknya itu. Diikutinya kakaknya yang sudah masuk ke kamar mandi. "Kak..." "Kak..." "Kak Darrennn..." Maisie terus saja memanggil nama Darren dengan nada menggoda di depan pintu kamar mandi yang sudah tertutup. "Kak...aku masuk ya..." "Kak Darren..." masih belum ada jawaban dari dalam. Maisie menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar mandi, berharap mendengar jawaban penolakan dari Darren. "Kak...aku ma..." Tiba tiba pintu kamar mandi terbuka membuat Maisie kaget dan kehilangan keseimbangan kalau saja Darren tak menangkap tubuhnya kemudian menariknya kedalam kamar mandi, lalu menutup pintunya. Darren mendorong tubuh Maisie ke pintu kamar mandi lalu menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Maisie benar benar dibuat kaget. Bagaimana tidak? Darren tengah berdiri dihadapannya dalam keadaan fullnaked dan tubuhnya yang tengah basah. Tubuh Maisie bergetar, kembali di suguhkan pemandangan yang indah dan menggoda di hadapannya. "Mau kakak mandikan?" Belum sempat Maisie bertanya, Darren sudah meraup habis bibir sexy Maisie, melumatnya kasar dan membawa tubuh gadis itu untuk ikut bersama di bawah guyuran shower yang sedang mengalir. Sontan Maisie merangkul pundak Darren dan mendekatkan tubuhnya hingga menepis jarak diantara mereka, bahkan ia bisa merasakan ada sebatang urat yang tengah menegang yang menempel di perutnya yang masih berbalut pakaian komplit. Masih mencium bibir Maisie, Darren melucuti satu persatu pakaian yang melekat di tubuh gadis itu. Darren melepaskan ciumannya, ia berjongkok kemudian meloloskan celana pendek serta celana dalam yang Maisie kenakan hingga gadis itu sama keadaannya dengan dirinya sekarang, tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Darren tersenyum, di belainya lembut bulu kewanitaan yang menutupi unti tubuh Maisie. Di kecupnya sesaat, menghirup aroma yang mulai menjadi candunya itu. Bibirnya mulai naik ke atas, mengecupi perut rata gadis itu, kemudian beranjak ke kedua gundugan kenyal di d**a Maisie. Diraupnya dengan sedikit kasar dan sesekali menggigit n****e Maisie hingga mermbuat gadis itu sesekali berjinjit menahan rasa nyeri dan nikmat yang berrsamaan. Lama Darren bermain di atas p******a Maisie yang basah karena guyuran air. Darren duduk dia atas watercloset kemudian memangku gadis itu dan kembali meraup bibir rani=um Maisie. Maisie yang memang suda tersulut gairah karena sentuhan sentuhan Darren sedari tadipun akhirnya membalas ciuman pria itu. Tubuh Maisie yang terus menggelinjang membuat junior Darren yang bersentuhan langsung dengan perut Maisie menjadi semakin menegang. Nafasnya mulai tersengal menahan gairah yang sudah mulai menucak. Terlebih Maisie mulai bisa mengimbangi permainannya, tangannya menuntun tangan Maisie agar mau membelai juniornya. Maisie mendesah berkali kali saat Darren kembali merngulum dafn meremas n****e nya yang menantang. Ia menginginkan lebih. "Kak...aahhhh" "Hmmm..." "Kak..." Bibirnya tak mampu untuk mengucapkan permintaan lebihnya. Darren menatap kedua manik mata Maisie yang berkabut. Di gendongnya gadisnya untuk ,keluar dari kamar mandi, dan membaringkannya pelan di atas ranjang dan merngungkungnya dibawahnya. Di kecupnya dahi Maisie lembut, gadis itu menutup matanya. Dan kembali Darren melumat bibir gadis itu, awalnya pelan namun lama lama semakin dalam dan ia pun memainkan lidahnya dalam rongga mulut Maisie, mengabsen rentetan gigi Maisie satu persatu. Darren memposisikan juniornya tepat di bibir kewanitaan Maisie. Di gesekannya pelan pelan menempel sebuah daging kecil di tenagh inti Maisie. Gadis itu menggelinjang, membusungkan dadanya, membuat payudaranya terlihat penuh dan menggoda untuk kembali di hisap. Darren terus saja menggesekkan juniornya, mencari akses masuk tubuh Maisie yang tak kunjung di temukannya. Terus saja di tekannya dengan kuat juniornya namun... "Aw...ahhhh..." Darren bangkit kemudian mengelus juniornya, wajahnya meringis seperti menahan sakit. "Kenapa kak?" Maisie ikut bangun dan memandang junior Darren yang besar dan berurat itu dengan pandangan bingung. "Aku tidak tahu bagaimana caranya masuk." wajah Darren terlihat polos dan masih memegangi juniornya. Maisie menahan tawa, luccu melihat ekspresi Darren. "Aku juga gak tahu caranya kak...sakit ya?" "Linu..." Darren bangkit dari atas ranjang kemudian meninggalkan Maisie dan menuju kamar mandi. "Gak jadi kak?" "Kita tunda."teriaknya. Maisie terkekeh, walau sedikit kecewa namun ia bahagia bisa b******u di pagi hari dengan kakaknya. *** Darren memesan makanan pesan antar dari sebuah restaurant dekat apartemennya. Dua box nasi goreng tersaji di meja. Maisie menuang teh hangat untuknya serta secangkir kopi untuk Darren. "Kakak sudah baik baik saja?" "Hmm..." "Apa sesakit itu?" Darren meletakan sendoknya kemudian menyeringai menatap wajah polos adiknya. "Kenapa? Kau kecewa kita tak jadi melakukannya lagi? Apa perlu di ulang sekarang?" "Hari ini kita kemana kak?" Maisie mengalihkan pembicaraan, merasa malu mengakui kalau dirinya memang sedikit kecewa. "Kita tidak kemana mana. Habis sarapan kita ulangi yang tadi. Aku penasaran kenapa susah sekali menembusnya." Tubuh Maisie memanas, ia menatap kedua mata Darren dengan bibirnya yang menyunggingkan smirk smile nya. Bahkan untuk menelan salivanya saja terasa sulit. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD