CHAPTER 10

1068 Words
Darren mengambil handphone yang berada di sebelah kiri Maisie, otomatis tubuhnya akan melewati Maisie karena gadis itu berada di sebelah kirinya. Maisie masih saja mengalihkan pandangannya dan menutup matanya, Darren terkekeh melihat ekspresi adik kecilnya itu. Ingin sekali di rangkulnya tubuh kecil Maisie yang menggoda matanya, namun di urungkannya. Darren bangkit dari duduknya setelah sebentar menggoda Maisie, berjalan ke arah lemarinya untuk berganti pakaian. "Buka matamu, katakan ada apa?" teriaknya Maisie perlahan membuka matanya, masih terasa wangi sabun dari tubuh Darren di hidungnya padahal pria itu sudah menjauh. Mencoba mengatur nafasnya yang serasa sesak tadi karena godaan Darren, kemudian menghembuskannya perlahan. "Kakak marah?" "Soal?" "Aku pulang dengan kak Meda?" "Itu bukan urusanku." "Aku tidak tahu kalau kak Meda akan menjemput" "Nyatanya kamu memilih pulang dengannya." "Ini terakhir kalinya kalau kakak tidak suka" Darren menghentikan kegiatannya memilih pakaian kemudian menoleh ke arah Maisie, tatapan mata mereka bertemu, membuat Maisie salah tingkah, kemudian melanjutkan kembali mengambil beberapa potong pakaian yang akan ia kenakan. "Aku ada kencan, bisakah keluar sekarang? Aku harus ganti pakaian" "..." "Atau perlu aku ganti baju di hadapanmu?" Maisie beranjak dari kamar Darren sembari bergumam kesal. "Katanya gak punya pacar. Ini malah mau kencan. Dasar." Darren menyeringai, tak menyangka adik kecilnya berharap ia memberi larangan untuk tindakannya. *** "Kamu kenapa Mai? Kok cemberut gitu?" mama Maria melihat ekspresi putrinya yang lesu saat di ruang makan, tak seperti biasanya. "Gak papa ma. Lagi sebel aja sama kak Darren." "Darren kenapa?" "Maisie gak boleh pacaran, eh dianya mau pergi kencan. Kan gak adil" Maisie mendengus kesal, mengadu pada mama nya berharap mendapat pembelaan. Namun tak sesuai harapan, ia hanya tersenyum mendengar aduan putri semata wayangnya itu. Di belainya rambut panjang Maisie. "Darren benar Maisie...bagaimana kamu bisa memikirkan soal pacaran kalau nilai kamu saja masih turun begitu..." "Tuh...dengerin kata mama..." tiba tiba saja Darren muncul dari belakang Maisie dan menyerobot apel yang tengah digigit Maisie. "Kak Darrennnnn!!!!" teriaknya dan hanya di balas kekehan oleh pria tinggi dan tampan itu. "Mau pergi Darren?" "Iya ma, ada tugas kelompok." "Bohong ma. Mau kencan dia" Maisie memonyongkan bibirnya ke arah Darren. "Kalau gak percaya kamu bisa ikut kakak." "Maisie ikut kak Darren ya ma..." mama Maria tersenyum kecil, kalau tidak di ijinkan Maisie pasti akan merengek terus seperti bayi. "Mai ganti baju dulu kak, jangan pergi!!!" Maisie berlari menuju kamarnya dengan senang. Darren duduk berhadapan dengan mama Maria, canggung sebenarnya, namun ia mulai terbiasa. "Benar mau belajar kelompok Darren?" "Iya ma" "Kok ganteng banget?" mama Maria menggoda. "Dari lahir ma..." mereka berdua tertawa bersama. Mama Maria merasa lega, Darren benar benar berbeda dari sejak mereka bertemu. Tak lama kemudian Maisie turun dari lantai dua, dengan celana pendek warna putih dan kaos oblong pink tak lupa ia membawa jaket denim besar untuk menutupi kaos pendeknya. "Ayo kak..." "Jangan pulang ke malaman ya sayang...titip Maisie ya Darren" "Iya ma.." "Iya ma...." Di mobil, Maisie terus saja mengulum senyum, sesekali ia ikut mendendangkan lagu yang dilantunkan Ed Sheeren lewat music audio car. Darren tersenyum kecil sambil terus mengemudikan mobilnya. "Kamu serius mau ikut kakak belajar kelompok?" "Aku ingin mengganggu kencan kakak, aku ingin lihat seperti apa pacar kakak." "Sudah dibilang kakak gak punya pacar" "Tadi katanya mau kencan" "Itu biar kamu keluar dari kamar kakak." "Kakak gak suka aku di