CHAPTER 5

1033 Words
Darren mengajak Maisie ke Disney Land Jepang. Darren mengulum senyum melihat reaksi Maisie yang takjub metika mereka sampai disana. "Waaaooooooowwwww..." terus saja kata itu yang di gumamkan Maisie. Lokasi yang bagus dengan wahana yang menakjubkan, begiulah menurut Maisie. Tak henti nya ia menarik tangan Darren dan mengajak bermain berbagai permainan yang ada. "Naik itu kak..." "Yang itu juga kak..." "Kaaaakkk ada micky mouse gedhe..ayo foto kak..." Darren hanya mengangguk dan menghela nafas kasar, namun lelahnya hilang saat melihat wajah ceria Maisie yang begiu menikmati setiap permainan bersamanya. "Aku pingin foto di situ kak." Maisie menunjuk sebuah istana Cinderella. Darren mengambil handphone di saku celananya namun Maisie langsung merangkul Darren dan berbisik di telinga pria itu. "Kakak bisa bahasa jepang? Bisa mintakan tolong orang untuk motret kita gak ka?" Jantung Darren berdebar begitu kencang dengan sikap Maisie yang tiba tiba saja merangkulnya, hangat nafas Maisie di telinganya mengalirkan gelenyar aliran listrik yang membuatnya seketika sesak nafas. Tak lama ia kembali sadar kemudian menghampiri seseorang dan berbicara kepada nya. Darren memberikan telephone genggamnya kemudian menghampiri Maisie. "Ayo.." Dengan background istana Cinderella, Maisie berfoto berdua dengan Darren, Maisie merangkul lengan Darren kemudian menyandarkan kepalanya di lengan pria itu. Dengan perasaan gugup Darren tersenyum, namun dengan sesak di dadanya karena tingkah Maisie. Setelah beberapa kali jepretan, Darren melepas rangkulan Maisie kemudian menghampiri orang yang dimintai tolong untuk memotret mereka tadi. "Udah kak? Cari makan yuk kak.. Maisie lapar..." Rengekkan Maisie kembali dijawab anggukkan oleh Darren. Maisie meminta Darren untuk mentraktirnya hamburger, makanan yang sebenarnya lazim di temui dimanapun tempat. Darren tak menolak apapun permintaan Maisie, sepertinya ia mulai menyukai perannya sebagai dseorang kakak. "Kak...foto yang ini bagus, aku jadikan wallpaper handphone aja bagaimana?" "Terserah kamu" Maisie tak terlalu ambil pusing sikap cuek kakak tirinya itu, toh nyatanya Darren tetap mau mengajaknya keluar jalan jalan dan menuruti segala keinginannya. Selesai makan mereka langsung kembali ke hotel, namun ternyata papi dan mamanya masih saja belum selesai dengan urusannya. "Aku masuk dulu" Darren melihat ekspressi wajah kecewa di wajah Maisie, sepertinya gadis itu akan merasa bosan lagi sendirian di kamar. "Mau ke kamarku?" "Bolehkah kak?" Darren tersenyum kemudian mengangguk. Mereka bersama memasuki kamar hotel Darren. Maisie baik baik saja dan berjalan melenggang seolah ia tak merasakan canggung sedikitpun satu kamar dengan lawan jenisnya, berbeda dengan Darren, berkali kali pria itu menghela nafas kasar, mencoba menghilangkan rasa sesak di dadanya. "Waaaahhhh kamar kakak lebih besar dari kamarku..." "Mungkin karena aku pesan yang ada di ujung" Maisie menjatuhkan dirinya di ranjang king size dan Darren kembali membelalak karena tingkah tak terduga Maisie itu. Darren membuang muka, ia tak ingin tertangkap mata oleh Maisie karena mukanya yang sudah merah pada mirip kepiting rebus itu. "Aku mandi dulu, kamu istirahat saja..." Darren berlalu menuju kamar mandi, membiarkan Maisie yang sedang berguling guling di atas ranjangnya. Darren menyandarkan tubuhnya di belakang pintu, mengusap wajahnya kasar, mencoba sadar dari pikirannya. "Sepertinya aku sudah mulai gila" gumamnya. Di guyurnya tubuhnya di bawah shower air hangat, menghilangkan pikiran anrh yang sedang bersarang di hati dan pikirannya dan menatap wajahnya sendiri di depan kaca. "Sadar Darren, dia adikmu.." Berkali kali Darren meyakinkan dirinya dengan ucapan itu. Setelah beberapa saat, Darren keluar dari kamar mandi hanya mengenakan bathrobe nyya. Didapatinya maisie sedang tertawa dan bervideo call dengan seseorang. Tatapan mereka beradu, wajah Maisie memerah melihat pakaian yang di kenakan Darren. "Kakak mau ganti baju? Aku keluar dulu." "Tidak perlu, aku hanya ingin mengambil baju ganti di koper." Darren berlalu menuju kopernya, kemudian meninggalkan Maisie yang sedang sibuk dengan handphone nya. "Itu kak Darren kan Mai??" "Sexy nya..." "Apa yang kalian lakukan di kamar? Kenapa dia keluar dari kamar mandi cuma memakai bathrobe saja?" Ucapan Michele dan Thania yang sedikit seronok langsung di begis oleh Maisie. "Huuussstttt pikiran kalian itu...Aku dan kak Darren itu tidak mungkin...Jangan berpikiran negatif tentang kak Darren dong...Dia gak m***m seperti pacar pacar kalian..." Mereka bertiga kembali tertawa, Darren yang sudah rapi keluar dari kamar mandi dengan mengenakan setelan training abu abu dan hoodie. Walau dalam balutan santai, tak mengurangi sedikitpun nilai ketampanan pria itu. "Udah dulu ya...Gak enak ada kak Darren...Bye..." "Bye Maisie..." "Jangan lupa oleh olehnya..." Maisie menutup panggilannya, iapun bangkit dari posisinya, kemudian menghampiri Darren yang sedang duduk di sofa dekat jendela. "Kakak mau tidur? Aku bisa kembali ke kamar." "Kamu mandi dulu. Kembalilah kalau jam tidur. Aku sedang tidak mengantuk. Kita tunggu papi dan mama kamu balik ke hotel." Maisie mengangguk, Darren memang kakak yang perhatian ternyata. Ia kembali kekamarnya kemudian mengambil pakaian ganti dari kopernya kemudian kembali ke kamar Darren. Selesai mandi, Darren dan Maisie duduk di sofa dekat jendela. Ternyata Darren sudah memesan beberapa cemilan khas Jepang seperti Okonomiyaki yaitu martabak ala Jepang,  Gyoza atau pangsit khas Jepang dan yang membuat Maisie heboh, ia benar benar melihat Dorayaki makanan favorit Doraemon di negeri asli asalnya. "Terimakasih ya kak..." tanpa melirik ke arah Darren, Maisie langsung saja melahap makanan yang tersaji di meja, Darren tersenyum, hanya melihat maisie makan saja mampu mendebarkan jantungnya dengan kencang. Maisie menyuapkan potongan dorayaki ke mulut Darren, tak di sangka pria itu mau membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangan Maisie. Mendapat sambutan, berkali kali Maisie menyuapi Darren dengan makanan sampai mulut pria itu penuh. "Sudah..."Darren kesulitan bicara dengan banyaknya makanan di mulutnya. Setelah berusaha menelan semua makan di mulutnya, Darren meneguk dua gelas air putih untuk melonggarkan tenggorokannya, dan iapun ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. "Kak Darren..." gumam Maisie. "Makan lagi kak..." "Habiskan saja. Aku kenyang..." Dan kembali Maisie memakannya lagi, tak menghiraukan darren yang berada di kamar mandi. "Tadi siapa yang menghubungi?" tanya Darren "Sahabatku di sekolah kak" "Hmmm..." "Mereka fans berat kakak lho..." Sudah biasa Darren mendengar kalau para gadis ngefans padanya walau dirinya bukanlah seorang artis. "Kalau kamu?" "Ha?" pertanyaan balik Darren membuat Maisie kaget. "Kamu juga fans beratku?" Maisie terdiam. Bagaimana ia bisa mengatakan pada kakak tirinya kalau dia sudah mengagumi Darren jauh sebelum mereka saling mengenal seperti sekarang ini. Maisie hanya tersenyum, berharap Darren mengalihkan pertanyaan yang membuatnya canggung itu. Darren tidak tahu sebahagia apa dirinya bisa memiliki kakak tiri seperti Darren, terlebih sekarang mereka dekat seperti ini. Tak bisa dibayangkan kalau Darren sampai mengetahui perasaannya, akankah pria itu menjaga jarak seperti dulu lagi saat pertama mama dan papinya menikah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD