Maisie meneguk salivanya, menatap makhluk indah dihadapannya, kakaknya benar benar sexy.
Baru pertama kalinya ia melihat seorang pria dalam keadaan fullnaked tepat dihadapan matanya.
Mata Darren berkabut, di dekapnya langsung tubuh polos Maisie yang berada dibawahnya, dan langsung di lumatnya bibir ranum gadis itu dengan lembut.
Tak lupa kedua tangannya tak ia biarkan menganggur, Darren meremas kedua gundugan kenyal di d**a Maisie yang membusung menantang.
Maisie menggeliat geli namun menikmati sentuhan pria sexy di hadapannya.
Namun aksi Darren terhenti saat matanya menangkap panggilan yang berada di layar handphone Maisie.
'Andromeda calling' tertera di layar handphone Maisie, membuat gairahnya seketika terhenti dan berubah kesal.
Ia bangkit dari atas tubuh Maisie sambil mengambil telephone genggam gadis itu danmengangkat panggilan.
"Ada apa?" jawabnya ketus
"Kau Darren rupanya? Mana kekasihku?" nada bicara Andromeda terdengar menyebalkan.
"Tidak ada." langsung di tutupnya panggilan Andromeda dan dilemparnya telephone genggam Maisie ke atas meja.
"Siapa kak?" tanya Maisie bihngung dengan sikap Darren yang tiba tiba.
"Kekasihmu. Kenakan pakaian mu. Kita keluar. Aku mandi dulu." Darren melempar pakaian Maisie yang berserakan di lantai ke atas perut gadis itu, kemudian berlalu menuju kamar mandi.
"Bukannya tadi kakak sudah mandi?" teriaknya namun tak dihiraukan oleh Darren.
Maisie menghela nafas, sedikit merasa kecewa karena harus berhenti di tengah jalan.
Ditatapnya layar telephone genggamnya namun tak berniat untuk menghubungi balik Andromeda.
Ia ingin menikmati waktunya dengan kakak tersayangnya.
Sementara Darren menuntaskan hasratnya yang tertunda dengan bermain solo di kamar mandi, walau gairahnya tadi sempat berhenti karena Andromeda mengganggu aktifitas mereka.
Dengan menyebut dan membayangkan wajah serta tubuh Maisie, Darren terus menggerakan tangannya pada juniornya yang masih on.
***
Darren mengajak Maisie berkeliling, menikmati weekend tentunya karena malam ini malam minggu.
Sejak sore jalan kota sudah mulai ramai, walaupun tak sampai terjadi macet.
Untung saja cuaca cerah, langit tampak indah di sore hari.
Maisie menggenggam tangan Darren yang sedari tadi hanya diam tanpa ia tahu penyebanya.
Katakanlah Darren cemburu pada Andomeda, namun bukankah sudah berkali kali ia menjelaskan kalau ia hanya mencintai Darren seorang sementara Andromeda hanya status palsu.
Namun Darren tetap menyembunyikan alasannya kenapa ia kesal, tak mungkin ia mengatakan pada Maisie kalau dirinya kesal karena gairahnya tak tertuntaskan.
Mau di taruh dimana wajah tampannya kalau Maisie tahu isi pikiran m***m nya itu.
Ah...Darren mengumpat berkali kali dalam hati.
Mengumpati dirinya yang hampir saja khilaf, terlebih ia mengumpati si b******k Andromeda yang menganggu dirinya sedang ena ena.
"Aku ingin es krim kak..."
Mereka berdiri di depan stand es krim dan Darren memesan dua cup es krim berbeda rasa namun di berkannya keduanya untuk Maisie.
"Kenapa untukku semua kak? Kakak makan apa?"
"Aku makan kamu aja."
Seketika wajah Maisie memerah, mengingat kejadian mereka tadi siang yang hampir saja mereka lakukan.
"Kak Darren...mbikin Mai malu aja..." bisiknya tak ingin seorangpun tahu tentang ini.
"Apa tadi kamu juga menginginkannya?" Darren berbisik di telinga Maisie, membuat wajah Maisie bertambah merah
"Apa kita bisa tidak membahasnya kak?" dengan wajah polos, Maisie melirik Darren yang mulai mengulum senyum, tida seseram tadi saat mengajaknya jalan jalan.
"Baiklah...kita bahas yang lain. Kita melakukan apa setelah ini?"
"Melakukan apapun yang penting bersama kak Darren"
"Belanja?"
"Benarkah kak?"
"Adakah yang ingin kau beli?"
"Kita cari sesuatu yang bagus."
"Ok setuju."
Maisie dengan memakan bergantian dua cup eskrim di tangannya, di rangkul Darren menuju pusat perbelanjaan.
Sesekali Darren memajukan wajahnya ikut mengecap eskrim di tangan Maisie.
Tak peduli dengan orang yang berada di sekitarnya, toh mereka tidak ada yang mengenal Darren dan Maisie.
"Aku mau yang itu kak." Maisie menunjuk sepasang sweater warna merah muda yang terpajang di manekin.
"Kau menuruh kakak memakai warna itu?" Darren menatap aneh
"Kakak akan terlihat tampan kalau memakai sweater itu. Tapi lebih tampan dan sexy lagi kalau tidak memakai apapun." bisik Maisie di telinga Darren, bulu kuduknya langsung meremang, ia tersipu.
"Kau mulai berani ya..." Darren menyeringai dan menyentuh hidung Maisie dengan ujung jarinya.
"Saya ambil yang itu. Tolong segera bungkuskan." Darren memberikan sebuah kartu kepada pramuniaga dan melakukan pembayaran.
"Kemana lagi kita?" tawar Darren sambil merangkul pundak adik kecilnya dan berjalan berdampingan keluar dari store.
"Maisie lapar kak..."
"Mau makan apa?"
"Makan kakak boleh?" Maisie berjinjit dan berbisik di telinga Darren, kembali pria itu mengulum bibirnya menahan tawa, adik kecilnya ini sudah mulai berani mengeluarkan kata kata nakal untuknya.
Dengan gemas Darren mengusap pucuk kepala Maisie.
"Kau akan mendapatkannya..."bisiknya nakal,dan dibalas tawa oleh Maisie.
Mereka memasuki sebuah restaurant siap saji, memesan beberapa makanan serta soft drink dan beberapa cemilan.
"Kak..."
"Hmmm..."
"Kenapa tadi tidak di teruskan?" Darren tersedak mendengar pernyataan Maisie, di minumnya segelas air putih yang berada di tangannya dengan sekali tenggak.
"Pelan pelan kak..."
Darren meletakan gelas nya yang sudah kosong kemudian menahan bibirnya yang ingin tertawa sambil menatap wajah polos Maisie.
"Kau bilang kita tidak perlu membahas ini?"
Maisie tertunduk malu, iapun kembali fokus pada makanan yang ada di hadapannya.
"Tadinya ingin kulanjutkan, tapi..."
"Tapi apa kak?" Maisie menatap Darren dengan antusias.
"Tadi ada apa si b******k itu menghubungimu?" Darren mengalihkan pembicaraan.
"Aku juga gak tahu kak. Tadi gak sempat aku angkat."
"Owh..." Darren menyunggingkan bibirnya,dalam hati ia merasa lega, setidaknya gadisnya tak berbicara dengan pria paling tidak ingin ia temui di dunia ini.
"Cuma owh?"
"Haruskah aku bersorak?"
"Cukup dalam hati saja kak..."
Sementara itu dari kejauhan sepasang mata tengah memperhatkan mereka dengan intens.
Mata indah nan lentik dengan tubuh yang indah berbalut mini dress sexy, yang lama merindukan Darren.
"Udah nunggu lama Della?" tiba tiba seorang gadis menyapa wanita yang tengah duduk sendirian di restoaurant itu dan duduk dihadapannya.
"Baru lima menit yang lalu." jawabnya sambil tersenyum.
***
Maisie melepaskan jaket yang menutupi tubuhnya kemudian melemparnya di atas sofa, ia masuk ke dalam kamar mandi yang berada didalam kamar Darren.
Membasuh wajahnya dan mencuci tangan serta kakinya, kemudian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size di kamar itu.
Tubuhnya merasa lelah setelah jalan jalan dengan kakaknya tadi.
"Jangan tiduran di situ! Bahaya!" teriakan Darren yang tiba tiba mengagetkan Maisie, iapun langsung bangkit dari ranjang pria itu lalu berdiri dengan panik.
"Kenapa kak?" tanyanya masih panik.
"Aku bisa khilaf." Darren melepaskan tawanya kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.
Maisie mengerucutkan bibirnya, kesal di kerjai kakaknya yang ganteng tapi kadang menyebalkan itu.
Kembali di rebahkannya tubuhnya di atas ranjang,sesaat menutup kedua matanya, menghirup aroma maskulin di kamar kakaknya itu.
Kamar Darren di apartemen sama besarnya dengan yang di rumah, tetap tak banyak barang yang berada di kamar pria itu.
Hanya ada sebuah lemari pakaian dan meja kecil serta rak yang tentunya berisi buku buku.
Dengan dominan warna hitam dan putih, pria ini memang tidak menyukai sesuatu yang terlalu berwarna.
Tak lama kemudian Darren keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk terjuntai di pundaknya untuk mengelap rambut serta wajahnya yang basah.
Maisie bangkit dari ranjang kemudian duduk, matanya tak lepas memandang aktifitas Darren sedari keluar dari kamar mandi sampai memilih pakaian di dalam lemari, bahkan sampai pria itu mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan celana training santai.
"Apa sebegitu sukanya menikmati pemandangan pria sexy ini?" pertanyaan Darren sontak membuyarkan lamunan Maisie yang memang sedang terpesona dengan tubuh kakaknya yang memang sexy itu.
"Aku tidak melakukan apapun" sikap Maisie yang salah tingkah membuat Darren gemas, iapun terkekeh.
Darren mengambil telephone genggamnya yang berada di atas meja samping ranjangnya, dan melewati Maisie begitu saja tanpa melihat ke arah gadis itu.
"Malam ini aku tidur dimana kak? Kamarnya cuma satu, ruangan sebelah malah kau jadikan kantor."
"Tidur di sini denganku." jawab Darren masih fokus dengan layar telephone genggamnya.
"Kau sudah gila kak? kita..." Darren buru buru meletakan jari telunjuknya di bibir Maisie, memberi kode gadis itu agar diam sebentar.
Ia mendekatkan telephone genggamnya ketelinganya, mengangkat panggilan.
"Iya ma..."
"..."
"Iya, sedang bersama ku ma..."
Darren memberikan telephone genggamnya pada Maisie, Maisie bertanya siapa sambil berbisik.
"Mama."
"Hallo Ma..."
"Mai...kok kamu gak angkat telephone dari mama. Kamu dari mana saja? Mama khawatir."
"Baru pulang jalan jalan sama kakak ma..."
"Udah makan?"
"Udah ma...Tadi mampir di restaurant."
"Ya udah kalau gitu, sering kabari mama ya sayang...mama khawatir. jangan bikin kakak kamu kesal ya...Jangan ngrepotin Darren."
"Iya mama..."
Maisie menutup panggilan dari mama Maria kemudian memberikan telephonenya kembali pada Darren.
Darren menerimanya kemudian meletakannya dia atas meja.
Iapun langsung menghampiri Maisie dan mendekap gadis itu dalam pelukannya dan mereka berbaring bersama di atas ranjang.
"Sudah tidur. Kau sudah lelah hari ini. Besok kita lanjutkan lagi."
Darren menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala Maisie sementara tangannya yang lain memeluk perut rata gadis itu.
Iapun memejamkan matanya dengan dagunya yang berada di atas pucuk kepala Maisie.
Sementara Maisie sama sekali tak sanggup untuk menutup kedua matanya, jantungnya berdegup teramat kencang, bahan nafasnya terasa sesak dan tubuhnya memanas.
Bagaimana ia bisa tidur dengan posisi Darren yang sedekat ini?
Apakah mereka hanya kan tidur seperti ini?
Atau akan ada kejadian yang diinginkan yang kana terjadi nantinya?
Berbagai pertanyaan berkecambuk di pikiran gadis itu, membuat jantungnya serasa semakin ingin meledak saja.