kamar kakak?" "Bukan gitu Maisie..." "Berarti gak masalah kalau aku ikut donk" "Terserah kamu kalau kamu ngerasa bosen kamu bisa pulang." "Kakak lama?" "Mungkin" Maisie yang keras kepala harus melawan Darren yang sama sama keras dan dingin. Tak seperti dugaan Maisie, Darren ternyata benar benar belajar kelompok dengan teman teman kuliahnya 8 orang yang kesemuanya laki laki. Alhasil, ia hanya bisa duduk diam di pojokkan, meminum jus dan memakan cemilan, serta memainkan handphonenya. Cukup lama Darren sibuk dengan kegiatannya tanpa menghiraukan Maisie, meliriknya pun tidak. Ia masih fokus dengan teman teman kampusnya, membahas entah apa yang Maisie pun tak mengerti bahasanya. "Kita istirahat dulu bagaimana?" "Iya, aku juga lapar?" "Bagaimana kalau pesan makanan?" "Mau makan apa?" "Aku sih terserah" "Siapa nih bos nya?" Dan Darren pun mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dalam dompetnya. "Pesanlah sesuka kalian, jangan lupa satu porsi untuk adikku." "Siap bos. Laksakan" Dua orang teman Darren keluar dari apartemen untuk membeli beberapa makanan, sementara yang lain kembali di sibukkan dengan tumpukkan kertas kertas. Darren berjalan menghampiri Maisie yang sedari tadi menekuk wajahnya. "Kakak kan udah bilang...Kamu bosen kan?" Maisie memonyongkan bibirnya kesal. "Itu bibir jangan seperti itu. Kakak gemes lihatnya jadi pingin gigit" "Coba aja kalau berani!" Darren menoleh ke arah teman teman nya yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya, kemudian langsung menarik tengkuk leher Maisie dan meraup bibirnya, menghisapnya sesaat kemudian melepasnya, Maisie membelalak. "Jangan di ulangi ya...Kakak gak main main" Darren mengedipkan sebelah matanya, kemudian berpaling meninggalkan maisie yang masih terdiam akan tindakan tak terduga Darren. "Kita selesaikan segera, agar tidak pulang ke malaman." *** Sejak kejadian tadi, bahkan setelah makan besama teman teman Darren dan dalam perjalanan pulang pun Maisie masih menutup mulutnya. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Darren yang tadinya tenang menyetir akhirnya menepi kan mobilnya di tempat yang agak sepi. "Maisie.." "Ah..iya kak.." Maisie sepertinya baru tersadar dari lamunan panjangnya. "Kamu diam saja dari tadi" "Aku tidak apa apa kak." "Kakak gak suka kamu melakukan yang seperti tadi dengan Andromeda." "Yang seperti apa?" Darren menatap Maisie kemudian menyentuh lembut bibir gadis itu. "Yang seperti tadi. Membuat pria gemas melihatnya. Apa kamu tahu?" Maisie mengangguk, entah kenapa perasaannya tiba tiba menjadi senang. "Kita pulang?" Maisie kembali mengangguk. "Jangan cemberut terus, nanti mama sama papi pikir kakak menyakiti kamu" Maisie kembali mengangguk kemudian memasang senyum di wajahnya. "Gadis pintar" Di belainya pucuk rambut Maisie dengan lembut, lalu tangannya beralih memegang stir. "Kak..." Darren menoleh ke arah Maisie dan langsung di tariknya tengkuk pria itu dan di ciumnya lembut bibir Darren. Pria itu membelalak kan tindakan tiba tiba Maisie, namun sepertinya tak ada keniatan gadis itu untuk melepas tautan bibirnya dengan bibir Darren. Dihisapnya pelan bibir lembut Darren dengan mata tertutup dan tangan nya yang lain mehmbelai pipi Darren dengan lembut. Deru nafas Maisie tak beraturan, ragu namun tetap di teruskannya. Darren tersenyum, dan membalas ciuman adik kecilnya itu. Bibir Maisie yang lembut dan manis telah menjadi candunya kini. Baginya, menyentuh Maisie seperti ini adalah hal terindah baginya saat ini. Setelah saling melumat untuk beberapa lama, Maisie meleoaskan ciumannya. Dengan pipi memerah dan wajah malu malu, bibirnya bergetar, ia mencoba menatap manik mata Darren. "Aku mencintaimu, kak Darren" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD