Berkali kali tubuh Maisie menggelinjang, namun tiba tiba Darren menghentikan kegiatannya.
Ditatapnya kedua manik mata adik kecilnya itu.
Darren tersenyum, di tangkupnya kedua pipi maisie dan di kecupnya sesaat bibir adiknya yang sudah menjadi candunya itu.
"Sampai disini dulu ya adik ku sayang...Cepatlah tumbuh...kakak tunggu."
Mata Maisie membulat, tak percaya dengan apa yang dilakukan kakaknya.
Darren bangkit dari posisinya, mengambil piyama Maisie yang tadi ia lempar ke lantai, memakaikannya kembali pada gadis itu, kemudian di selimutinya tubuh Maisie.
Darren menyeringai, berjalan keluar dari kamar Maisie.
"Kak Darren membuat ku gila..." gumam Maisie kemudian iapun tertidur.
***
Pulang dari sekolah adalah waktu yang Maisie tunggu tunggu dari semalam.
Ia akan pergi dengan Darren untuk mengantar pria itu berbelanja perabotan
Sebenarnya Maisie tak faham betul soal perabotan, hanya saja yang terpenting bukanlah itu, kebersamaan dengan Darren lah yang penting baginya.
Darren, pria itu walau hanya dengan memakai kaos biasapun dan celana jeansnya, tetaplah terlihat tampan di mata Maisie.
Setiap hari semakin bertambah rasa kagumnya terhadap kakak tirinya itu.
Senyumnya yang memikat, sering kali membuat Maisie salah mengartikannya.
Jantungnya berdegup kencang, karena pria itu kini tengah menggandengnya di tengah keramaian pusat perbelanjaan.
"Ada yang bisa saya bantu?" seorang pramuniaga menghampri Darren dan Maisie yang tengah memilih milih sofa.
"Kami sedang mencari sofa yang sederhana untuk apartemen yang tidak terlalu besar"
"Silakan disini. Ini cocok sekali untuk pengantin muda seperti kalian."
Ucapan pramuniaga itu membuat Maisie tersipu, pipinya memerah, ingin sekali apabila ada malaikat yang lewat kemudian mengabulkan ucapan pramuniaga tersebut.
Mengabulkan dirinya dan Darren menjadi pengantin muda.
Maisie semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Darren.
"Kami kakak beradik" ucapan Darren seketika membuat hati Maisie seperti di hempaskan dari langit ketujuh.
Pramuniaga tersebut sepertinya salah tingkah, iapun membawa Maisie dan Darren untuk memilih milih.
Darren melirik adiknya yang terlihat lemas.
Di sentuhnya ujung hidung Maisie pelan, gadis itu melirk ke arahnya.
"Kenapa? Kamu kecewa kita cuma kakak beradik?"
Maisie hanya diam membuang pandangannya, Darren kembali terkekeh.
"Mau jadi pengantin kakak?" dan bisikkan lembut itu di telinga Maisie sukses membuat wajah gadis itu kembali merona.
***
Darren membawa Maisie ke apartemen barunya dengan perabotan yang baru ia beli bersama gadis itu.
"Kakak sendirian tinggal di apartemen sebesar ini?"
"Kamu mau nemenin kakak?"
"Bolehkah"
Kembali sentilan kecil dilayangkan Darren ke ujung hidung gadis itu.
"Tentu tidak boleh."
"Lalu kakak akan tinggal dengan pacar kakak?"
"Kakak gak punya pacar"
"Lalu?"
"Lalu...lekas tumbuhlah dewasa dan kita akan bersama" Darren melumat bibir Maisie dan di balas lembut gadis itu.
Ia benar benar menginginkan kakaknya, kalau saja para kurir bsudah pergi, tentunya ia bisa bebas untuk mrenjelajahi bibir manis milik kakak tersayangnya.
"Tolong letakan disana."
"Dan itu disana"
"Jangan disitu, tolong ke samping lagi."
Dan begitulah hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul sembilan malam lebih.
"Kamu harus pulang."
"Tak bolehkah aku menginap disini?"
"Tidak boleh. Belajar lah yang giat. Sebentar lagi kan ujian nasional."
"Kakak gak nginep di rumah?"
"Apartemen kakak dekat dengan kampus, kakak sedang banyak tugas, mungkin dua hari lagi kakak pulang."
"Aku akan sangat merindukan kakak..."
"Kakak akan temani kamu belajar. Oke?"
Dan akhirnya Maisie menuruti permintaan Darren.
Pulang ke kediaman Hartono sementara Darren kembali ke apartemen barunya.
***
Bila mencintaimu adalah kesalahan, biarlah aku tenggelam dalam lautan kesalahan ini kak.
Setiap hari setiap hembusan nafasku, selalu untukmu kak Darren.
Haruskah aku tangkis semua rasa yang sudah mengakar dihatiku untukmu?
Aku ingin bersamamu kak, bukan, aku ingin memilikimu kak.
Jadilah milikku.
***
Maisie sama sekali tak mendengar penjelasan Darren, matanya berfokus pada setiap inchi tubuh pria di sampingnya yang begitu menawan.
Baginya kini tak ada yang menarik, selain memandangi wajah tampan kakaknya yang kini duduk di sampingnya, menemaninya belajar dan sesekali menjelaskan kembali pelajaran yang Maisie tak pahami.
Cup...
Sebuah kecupan kecil mendarat di pipi Darren, membuat pria itu tersentak kaget namun ia balas dengan senyuman dan cubitan kecil di pipi tembem Maisie.
"Nakal ya..." pipi Maisie merona seperti kepiting rebus, di tundukannya wajahnya, walau ini bukan pertama kalinya, namun tetap saja kecupan kecil membuat jantungnya berdebar kencang.
"Aku merindukanmu kak..."
Darren merangkul adik kecilnya, mengecup pucuk kepala Maisie lalu membelai rambut panjangnya.
"Kakak juga merindukanmu. Tapi kamu harus belajar, besok kan kamu ujian. Apa tidak ingin menyusul kakak di univesitas?"
Bagaimana tidak ingin?
Maisie begitu ingin bersama Darren baik pagi, siang ataupun malam.
Kalau perlu 24 jam bersama pria itu.
Namun otaknya itu benar benar tak mampu berfikir fokus sementara makhluk indah disampingnya begitu menggoda, sayang kalau di lewatkan untk dipandang.
Tiba tiba rangkulan Darren terlepas, pintu kamar Maisie terbuka, mama Maria masuk dari balik pintu.
"Mama ganggu ya? Maisie belajarnya giat banget? Tumben?"
Mama Maria tersenyum, kemudian berjalan ke arah putra dan putrinya.
"Kan Maisie memang giat belajar ma..."
Mama mencibirkan bibirnya, ia paham betul kalau putrinya paling malas membuka buku.
Namun lihat sekarang, semenjak Darren bersedia menjadi 'guru prifat dadakannya', Maisie jadi rajin sekali membuka buku, terlebih sekarang nilai di rapor terakhirnya pun lumayan memuaskan.
"Darren hari ini nginap kan?"
Tatapan Maisie dan mama Maria tertuju pada pria bermata coklat disampingnya.
Darren mengangguk kemudian tersenyum, seketika Maisie langsung bersorak kegirangan dan memeluk pria itu.
"Horreeeee "
Tingkah Maisie membuat kaget mama Maria yang tidak tahu kenapa memandang aneh putra dan putrinya itu.
Bagaimanapun Darren dan Maisie sudah sama sama dewasa, mereka juga bukan sedarah, jadi pantaskah bersikap sedekat ini walaupun sekarang mereka kakak beradik?
Itulah yang langsung dipikirkan mama Maria, melihat kedekatan kakak dan adik tiri dihadannya.
Darren mengurai pelukan Maisie setelah menangkap tatapan aneh mama Maria.
"Kakak kembali ke kamar dulu ya Mai..."
"Tapi kan belajarnya belum selesai..."
"Jangan terlalu capek, nanti besok kamu gak bisa konsentrasi"
Wajah ceria Maisie berubah kecewa.
"Benar kata kakak kamu Maisie. Tidurlah, besok bangun pagi agar tidak panik."
"Nanti kakak antar ke sekolah."
Wajah Maisie kembali ceria mendengar ucapan Darren, iapun mengangguk.
Darren pun berlalu dari kamar Maisie dan masuk ke kamarnya.
Sementara mama Maria masih di kamar putri semata wayangnya, membantu membereskan buku pelajaran Maisie yang berantakan.
"Maisie..."
"Hmmm" Maisie menjawab tanpa melihat ke arah mamanya.
Namun mama Maria mengurungkan niatnya untuk menanyakan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Kenapa ma?" Maisie buka suara, melirik ke arah mamanya yang sedari memperhatikannya beberes.
"Gak papa sayang. Kamu istirahat sana. Mama balik ke kamar dulu ya..."
Tanpa bersuara, Maisie hanya mengangguk, di ciumnya kening putrinya terlebih dahulu sebelum ia meninggalkan kamar Maisie.
Mama Maria berjalan melewati kamar Darren, ia berhenti sesaat di depan pintu kamar putra tirinya itu dan berniat untuk mengetuknya, namun kembali di urungkannya.
Wanita paruh baya yang masih cantik di usianya itu menghela nafas, pantaskah ia punya pikiran negatif tentang putra suaminya itu?
Atau ini hanya perasaannya saja?
Akhirnya ia menepis segala pikiran yang tidak tidak di benaknya.
Iapun berlalu, menuruni tangga kemudian masuk ke kamarnya.