Delapan
“Gue ngekost karena biar deket ke kampus, tapi tetep malah bolak balik ke rumah gegara jemput dan anter Jelita, Huh! Yang ada gue bakal bolos mata kuliah pertama setiap hari.” Gerutunya sambil membuka helm.
Gabrian membunyikan klakson Vespanya, berharap Jelita mendengar dan lekas keluar. Namun, yang keluar jutsru si Bibi. Dia tergopoh-gopoh mendatangi Gabrian yang nampaknya masih enggan turun dari motor dan masuk ke dalam rumah, meski itu rumahnya sendiri.
“Mas Gabrian..” wajah Bibi menyiratkan kecemasan.
Yang diajak bicara itu menaikan sebelah alisnya. Tanda tanya nampak jelas di matanya.
“Mas, Neng Jelita Mas..” lirihnya.
“Kenapa?” Gabrian masih agak santai.
“Dia enggak mau buka pintu kamarnya.”
“Ehm, lagi mandi mungkin.”
Bibi tidak bisa menyimpulkan hal sesederhana itu, sungguh dia takut kalau Jelita melakukan hal-hal aneh lagi, menyakiti dirinya sendiri. Tapi, dia juga tidak bisa banyak cerita pada tuan mudanya itu, tentang Jelita dan segalanya.
“Uhm, coba Mas Gabrian tolong panggilkan dia.” Pinta Bibi.
“Hah? Tunggu aja, nanti juga dia nongol sendiri, Bi.”
Bibi mengusap-usap lengannya, dia terlihat sangat cemas.
“Ya sudah, Bibi coba panggilkan dia lagi.” Wanita paruh baya itu masuk ke dalam.
Gabrian memainkan ponselnya selagi menunggu Jelita keluar, dia nampak bak tukang ojek yang menunggu customernya keluar. Padahal, rumah mewah itu adalah rumahnya sendiri.
“Hhh, sampai sekarang Mami masih belum menghubungi aku. Apa dia enggak rindu dengan putera tampannya ini?” Gabrian berdecak sedih memandangi nama Maminya di layar ponsel. Dia sendiri tak bisa lebih dulu menelpon sang Mami, karena sungguh dia tak punya apa-apa untuk dikatakan. Dia bingung. Bahkan dia sendiri masih tak bisa menerima keputusan kedua orang tuanya untuk bercerai.
Gabrian menggaruk kepalanya yang terkena sengatan matahari pagi yang lumayan hangat dan membuat dia gerah, kepala dan badannya jadi gatal karena merasa panas dan berkeringat.
“Buset, udah setengah jam ini kang ojek nunggu si Eneng calon istri Papi. Kemana sih? Belum juga nongol?” cowok yang hari ini pakai kemeja berwarna orange itu melongok memanjangkan leher melihat ke arah pintu utama yang satu daun pintunya terbuka.
Sepuluh menit kemudian, Jelita tetap belum keluar. Gabrian mendesis sebal.
“Ini sih udah keterlaluan! Dia pikir dia siapa, ratu sejagat?” Gabrian turun dari Vespa dan masuk ke dalam.
“Terpaksa gue masuk! Daripada gue kudu nunggu sampe kambing kawin sama jerapah!”
Dia naik ke lantai atas, dimana kamar-kamar utama berada. Dia melihat Bibi memilin jemarinya di depan kamar miliknya.
“Si Bibi ngapain di kamar gue?” selidiknya.
“Bi, ngapain berdiri disitu? Mau gantiin nyonya menir yang sudah berdiri sejak masa lampau?” kelakarnya menggoda si wanita paruh baya itu.
“Anu, Mas Brian. Neng jelita masih belum keluar kamar.”
“Ya ampun!” Gabrian maju mendekati pintu, membuat si Bibi menepi.
Gabrian mengetuk pintunya dengan keras.
“Taaaaa!! Buru udah siang!!!” ujarnya dengan pengeras suara alami yang dia punya di tenggorokannya.
Bibi sampai menutup telinganya dan meringis.
Gabrian benar-benar pusing sekarang, cinta pandangan pertamanya pada Jelita saja sudah membuat dia stress. Dan sekarang, dia harus menjaga gadis itu. terlebih Jelita mulai memperlihatkan keanehan-keanehan di depannya. Dia sungguh tak paham dengan situasi rumit itu.
“Taaa!! Buruan!” seru Gabrian.
“Ceklekk!” suara pintu dibuka.
Gabrian melongok ke dalam saat itu belum terbuka lebar. Tersenyum lebar menampilkan giginya.
“Ayo jalan!” ajaknya.
Jelita masih berbalut piyama tidur. Wajahnya sembab, sejak makan malam bersama bibi dia belum juga terlelap. Hanya menangis hingga pagi datang. Tampangnya agak kacau karena kini dia merasakan pusing dikepalanya.
“Kamu belum mandi??? Buset dah!!!” seru Gabrian kesal.
‘Ni Cewek bener-bener nyusahin gue deh!’ batinnya.
Jelita hanya berdiri mematung di depan Gabrian dan Bibi.
“Udah, jangan berdiri kaya patung manekin gitu! Sekarang mau kuliah atau enggak?” tanya Gabrian masih berusaha sabar.
Jelita menunduk dalam, memperhatikan jari-jari kakinya yang telanjang.
“Udah jadi patung, bisu pula! Mau kamu apa sih?” Gabrian mulai terlihat marah.
“Mas, jangan begitu!” larang Bibi merasa iba pada Jelita.
“Kalau enggak mau kuliah gue tinggal!” tukas Gabrian.
Jelita tetap tak menjawab.
“Fuh..” Gabrian menarik nafas panjang dan melepaskan perlahan.
Dia berbalik badan, dan pergi meninggalkan Jelita begitu saja.
Bibi serba salah, entah dia harus melakukan apa.
“Mas, tunggu Mas!” Bibi mengekori Gabrian sampai ke lantai bawah.
Gabrian benar-benar dibuat kesal oleh Jelita.
“Mas, tolong bantuin Neng Jelita. Kasihan dia.”
Gabrian menahan laju amarahnya, tangannya mengepal di samping tubuhnya.
“Mas, Kasian dia.”
“Kasian apa sih Bi? Bibi lihat enggak, dia itu enggak tahu diri!” tukas Gabrian.
“Jangan begitu, kasian dia.”
“Bibi ini dari tadi, kasian-kasian terus! Enggak kasihan sama Gabrian Bi? Udah hampir sejam lho Gabrian nunggu diluar! Eh, dia malah baru bangun. Kan gila!” omelnya.
“Bukan gitu, Mas.”
“Gabrian kesel lho, Bi. Kok dia jadi semakin enggak tahu diri sih! Sok banget jadi ratu di rumah, dia mungkin calon istri Papi, tapi maaf kalau kaya gini caranya Gabrian kehilangan respect ke dia.” Gabrian ngeloyor pergi setelah membentak-bentak wanita yang sudah lama mengasuhnya itu.
Bibi menghela nafas, bingung. Biasanya Jelita akan membaik tatkala Ferdy Wijaya memberinya nasehat singkat. Tentang betapa dia harus memulai kembali hidupnya, meski dirinya merasa rapuh dan hancur. Tapi, Papi Gabrian itu sekarang tak ada di rumah.
Jelita tak berani menatap Gabrian karena bibirnya kini kembali mengeluarkan darah, dia menangis sambil menggigiti bibirnya, tak sadar hingga bagian tubuh yang lembut itu terluka dan mengeluarkan darah meski tak banyak.
Jelita kembali menutup pintu, dia tak bisa berbuat banyak jika Gabrian mulai merasa risih dengan keberadaan dia di rumah ini.
Gabrian menarik gas vespanya dengan brutal, benda beroda itu melaju seolah tak terkendali. Mendahului beberapa mobil di depannya dengan cara yang berbahaya. Jangan bayangkan vespa lama, karena milik Gabrian adalah Vespa import keluaran terbaru yang mampu melesat bagai angin.
Dia mendatangi sebuah minimarket dengan beberapa kursi di depannya, tempat customer duduk-duduk menikmati kopi atau camilan mereka. Gabrian sudah tidak mood untuk ngampus, rasanya dia ingin makan orang sekarang.
“Masih bagus aku enggak tuduh dia sebagai pelakor! Masih bagus, aku bisa bersikap baik padanya. Entah karena aku suka dia atau karena aku menghargai dia sebagai wanita calon istri Papi, yang artinya dia calon ibu tiri aku. Tapi, tingkahnya sungguh keterlaluan. Bersikap seenaknya begitu. Lucu! Lucu banget Gab! Elo bahkan enggak sadar si Jelita itu kurang ajar sama elo. Jangan-jangan setelah dia nikah sama Papi, dia bakalan coret nama gue sebagai pewaris harta keluarga Wijaya.” Gabrian menggerutu sendiri, menyesap minuman kaleng berperisa dan meremasnya hingga penyok.
Ponselnya berdering nyaring.
“Apaan?” ucapnya kasar.
“Woy, kemana lo? Check in? Pak Badrun nyariin tuh!” suara Galih di sebrang sana.
“Check ini palamu!” gabrian memutus panggilan teleponnya.
Gabrian membuka kemasan rokok, meraih satu batang dan mulai menghisapnya. Berusaha menentramkan suasana hatinya dengan nikotin yang menjadi pelariannya tatkala ada masalah melanda dirinya.
Ponselnya lagi-lagi berdering, Gabrian menjawabnya tanpa memperhatikan si pemanggil.
“Apa sih bangsattt?” tukasnya.
“Apa kamu bilang?” suara Ferdy Wijaya sampai di gendang telinganya.
Gabrian terdiam, dia sungguh enggan bicara pada tua bangka satu itu, bisa-bisa emosinya kembali naik dan membuat dia benar-benar akan makan orang hari ini.
“Gabrian ada kelas!” dia menutupnya sepihak setelah dusta singkatnya.
Pasti Ferdy kesal bukan main, tapi Gabrian lega karena sang Papi tidak kembali men-dial nomornya.
“Lho, Sayang ngapain disini?” suara Rere yang baru saja keluar dari mobil berwarna pink tua.
Gadis cantik bak model itu selalu sesumbar pada warga kampus bahwa Gabrian adalah kekasihnya, merasa sangat cocok bersanding dengan pria paling tampan satu universitas itu, karena merasa dirinya adalah ratu kecantikan di kampus yang sama.
Gabrian mengaduh pelan.
‘Ngapain sih, badak bercula pake kesini segala.’ Gabrian malas bertemu dengan gadis cantik itu.
Rere duduk di samping Gabrian, menopang dagu dan menatap Gabrian tanpa berkedip. Gabrian acuh tak acuh.
“Kamu bolos lagi? Kalau gitu, kita jalan yuk!” ajaknya dengan nada menggoda.
Gabrian membuang abu rokoknya ke bawah. Menggeleng pelan kemudian menghisap rokoknya lagi, asap putihi mengepul ke wajah Rere.
“Uhuk!! Uhuk!!!” Rere terbatuk karena cupi hidungnya kemasukan asap yang dia hirup.
Gabrian nampaknya sengaja melakukannya.
“I’m okey, aku baik-baik aja sayang. Jangan risau! Hehe..” Rere si cantik yang digandrungi banyak pria itu tampak sekali adalah b***k cinta Gabrian Kaisar Wijaya, yang nyatanya tak pernah menerima b***k cantik itu.
“Aku mau beli camilan sambil nunggu Zia sama Siwi, kamu mau apa?” tanyanya seketika beranjak dari tempatnya duduk.
“Enggak deh, Re gue duluan ya!” Gabrian membuang kaleng minuman ke tempat sampah berwarna perak dan bergegas naik ke atas vespanya.
“Lho, masa aku sendirian?” rengek Rere sambil menghampiri Gabrian.
“Itu, ada Mas kasir! Modusin aja dia, gabut kan?” Gabrian memakai helmnya dan pergi dari sana secepat kilat.
“Yahhh, Sayang!!!!” Rere menghentakkan kedua kakinya secara bergantian, dengan tangan di pinggang.
“Brian ihhhh!!’ sungutnya sebal.