CHAPTER 15

1138 Words
Maisie menatap punggung Darren yang berlalu begitu saja saat berpapasan dengannya di depan kamarnya. Pria itu terlihat sangat marah. #Flashback on Ternyata beberapa menit sebelum Darren dan mama Maria keluar dari gerbang, Darren tengah duduk di ruang operator untuk melihat CCTV sementara menunggu Maisie pulang. Dan saat ia melihat mobil Andromeda terparkir di depan gerbang, melihat mereka bercakap cakap dan melihat tatapan hangat Andromeda pada gadisnya membuat rahangnya mengeras, ia langsung terbakar cemburu. Darren mengambil langkah seribu, berlari menuju keluar ruang operator dan bertemu mama Maria. "Kenapa Darren?" "Maisie pulang dengan seorang pria ma." Dan mama Maria pun langsung mengikuti Darren keluar menuju pintu gerbang rumah. #Flashback off Maisie melihat puluhan panggilan tak terjawab di layar telephone genggamnya. Hampir semua panggilan dari Darren dan hanya beberapa dari mamanya. Maisie menghela nafas kasar, kak Darren pasti marah besar, pikirnya. Dihempaskannya tubuhnya yang lelah karena perjalanan panjangnya bersama Adromeda. Pria tampan dan baik hati itu hampir saja menggoyahkan hati dan pikirannya. Karena lelahnya Maisie langsung terlelap, ia akan pikirkan Darren nanti besok saja. Kali ini ia ingin istirahat dulu, memulihkan tenaganya untuk bertemu Darren besok dan berusaha membuat pria itu mengerti. *** Malam ini Darren tak bisa menutup matanya, hatinya seperti di siram dengan minyak panas kemudian di siram dengantumpukan garam. Panas dan perih. Masih terlintas di benaknya bagaimana bahagianya Andromeda saat mengantar Maisie pulang, terlebih saat bertemu dan mengobrol dengan mama Maria. Sementara Maisie sedari siang tidak bisa dihubungi, bahkan sampai malam pun tak ada konfirmasi dari gadis itu dia dari mana dan melakukan apa saja seharian dengan Andromeda. Apakah tadi mereka bersenang senang? Atau Andromeda menyentuh tubuh gadisnya? Darren mengusap wajahnya frustasi, namun ia tak bisa berbuat apapun. Tak mungkin ia akan memarahi Maisie di rumah, seisi rumah bisa curiga terlebih mama Maria yang sepertinya sudah mulai mencurigai perasaannya terhadap Maisie. Akhirnya yang bisa Darren lakukan hanya bergulang guling di atas ranjang king size nya di apartemen sendirian. *** "Kak Darren pulang ke apartemennya ma?" "Sepertinya begitu. Maisie, kakakmu sepertinya tidak menyukai pacarmu. Apa kamu menyadarinya?" "Ehm...entahlah ma...kak Darren tak pernah menceritakan apapun." Mama Maria hanya diam, kembali melanjutkan aktifitasnya. "Ma..." "Hmmmm..." "Maisie mau nginep di tempat kak Darren malam ini." "Owh malam ini?" "Iya, kan kemarin kemarin Mai udah cerita" "Apa nanti kamu gak menganggu kakakmu Mai? Kamu tahu sendiri sifat Darren yang seperti itu." "Gak kok mah, kan kak Darren udah janji mengijinkan Maisie mernginap di apartemen barunya." "Ya udah, yang penting kamu jangan buat ulah di tempat kakakmu ya sayang...mama gak enak sama Darren soalnya." "Siap ibu ratu." Mama Maria tersenyum, Maisie pun berlari meninggalkan mamanya menuju kamarnya untuk membereskan beberapa barangnya yang bisa ia bawa ke apartemen Darren. *** Maisie tengah berdiri di depan pintu apartemen Darren, ia tersenyum senang karena sebentar lagi akan bertemu pujaan hatinya. Ups...maksudnya kakak tersayangnya. Di tekannya bel apartemen Darren, menunggu si empunya keluar membukakan. Hari ini hari sabtu, pastinya Darren ada di dalam karena libur kuliah. Maisie tersenyum senyum sendiri, di hentakannya kakinya kelantai seolah menikmati irama lagu. Tak lama kemudian pintu apartemen terbuka, wajah tampan Darren dengan rambut acak acakannya keluar dari balik pintu. "Hallo kak..." Wajah Maisie berbinar menjumpai Darren. "Kamu Mai? Ada apa pagi pagi begini?" Darren dengan suara serak khas bangun tidurnya bertanya bingung. "Kakak lupa? Hari ini kan Maisie nginep di apartemen kakak." Darren mengusap wajahnya, sepertinya ia baru tersadar, kemudian membuka lebar pintu apartemennya. "Masuklah" Maisie menarik dua buah koper besar dengan agak bersusah payah, Darren hanya menatapnya bingung. "Apa kamu mau pindah kesini?" "Apa boleh?" Maisie senang, pertanyaan Darren seperti tawaran baginya. "Tentunya tidak." "Apa kakak tidak suka aku kesini?" "Lalu untuk berapa hari kamu disini? Bawaan mu banyak sekali." "Ehmmmm...berapa ya?" Darren berlalu meninggalkan Maisie yang lama berfikir. "Kak...mau kemana?" "Mandi, ikut?" "Gak" Darren mernuju kamar mandi untuk menyadarkan dirinya. Semalam ia hampir tidak bisa tidur sampai dini hari karena memikirkan Maisie yang pergi seharian dengan Andromeda. Dan kini pagi pagi sekali gadis itu sudah datang ke apartemennya dengan membawa dua koper besar seperti akan pindahan. Darren menyiram tubuhnya di bawah shower, pikirannya berterbangan kemana mana. Sementara Maisie sedang duduk tenang di atas sofa depan televisi sambil memainkan telephone genggamnya. "Sudah sampai Mai?" wa dari mama Maria "Sudah ma, baru aja." "Darren?" "Sedang mandi, baru bangun dia." "Jangan lupa tadi lauk yang mama bawakan taruh di kulkas, kalau mau makan tinggal dihangatkan, Kamu jangan bikin Darren marah, kamu tahu sendiri emosinya labil" Maisie tertawa membaca wa dari mama Maria, memang benar apa kata mamanya itu, Darren memang labil, macam Abege saja. Tak lama kemudian Darren keluar dari kamarnya dengan memakai kaos oblong biru langit dan celana pendek hitam serta wajahnya yang sudah segar. "Kenapa senyum sendiri pagi pagi? Sudah gila ya?" Maisie memonyongkan bibirnya, sebal memang terkadang bicara dengan pria yang kini duduk di sampingnya. "Kakak tuh yang gila. Aku lagi baca pesan dari mama juga." "Mama atau Andromeda?" Darren membuang muka menatap ke arah lain sambil membetulkan anak rambutnya yang jatuh ke dahi nya. "Jadi kak Darren masih cemburu?" Maisie menyadari sikap cemburu kakaknya itu terhadap Andromeda. "Tidak mungkin" masih dengan nada ketusnya. Maisie merangkul lengan Darren dan menyandarkan kepalanya di lengan kekar pria itu, tak mempedulikan sikap cuek Darren padanya. "Aku hanya mencintaimu kak, kamu gak usah mengkhawatirkan apapun walau kak Meda berstatus pacarku. Kakak tahu sendiri alasan aku jadian dengannya. Perlukah aku mengulangnya setiap hari kak? Aku mencintaimu aku mencintaimu aku men hhhhmmmmpppp" Bibir Darren menyumbat bibir Maisie dengan ciumannya agar gadis itu diam. Maisie terkejut namun langsung menutup matanya dan membalas melumat bibir Darren yang manis. Ia begitu merindukan pria itu. Darren melepaskan ciumannya dan menangkup kedua pipi tembem Maisie. "Jangan berisik, masih pagi. Aku tahu, aku juga mencintaimu" Dan ciuman mereka berlanjut, semakin dalam dan berlangsung lama. *** Darren tengah mernyantap makanan yang dibawakan mama Maria oleh Maisie. Namun matanya sesekali mencuri curi pandang Maisie yang duduk di hadapannya, karena gadis itu tak hentinya menatap Darren sambil tersenyum senyum. "Aku tahu kalau aku tampan" ucap Darren di sela sela mernguyah makanannya. "Emang iya?" Maisie mulai sebal bila Darren mulai narsis. "Tapi jangan di tatap seperti itu terus, bisa bisa kamu lupa diri dan menerjangku." Maisie pura pura tersedak walaupun sebenarnya ia sedang tak memakan apapun. "Apa kak Darren memang senarsis itu?" "Jangan khawatir, selamanya aku milikmu." Jangan ditanya bagaimana perasaan Maisie sekarang mendengar ucapan Darren tadi. Bunga sakura seperti bertaburan di hatinya, tubuhnya seperti melayang hingga langit ke tujuh. "Kakak pintar ngegombal juga ya..." "Aku punya banyak keahlian kalau kau ingin tahu." "Memang kakak pintar apalagi?" Darren meletakan sendok dan garpunya di atas piring, di tatapnya dalam mata Maisie, iapun memajukan wajahnya mendekati wajah Maisie dan berbisik. "Aku pintar membuatmu mendesah dan menggeliat merasakan kenikmatan yang tak terkalahkan sekarang juga." Maisie menjauhkan muka Darren dengan telapak tangannya. "IIIIIhhhhh kak Darreeeeeeeennnn" Pria itu hanya tertawa melihat wajah adik kecilnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD