CHAPTER 16

1355 Words
Darren tenghah duduk di atas sofa didepan televisi dengan Maisie yang tiduran disampingnya dan meletakan kepalanya di pangkuan Darren. Acara lawak yang ditampilkan di televisi membuat Maisie terus saja tertawa sembari mengunyah cemilan yang ada di tangannya. Namun tidak dengan Darren, pria itu terus diam tak bersuara, bahkan tak bereaksi apapun. "Kak..." "Hmmmm..." "Kok diam terus?" "Apa aku perlu melakukan sesuatu?" Maisie bangkit kemudian duduk disamping Darren dan menatap wajah tampan pria disampingnya. "Kenapa?" Maisie menghela nafas kasar, ia sama sekali tak mendapatkan jawaban apapun dari kakaknya. "Baiklah kak, aku kemarin dengan kaka Meda,,," "Jangan sebut nama pria lain di hadapanku.!" sarkas Darren tanpa memandang ke arah Maisie. "Oke, maksudku pria itu, kami pergi ke acara teman teman kelasku untuk merayakan kelulusan kami kak,," Darren tetap tak bereaksi, ia tetap fokus memandang ke layar televisi walaupun pikirannya melayang kemana mana. "Ada Michele dan juga Thania sahabatku kak, aku tidak berduaan hanya dengan pria itu..." "..." "Soal aku tidak mengangkat panggilan dari kak Darren beberapa kali..." "Bukan beberapa, PULUHAN!!!" "Ya maksudku puluhan kali, itu karena handphone ku di lempar pria itu ke jok belakang mobilnya agar aku tidak bisa menghubungi kakak." "Agar kalian tidak ada yang menganggu? Itu maksud kamu?" "Aku tidak bermaksud seperti itu kak..." Darren mendengus kesal, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat, ia begitu emosi mendengar penjelasan Maisie. Tersungging senyum di bibirnya, di tatapnya manik mata gadis itu dengan tajam. "Apa saja yang kalian lakukan?" "Kami hanya makan dan ngobrol kak." "Hanya itu?" "Kakak tidak percaya?" "Apa dia menyentuhmu? Akan ku habisi dia kalau berani menyentuh tubuhmu." "Kami tidak melakukan apapun kak..." bibir Maisie gemetar, ia sedikit berbohong, tidak mungkin kalau ia menceritakan bahwa Andromeda sempat menciumnya bisa bisa sekarang Darren menemui pria itu dan menghajarnya habis habisan sampai babak belur seperti ancamannya tadi. "Aku tidak suka orang lain menyentuhmu." "Aku tau kak..." "Jangan pernah sekalipun." "Iya kak.." Darren tersenyum, di dekapnya tubuh kecil Maisie dalam pelukannya, dan mengecup puncak kepala Maisie dengan lembut. "Maafkan sikapku tadi..." Maisie memeluk tubuh kekar Darren balik, hatinya merasa damai dan lega sekarang. "Kak..." "Hmmmm..." "Bolehkah aku bertanya sesuatu?" "Katakan..." "Kenapa kau begitu membenci pria itu?" Darren menguraikan pelukannya, tatapannyaberalih kesembarang tempat, ia menghela nafas sesaat kemudian mulai berbicara. #FLASHBACK ON# Sejak SMP sampai di bangku SMA, Darren Benjamin Hartono dan Andromeda Erlangga sudah bersahabat. Duo tampan nan cerdas yang sering menjadi bintang sekolah ini begitu menarik perhatian di manapun mereka berada, namun persahabatan mereka yang begitu kuta tak pernah berhiaskan kisah percintaan apapun karena memang mereka yang terlalu fokus pada pelajaran. Sifat Andromeda yang ceria memang selalu bisa mengimbangi sifat dingin dan cuek Darren. Begitu pasangan yang serasi kalau tidak ingat bahwa mereka berjenis kelamin lelaki. Bahkan ada yang sengaja iseng menjodohkan mereka berdua karena terlalu akrabnya. Namun ke akraban mereka mulai renggang setelah kehadiran murid pindahan saat mereka duduk di bangku kelas tiga SMA. Seorang gadis cantik berambut panjang dan tak kalah cerdas dari mereka yang langsung menjadi primadona sekolah bernama Adellia Kusumawardani atau yang biasa dipanggil Della. Gadis itu langsung menjadi perhatian mereka berdua, tak disangka menjdikan hbungan persahabatan mereka menjadi seperti sekarang ini. Namun gadis yang bernama Della yang telah menjadi cinta pertama mereka itu harus meninggalkan negara ini setelah lulus SMA karena harus mengikuti ayahnya yang dipindah tugaskan ke luar negeri. Tapi hal itu tak lantas membuat Darren dan Andromeda berbaikan, mereka semakin menjauh dan semakin banyak kesalah pahaman yang terjadi di antara mereka. #FLASHBACK OFF# "Owh...jadi ini karena wanita..."wajah Maisie berubah kesal mendengar penjelasan Darren "Kalau saja pria b******k itu tahu diri kalau bukan dirinya yang Della pilih mungkin hubungan kami sekarang tidak akan seburuk ini."nada bicara Darren terdengar amat kesal, namun Maisie lebih kesal melihat reaksi Darren yang menggebu gebu mengingat cinta pertamanya. "Sebegitu cintakah kakak pada gadis itu hingga kakak sampai memendam kebencian terlalu dalam pada sahabat kakak sendiri?" Mendengar pertanyaan Maisie membuat Darren menangkap  nada cemburu. "Sekarang sudah tidak." "Berarti dulu iya?" "Itu kan dulu" "Berarti sekarang sudah gak mencintai gadis itu lagi?" "Kan udah ada kamu..." Darren mencoba menacirkan suasana dan mengalihkan ketegangan. "Harusnya kakak tak perlu memendam perasaan marah kakak pada pria itu sampai sekarang" "Itu dua hal yang berbeda Mai..., cara berfikir pria tidak segampang itu." Maisie tertawa kecut, mendengar jawaban Darren yang menurutnya egois. "Berhentilah bersikap ke kanakan ka...Toh tidak ada satupun dari kalian yang memiliki wanita itu." "Kenapa kau jadi membelanya?" Darren agak meninggikan suaranya. "Aku tidak membela siapapun, sekarang posisiku juga diantara kalian. Apa itu menambah kebencian kakak pada pria itu?" Mata Darren membulat, haruskah ia meneruskan pembicaraan ini yang benar benar membuat emosinya naik? Sementara di hatinya memang tidak secuilpun memiliki rasa terhadap gadis bernama Adellia itu? Tak disangkalnya ia memang sempat terpesona pada kecantikan dan kecerdasan gadis itu. Namun mungkin itu hanya sebuah rasa kagum, tidak lebih, bisa dikatakan ini hanya cinta monyet. Hilang cintanya tinggal monyetnya. Hahahahaha.... Tapi tetap saja, rasa tidak sukanya terhadap Andromeda yang dahulu begitu akrab dengannya masih saja ada hingga kini. Terlebih Andromeda sekarang berstatus sebagai kekasih dari adik tirinya yang kini begitu ia sayangi. "Kenapa hari ini kau begitu cerewet? Membuat ku gemas saja." Darren mendorong tubuh Maisie hingga ia terjatuh di atas sofa dan langsung ia memposisikan tubuhnya di atas tubuh gadis itu dan langsung melumat bibirnya dengan keras, begitu gemas dan dalam hingga Maisie menggeliat menahan desahannya. Darren melepaskan ciumannya, membuat wajah Maisie memerah karena tindakan Darren yang tiba tiba itu, gadis itu menarik nafas dalam dalam mengisi oksigen sebanyak paru parunya mampu menampung. "Apa pria itu pernah menciummu seperti tadi?" Darren menatap kedua manik mata Maisie, gadis itu menggelengkan kepalanya sambil mengulum bibirnya yang mulai bengkak akibat ulah Darren. Pria itu tersenyum puas melihat jawaban adik kecilnya. Ia mengecup pelan leher jenjang Maisie, membuat gadis itu menggeliat dan mendesah. "Kalau seperti ini?" tanyannya lagi dengan masih menempelkan bibirnya di leher Maisie. "Aaahhhh...tidak kak..." Maisie dengan suara seraknya menjawabnya. Darren terus mengecupi leher jenjang Maisie sementara tangannya meraba punggung gadis itu mencoba membuka pengait bra. Terlepas, Darren menelusupkan kedua tangannya membelai lembut dua gundugan kenyal di d**a Maisie yang masih tertutup kaos oblongnya. "Apa dia pernah menyentuhmu disini?" "Tak ada seorangpun yang pernah menyentuhku selain kau kak..." Maisie mendsah berkali kali karena sentuhan Darren yang membuatnya hampir frustasi. Pria itu menyeringai, di loloskannya kaos oblong yang menutu[i tubuh Maisie serta bra yang pengaitnya sudah terlepas sedari tadi. Maisie dalam keadaan topless, membuat Darren semakin leluasa mencumbu d**a dan menghisap kedua n****e kecoklatan gadis itu bergantian. Rasanya Maisie hampir gila merasakan cumbuan yang begitu nikmat dari Darren, ini kali keduanya ia melepaskan pakaiannya dihadapan pria itu. Setelah puas bermain dengan p******a Maisie yang ranhum, Darren mencoba meloloskan celana pendek Maisie. Gadis itu langsung menyilangkan kakinya ketika hanya tersisa celana dalam hitam berenda yang menutupi inti tubuhnya. Darren membelai lembut bagian inti tubuh Maisie, nafas gadis itu sudah naik turun cemas. "Kenapa di tutup? Tak bolehkah aku melihatnya?" "Apa kakak pernah melakukannya dengan gadis itu?" dengan nafas yang masih naik turun dan biir yang gemetar Maisie bertanya. "Aku bahkan belum pernah berciuman dengan gadis manapun." Dengan mata berkabut Darren menatap kedua manik mata Maisie. Perlahan gadis itu membuka kedua kakinya, mempermudah Darren untuk meloloskan penutup terakhir yang menutupi tubuh gadis yang sekarang berada di bawah kungkungannya. Maisie sekarang dalam keadaan fullnaked. Baru pertam kalinya ia dalam keadaan seperti itu di hadapan seorang pria, terlebih pria itu hanya seorang kakak tiri. Darren menyentuh bulu bulu halus yang berada di sekitar inti Maisie, ia tersipu malu dengan sentuhan Darren. Antara percaya tidak percaya, dengan beraninya Maisie memperlihatkan tubuhnya pada seorang pria. "Kau begitu indah sayang..."bisik Darren lembut di telinga Maisie. Desiran hangat terasa menyusuri tubuhnya yang mulai menegang. Sentuhan Darren merambat lembut ke atas membelai kedua gundugan daging di d**a Maisie, kemudian terus naik hingga mengusap wajah gadis itu. Darren langsung bnagkit dan melepas kaos serta celananya pendeknya hingga tak mentisakan sehelai benangpun yang menempel. Maisie membuang pandangannya, ia merasa malu melihat pemandangan yang terpampang di hadapannya. Namun Darren langsung menangkap dagu gadis itu agar menatap ke arahnya, agar ia juga melihat tubuh sexy nan atletis serta roti sobek yang menempel di perutnya. Maisie terbelalak, Darren begitu sexy dan indah dengan juniornya yang berurat serta menantang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD