Darren menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang king size nya.
Matanya menerawang memandang ke atas langit langit kamarnya, namun entah kemana pikirannya tetuju sekarang.
Banyak sekali hal yang terlintas di benaknya, terlebih tadi ia tak pernah menyangka kalau adik tirinya mengucapkan padanya kalau ia mencintai Darren.
Di usapnya kasar wajah dan rambutnya dengan kedua tangannya, ia hampir frustasi, mendengar pernyataan cinta dari bibir Maisie.
Semua ini memang salahnya, ia tergoda pada sikap lugu adiknya itu hingga lupa posisinya sebagai kakak.
Darren mengakui dirinya khilaf, itu kemarin, namun tadi?
Saat di apartemen temannya?
Pantaskah ia mengulanginya lagi?
Merasakan betapa lembut dan hangatnya bibir Maisie.
Darren segera bangkit dari ranjangnya, berjalan menuju kamar mandi dan segera menyalakan shower dengan pakaian komplit yang masih melekat di tubuhnya.
Ia harus mendinginkan kepalanya serta hasratnya yang hampir memuncak.
Darren tak ingin gelap mata hingga lupa kalau Maisie adalah adiknya.
Tak berapa lama, ia sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di sebagian tubuh bawahnya.
Mengambil handphone di atas nakas kemudian men dial nomer seseorang.
"Hallo pi..."
".."
"Boleh Darren tempati apartemen yang kemarin Darren beli?"
"..."
"Malam ini juga pi"
"..."
"Gak papa...Nanti Darren hubungi lagi"
Ia menutup handphone nya kemudian membawanya di saku celananya.
Darren meraih sebuah jaket warna navy di dalam lemari, memakainya, kemudian berjalan keluar kamarnya.
Ia menatap pintu kamar Maisie sesaat, namun segera beralih menuruni tangga dan berjalan keluar rumah.
***
Saat sarapan pagi, Maisie celingukkan mencari keberadaan Darren.
Pria itu tak ada saat Maisie nyelonong masuk ke dalam kamarnya.
Begitu juga di ruang makan.
"Kak Darren mana ma?"
"Sepertinya semalam keluar lagi. Tapi mama gak lihat Darren pulang."
"Darren menginap di apartemen barunya."
Mama Maria dan Maisie menatap ke arah papi Dimas yang sedang sibuk membaca tabloid online nya sembari menyantap sarapannya.
"Mama kok gak tau Darren beli apartemen mas?"
"Baru beli beberapa hari yang lalu ma, pake uang tabungan Darren sendiri. Katanya dia mau mandiri."
"Kak Darren gak pamit sama Maisie..."
"Apa kalian bertengkar sayang?"
"Gak ma.." Maisie terdiam sesaat, mengingat kejadian semalam saat tiba tiba ia mencium Darren dan mengatakan kalau ia mencintainya.
Apakah karena ini Darren pergi?
Apa Darren tidak suka perlakuan dan kata katanya.
Maisie menunduk, sedikit penyesalan terbersit di hatinya, namun hanya sedikit, setidaknya ia sudah jujur pada dirinya sendiri dan juga Darren.
Namun bukankah lebih baik Darren menjawab isi hatinya?
Bukannya malah pergi seperti ini.
"Maisie mau berangkat sekolah sama papi?"
"Ya pi...mau banget..."
"Mas terlalu manjain Maisie jadi gitu anaknya..."
"Mama...."
Maisie memanyunkan bibirnya pada mama Maria, dan hanya dibalas senyuman.
***
Sudah hampir sepuluh hari Darren tidak pulang kerumah, bahkan sudah beberapa kali Maisie mengirimkan pesan dan menghubungi pria itu namun tak ada balasan.
Namun papi Dimas seolah bersikap biasa saja, padahal Maisie sudah uring uringan memintanya untuk menghubungi Darren.
"Darren sudah biasa seperti ini Maisie...Dia hanya butuh ketenangan. Nanti juga baik sendiri."
Papi Dimas brusaha menenangkan putrinya yang selalu mengkhawatirkan keadaan Darren yang tanpa kabar.
"Barangkali kak Darren di culik orang pi..."
"Yang nyulik takut lihat wajah dia yang dingin tanpa ekspressi seperti itu Mai..."
"Bagaimana kalau kak Darren di bawa sama organisasi tertentu pi..."
"Gak ada yang ngajak dia Maisie..."
"Papi...ayo hubungi kak Darren..."
Papi Dimas hanya bisa menghela nafas mendengar rengekkan putrinya.
Sementara itu Darren yang masih sibuk dengan tugas tugas kuliahnya hanya berdiam diri di apartemen barunya.
Apartemen yang sangat luas hanya untuk di tempati Darren seorang.
Hanya ada sebuah ranjang ukuran king size serta sebuah lemari pakaian disana, tak ada perabotan apapun karena memang apartemen itu baru di beli Darren, tentunya dengan uang pribadinya.
Jangan tanya uang itu dari mana.
Walau sudah pasti papi Dimas adalah pengusaha kaya dan sukses, tak lantas membuat Darren dengan leluasa menikmati harta kekayaan papi nya yang tak mungkin habis 7 turunan itu.
Terlebih Darren seorang pewaris tunggal.
Di waktu senggangnya ia tetap bekerja di perusahaan papinya itu dan mendapat upah selayaknya pekerja perusahaan.
Dan dari upah itulah ia bisa mengambil apartemen yang sekarang ia tempati.
Walau tetap mendapat fasilitas dari papi Dimas Hartono, namun ia ingin tetap memisahkan mana fasilitas orang tua dan mana yang menjadi hasil jerih payahnya sendiri.
"Kamu gak pulang Darren?"
Saat tiba di kantor, papi Dimas langsung menghubungi putra semata wayangnya itu.
"Nanti pi...Urusan Darren belum selesai."
"Maisie uring uringan tiap hari, meminta papi menghubungi kamu."
Darren menyunggingkan bibirnya tanpa menanggapi ucapan papi Dimas.
"Nanti Darren sambung lagi pi. Ada dosen"
Panggilan pun terputus.
Itulah kenapa papi Dimas tak ingin menghubungi Darren, ia paham betul sifat putranya, semakin tak ada kabar itu berarti semua baik baik saja.
***
Maisie melempar buku tugasnya ke atas meja.
Ia benar benar ermosi pada guru kelasnya yang memberikan tugas tanpa henti setiap hari.
Sementara ujian nasional semakin dekat, bagaimana ia bisa membagi waktu antara mengerjakan tugas dan belajar.
Di bolak baliknya berkali kali buku tebal bersampul hijau itu.
"Coba kalau ada kak Darren, biar dia yang menyelesaikan tugas ini dan aku bisa mengerjakan yang lain."
Di pandangnya layar telephone genggamnya, sudah hampir pukul sepuluh, namun belum separo pun tugasnya terselesaikan.
Maisie hanya mampu kembali menghela nafas kasar.
Krekkk...
Maisie menoleh, ada yang memutar knop pintu kamrnya.
Seorang pria tinggi tampan dengan stelan kaos oblong dan celana jeans nya berdiri tersenyum di pintu kamar Maisie.
"Kak Darren?"
Ia tak mempercayai pengelihatannya, berkali di kejapkan kedua matanya, dan benar saja.
Itu benar benar Darren.
Maisie meloncat dari kursi yang di dudukinya, setengah berlari menghampiri Darren dan langsung memeluknya erat.
Darren terkesiap, langsung di tutupnya pintu kamarnya, takut ada yang melihat mereka sedang berpelukan.
"Kangen ya?" goda Darren
"He eh..."
"Lepasin...kakak gak bisa nafas"
"Gak mau. Nanti kak Darren pergi lagi"
"Enggak.."
"Pokoknya gak mau."
Maisie merangkul tengkuk leher Darren dan memeluk erat pria itu.
Ditenggelamkannya wajahnya di d**a bidang pria yang di rindukannya beberapa hari ini.
Darren tersenyum, namun tak membalas pelukan adik tirinya.
Ia merasa sedikit kurang nyaman dengan keintiman yang sedang mereka lakukan.
"Kamu belum tidur?"
"Banyak tugas. Gak ada kakak jadi gak ada yang bantuin."
Darren duduk di samping Maisie yang sedang sibuk dengan tumpukan bukunya.
Ia mengambil sebuah buku dan pena, membantu Maisie menyelesaikan tugas sekolahnya.
"Kalau ada kakak dari kemarin, aku tidak perlu repot menyelesaikan tugas ini sendirian."
"Jadi bukan kangen dengan kakak melainkan membutuhkan kakak? Begitu?"
"Ya bukan begitu kak...Maksud Maisie...kalau ada kak Darren kan Maisie ada yang nolongin, begitu. Tapi tetep kok, Maisie kangen kakak."
Tanpa gadis itu menjelaskan pun Darren tahu betul kalau Maisie pasti merindukanya, terlihat dari cara gadis itu memeluknya erat, bahkan sekarang pun kaos Darren masih digenggam erat tangan Maisie sebelah kiri.
Biar gak pergi lagi, katanya.
Darren tesenyum melihat tingkah Maisie yang baginya begitu menggemaskan.
"Akhirnya...selesai juga..."
Maisie membereskan buku bukunya dan menaruhnya di dalam tas nya.
"Sudah hampir jam dua belas. Sana tidur nanti kesiangan."
"Kak Darren gak pergi lagi kan?"
"Aku ada urusan sebentar, nan.."
"Gak boleh. Nanti kakak gak pulang lagi."
"Maisieeee...nanti pulang sekolah kakak jemput. Antar kakak beli perabotan bagaimana?"
Maisie mendengus kesal.
Darren menarik tangan Maisie menuju ranjang kemudian membaringkan gadis itu di tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Jangan rewel ya...kakak benar benar ada urusan. Besok kan kita bertemu lagi."
Sikap Darren begitu lembut, menatap sendu pada kedua manik mata Maisie, membuat jantung gadis itu hampir meloncat dari rongga dadanya.
Ditangkupnya kedua pipi Maisie, dan di kecupnya pelan bibir gadis itu.
"Tidur yang nyenyak ya Mai..."
Namun belum beranjak Darren dari ranjang Maisie, gadis itu sudah menarik tengkuk leher Darren kemudian menempelkan bibirnya pada bibir Darren.
Maisie benar benar merindukan bibir kakaknya itu.
Ciuman lembut yang berubah menjadi panas, membuat Darren lupa diri.
Ia menurunkan kecupan bibirnya, menjelajahi leher jenjang gadis itu dan sukses membuat Maisie menggeliat dan mendesah.
Terus saja Darren menurunkan ciumannya sampai di belahan d**a Maisie, sampai beberapa kancing baju tidurnya akhirnya ikut terlepas.
"Aaaahhh kak..."
Darren menyeringai, wajah adiknya yang kini di bawah kungkungannya terlihat begitu menggairahkan.
Jari tangan Darren menelusup di balik punggung Maisie, mencari pengait bra dan melepaskannya hanya dengan dua jarinya.
Sekarang Maisie dalam kondisi topless.
Entah kemana larinya atasan piyamanya dan bra nya yang dilempar Darren sembarang.
Darren menghela nafas sesaat, bagaimana Maisie bisa tumbuh menjadi gadis dewasa yang sungguh memikat, sementara ia tak pernah berpakaian sexy di depan Darren.
Berkali kali Maisie menggigit bibirnya, berusaha agar tak mendesah karena tingkah Darren.