CHAPTER 6

1089 Words
Urusan bisnis papi Dimas di Jepang akhirnya selesai juga. Untung Darren sempat mengajak Maisie keluar jalan jalan, kalau tidak gadis itu pasti akan ngambek karena papi dan mamanya terlalu sibuk bertemu klien sampai lupa meninggalan putra dan putrinya untuk berdiam diri sepanjang hari di kamar hotel. Dan mereka pun kembali ke aktifitas seperti biasanya. Matahari sudah mulai naik, namun Maisie baru beranjak dari tidurnya. Ia tersentak kaget, bagaiman bisa hari pertama ia masuk sekolah bisa terlambat lagi. Tidak mungkin baginya untuk meminta papi Dimas untuk mengantar, terlebih meminta bantuan Darren si es balok yang sikapnya berubah ubah tak terduga. Aaaahhhhh... Maisie menghela nafas kasar, sudah menjadi takdirnya kalau ia memang seorang yang ceroboh seperti ini. "Mai...sarapan dulu..." "Gak mam...Mai sarapan di kantin saja, udah kesiangan..." Mama Maria menyodorkan sekotak sandwich pada Maisie. "Salah sendiri nonton drakor sampai tengah malam, ini dimakan di jalan sambil naik ojek" "Makasih ma..." "Ikut mobil kakak" Darren bangkit dari duduknya di meja makan, kemudian mengajak Maisie untuk berangkat sekolah bersama. 'kakak?' gumam Maisie dalam hati, tak menyangka Darrean menyebut dirinya sendiri pada Maisie dengan sebutan kakak. Terlebih pria itu menawari tumpangan tanpa diminta siapapun. Mungkin kak Darren salah minum obat? Atau otaknya tertinggal di Jepang? Batin Maisie. Namun itu membuat mama Maria, papi Dimas dan Maisie tersenyum tak menyangka. "Siap bos" Maisie dengan sikap ala ala militer mengikuti Darren dari belakang. "Mai berangkat dulu ma, pi..." "Hati hati sayang..." teriakan mama Maria terdengar sampai teras rumah. "Darren menerima Maisie ya mas...?" "Sebenarnya Darren memang orangnya penyayang ma..." Mama Maria memonyongkan bibirnya dan di balas tawa oleh papi Dimas. *** "Belajar yang benar. Jangan sampai mama ngomel lagi" "Iya kakaaaakkkk...Maisie gak nyangka, selain narsis kak Darren juga bawel" Darren tersenyum mendengar pernyataan adik kecilnya. Mobil berhenti sebelum gerbang sekolah. "Biar kakak bukakan pintunya." Darren turun dari mobil dan berjalan memutar menuju pintu mobil Maisie, gadis itu tertegun semakin tak mengerti dengan perubahan sikap Darren yang begitu baik dan perhatian padanya. "Perlu kakak jemput?" "Gak usah, nanti Maisie pulang sama teman teman naik bis. Bye kak Darren, Maisie masuk kelas dulu." Maisie berlari meninggalkan Darren sembari melambaikan tangannya. Darren bergegas kemabli masuk ke dalam mobilnya, pesona Darren membuat gadis gadis di sekolah Maisie terpukai melihat pemanadangan yang tak biasa di pagi hari depan sekolah. "Itu Darren kan?" "Ganteng nya..." "Iya ganteng banget..." Dan kembali dengan wajah datarnya, Darren melajukan mobilnya menorobos jalanan yang mulai padat di jam masuk sekolah. "Kamu di antar kak Darren?" "Kok bisa?" Maisie mengulum senyum, hatinya sedang berbunga bunga dengan sikap baik Darren selama beberapa hari. "udah jangan kepo...ini buat kalian" Maisie memberikan tas kertas berisi yukata kepada kedua  sahabatnya itu. Seperti biasanya Michelle dan Thania merasa bahagia memiliki sahabat yang selalu mengingat mereka seperti Maisie. Kembali seseorang yang mengusik ketenangan Maisie datang lagi, tak lain adalah Andromeda. Pria itu kembali mendatangi sekolah Maisie dan menggencarkan pendekatannya pada gadis itu. Menunggu Maisie sepulang sekolah seperti sudah menjadi aktifitas hariannya kini. "Kenapa gak di terima aja sih Mai?" "Gak ada salahnya membuka hati Mai..." "Gak tau..aku capek" Maisie mendengus kesal, namun tak bisa menolak kala Andromeda kembali menawari tumpangan padanya. "Kak Meda..apa gak capek ke sekolah Maisie terus?" "Kamu apa gak capek menghindar dariku terus?" Masih dengan sabar Andromeda mendekati Maisie, menurutnya ini suatu kemajuan bisa mengajak gadis itu untuk mau diantarnya pulang kerumah. "Mai...ap kamu mencintai pria lain?" Pertanyaan dari Andromeda membuat Maisie terdiam, kalau diingat saat inipun ia tak memiliki seorang kekasih. Hanya saja untuk memikirkan kekasih saat ini tidaklah mungkin. Bahkan nilai di sekolahnya pun anjlog, fokusnya tak boleh terbelah oleh hal hal tidak penting seperti itu. "Baiklah..." Maisie menghela nafas kasar. "Kenapa?" "Aku menerima kak Meda." Tiba tiba Andromeda mendadak mengerem mobilnya, membuat mobil yang berada di belakangnya mengklakson keras pada nya. Andromeda tak memperdulikan cacian dan makian yang terlontar dari mulut pengemudi lain yang sama sekali tak di dengarnya. Ia pun kembali melajukan kendaraannya kermudian berhenti di tempat yang agak sepi. "Kamu tadi bilang apa Maisie?" "Aku menerima kak Meda. Udah? Puas?" Andromeda tersenyum, hatinya seperti melayang di udara, tak menyangka perjuangannya selama setengah tahun ini tak sia sia. Hampir saja ia memeluk Maisie kalau saja gadis itu tak mendorongnya menghindar. "Eiitttsss stop." "Kenapa?" "Senang aja gak perlu pakai peluk peluk." "Ok ok...tapi serius kamu nerima aku?" "Iya. Tapi aku punya syarat." "Apapun itu asal tidak yang aneh aneh aku terima." "Jangan mendatangi aku terus seperti ini di sekolah kak...Aku merasa tidak nyaman." "Oke, hanya itu?" "Sementara itu." Andromeda mengangguk, apapun syarat yang di ajukan Maisie akan ia terima asalkan ia bisa bersama dengan gadisnya itu. Dan Maisie bisa bernafas lega, setidaknya ia tak akan melihat wajah Andromeda untuk sementara waktu. Sebenarnya wajah Andromeda tak bisa dikatakan jelek, ia bahkan tergolong kedalam kategori tampan. Wajahnya yang blasteran dengan manik mata biru dan kulit yang putih bersih serta hidungnya yang mancung, benar benar terlihat sempurna di tambah tubuhnya yang tinggi proporsional. Hanya saja sikapnya yang terlalu menggebu mengejar Maisie, selalu membuat gadis itu merasa risih dan sedikit tak nyaman. Mungkin karena belum ada cinta yang tumbuh di hati Maisie, ia belum membuka hatinya pada pria itu. Makanya setampan apapun Andromeda menurut teman temannya, tetap biasa saja bagi Maisie. Mobil Andromeda telah sampai di depan gerbang kediaman keluarga Hartono. Andromeda turun, kemudian berjalan memutar membukakan pintu untuk Maisie. Maisie merasa tidak enak dengan sikap Andromeda yang memperlakukannya bak seorang putri, membuatnya semakin merasa tidak nyaman. "Terimakasih kak Meda." "Sama sama cantik.." "Biasa aja manggilnya kak...Lagian Maisie juga bukan cewek cantik kok." "Bagiku kamu lebih cantik dari Juliet, Maisie.." Maisie mencibir, sementara Andromeda tetap dengan senyum menawannya pada gadis itu. Mobil Darren melintas melewati Maisie dan Andromeda yang sedang berbincang di depan gerbang. Seperti biasanya, dengan sikap dinginnya ia berlalu tanpa menoleh maupun mengklakson adik tirinya, Maisie menyadari itu mobil kakaknya, dan ia langsung berlari menghampiri Darren yang masih berada di dalam mobil. "Aku masuk dulu kak Meda. Nanti aku hubungi lagi..." Teriaknya dan berlalu. Darren keluar dari mobil dan berjalan angkuh masuk kedalam rumah. Membanting pintu dengan kasar, kemudian masuk ke dalam kamrnya. Maisie terdiam, kembali melihat sikap dingin kakak tirinya yang tak bisa ia mengerti. "Suasana hatinya sedang buruk. Lebih baik aku menjauh" gumam Maisie, kemudian berlalu menuju kamarnya. Sementara Darren menahan sesak nafas di dadanya. Jantungnya bergemuruh, hawa panas menyelimuti dirinya, sepertinya darahnya mendidih melihat adik tirinya bersama dengan seorang pria di depan rumahnya. Adiknya memonyongkan bibirnya, memasang wajah menggemaskan menurutnya, dan di sambut senyuman oleh sang pria. Membuat Darren ingin sekali menarik kerah baju pria itu dan melemparkan bogem mentah ke bibir yang tersenyum manis pada adiknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD