^^Lima
“Bagaimana Gab? Jelita sudah mulai kerasan kuliah di tempat kamu?” Papi Gabrian menyempatkan diri bertemu Gabrian sebelum perjalan bisnisnya.
Gabrian berdecih, entah apa gerangan maksud si tua bangka itu. Memasukan Jelita, si calon Ibu tiri Gabrian di kampus yang sama dengannya.
“Jangan banyak mengeluh! Nanti Papi tambahin uang bulanan kamu, oke?”
Gabrian menghela nafas, benar-benar tidak ingin menjawab meski kalimat itu terdengar menggiurkan.
“Dengerin, Papi dan rekan lain akan ada perjalan bisnis ke luar negeri. Jadi pernikahan Papi dan Jelita mungkin akan tertunda beberapa bulan, karena Papi belum tahu kapan urusan Papi ini akan selesai.”
Gabrian masih tak peduli, sekarang atau nanti sama saja baginya. Toh dara pemilik senyum manis itu tetap akan bersanding dengan si tua bangka bibir hitam.
“Pokoknya, kalau Jelita ada perlu apa-apa, atau minta diantar kemana saja, kamu harus siap dan bantu dia, mengerti?”
“Gabrian enggak bisa nolak kan?” gabrian mengangkat dagu.
Papinya bergeleng.
“Jadi ngapain perlu jawaban Brian? Dah, mau ada kelas!” gabrian meraih tas hitamnya dan pergi begitu saja.
“Nanti Papi transfer segala keperluan Jelita ke rekening kamu, soalnya dia belum sempat buat rekening baru.”
Gabrian tak menoleh, tapi dia berhenti sejenak dan berbalik arah kembali menuju tempat Papinya duduk.
“Apa?” selidik Papinya curiga.
“Beliin Brian mobil..”
“Untuk antar jemput Jelita!” Gabrian menambahkan kalimatnya sebelum si Papi sempat bicara.
“Uhm, akan Papi pikirkan dulu.”
“Halah..” Gabrian malas sekali kalau Papinya mulai berkata akan berpikir.
Masalahnya dia suka sekali berpikir, sampai dia tak mau menyudahi pikirannya dan merealisasikan jadi kenyataan. Gabrian sudah hafal sekali dengan kelakuan Papinya.
Cowok berkemeja merah dengan inner sebuah t-shirt putih bersih nampak keluar dari kafe tempatnya bicara dengan sang Papi tadi, mampir ke warung rokok di pinggir jalan dan membeli sebatang rokok yang langsung di eksekusi di tempat memakai korek si abang warung.
“Gab!” suara Galih dari kejauhan.
Gabrian mengepulkan asap putih ke udara.
“Cewek kemarin nyariin elo tadi.”
“Cewek yang mana?” pertanyaan wajar, terlalu banyak cewek yang cari-cari dia setiap hari.
“Haish, yang cakep itu! yang kemarin!”
Gabrian nampak tak peduli, tak mau menyahuti Galih.
“Lo darimana sih?”
Gabrian menunjuk kafe tadi dengan gerakan kepala.
“Habis makan enak lagi? Buset anak settan!” umpat Galih yang kesal karena tak diajak.
“Kafe ini deket dari kampus! Ajak gue kek! Duta mah enggak usah! Nanti elo tekor!”
“Berisik lah! Balik lah!” gabrian berjalan dengan langkah gontai.
“Lha, balik? Masih ada kelas woy Gab!”
***
Keesokan harinya, Jelita nampak berjalan seorang diri. Gabrian yang tak sengaja melihatnya, menghampiri hanya untuk sekedar basa basi.
“Ehem..” Dia berdeham.
Jalita berjalan menunduk, sama sekali tak menoleh ke arah Gabrian yang berjalan mengimbangi langkahnya. Gabrian berusaha mencuri pandang ke wajah Jelita. Gadis berjilbab itu nampak lebih menundukkan kepalanya.
“Hai!” Gabrian mengibaskan tangan di depan gadis itu.
Tetap tak direspon, Gabrian memblokir jalan di depan jelita dengan tubuh tingginya, Jelita menangkat dagunya. Saat itu, dapat jelas terlihat ada luka dan darah di bibir jelita. Gabrian terkejut dan hendak menyentuh bibir indah itu.
“Kenapa ini?” tanyanya peduli.
Namun Jelita menepis tangan Gabrian dan berlalu pergi dengan wajah sedihnya.
“Jelita kenapa ya? Kok bibirnya luka gitu?” gumam Gabrian heran.
“Apa yang udah Papi lakuin ke dia?”
Gabrian cepat-cepat menghubungi ponsel Papinya. Berniat mencecarnya dengan banyak tanya. Tapi, dia lupa Papinya pagi ini pasti sudah berada di dalam pesawat. Tak ada nada sambung yang dia dengar.
“Sshh..” Gabrian mendesis.
Gabrian mengejar Jelita yang semakin menjauh. Meraih lengan gadis itu. Semua mata menatap mereka. Mereka berada di sebuah jalan utama yang menghubungkan bangunan antar fakultas. Beberapa gadis terlihat tak suka dengan keberadaan Jelita di sekitar Gabrian.
“Jelasin ke aku, kamu kenapa?” cecar Gabrian dengan wajah panik.
Jelita mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dia mencoba melepaskan genggaman tangan Gabrian tapi cowok itu tak mau melepaskannya.
“Lepasin..” lirih Jelita.
“Asal kamu janji mau cerita, aku akan lepasin tangan kamu.”
Jelita terdiam, kemudian dia mengangguk.
“Janji?” tegas Gabrian.
Jelita lagi-lagi mengangguk. Gabrian melepaskan tangannya, namun gadis itu segera berlari pergi meninggalkan Gabrian yang tak menyangka bahwa Jelita akan kabur. Tampak sekali bahwa Jelita benar-benar tak ingin bicara dengan siapapun.
Dia hanya ingin cepat masuk kelas, dan duduk di sudut ruangan. Memandang hiruk pikuk jalanan lewat kaca jendela disampingnya duduk. Dibawah sana, tampak rentetan kendaraan bermotor yang seolah tak ada habisnya.
“Astaga, kenapa dia? Jelita!!!” teriakan Gabrian sama sekali tak digubris oleh Jelita.
“Minggir!!! Minggir!” suara Duta Gendut dengan mesin motor maticnya yang berdengung.
Gabrian menepi dan mengumpat.
“Gendut gila! Anak gorila!” cacinya sambil membersihkan kemejanya yang terciprat genangan air.
Galih dibelakangnya terkekeh, senang karena pagi-pagi kawannya sudah kena sial.
“Cakep tuh, kaya motif baju branded, hahaha..”
“Cih..” mereka berjalan beriringan.
Galih merangkul pundak Gabrian.
“Motor elo belum beres juga?” tanya Galih.
“Udah, nih! Elo ambil sana!” gabrian menyerahkan kunci motornya.
“Yah, udah bayar belum biaya servicenya?”
“Udah!”
“Asoy, nanti malem gue pinjem ya!”
“Mau kemana?”
“Biasa, modusin neng Imey, anak mang sate depan kostan!”
“Kan dia tahu itu motor gue!”
“Ya, emang kenapa? Yang penting kan gue bisa bonceng dia pas dia mau beli kecap!”
“Beli kecap?”
“Iya, di warung si mpok!”
“Vangke, itu warung cuma lima langkah dari gerobak sate dia!”
“Lah, sirik aja! Ya suka-suka lah!”
“Dih, siapa yang sirik! Dahlah, gue mau bolos nih. Lagi enggak enak pikiran! Ambil motor gih! Mau jalan kemana kek!”
“Ehm, ongkos ojeknya mana?”
“Hadeh..” Gabrian mengeluarkan dompet.
Berlembar-lembar uang lima puluh ribuan dia keluarkan, dia hitung satu persatu di depan wajah Galih yang terbelalak nafsu melihatnya.
“Satu, dua, tiga..” gabrian menghitung semua uangnya.
Kemudian, di tempat akhir ada uang sepuluh ribu dan dia berikan pada Galih.
“Lah!”
“Kenapa?”
“Kok yang ungu?”
“Ongkos ojek kan?” Gabrian tanya balik.
“Ya, sama aqua gelas lah minimal! Kan bengkelnya jauh, haus!”
“Ehm, gitu.. bentar..” Gabrian kemudian menyerahkan sebuah koin bekas kerokan semalam.
“Lah!” seru Galih kesal.
“Aqua gelas kan?” wajah Gabrian super menyebalkan.
Galih mengelus d**a dan pergi sambil menggaruk kepalanya.
“Kaya doang, ganteng doang! Tapi kurett!!!” umpatnya sambil menyetop sebuah angkot merah ketika sudah keluar dari gerbang kampusnya.
“Lumayan, naik angkot cuma goceng, kembalinya bakal nraktir neng Imey beli kecap di warung si mpok!” ujarnya senang.