Gemercik Air Dari Paruh Bangau

1009 Words

Tiga puluh enam Pagi itu, Jelita menyeret Jamima keluar dengan tas kecil di lengannya. “Ayo, mbak sudah pesan taksi. Kita ke stasiun, kamu harus pulang ke semarang sekarang juga!” tegas Jelita. “Enggak! Lepasin aku! Aku kan bilang mau tinggal di sini! Kan om Ferdy juga sudah ngizinin!” Jamima terus saja menggeliat. “Diem, ayo taksi udah nunggu!” “Enggak!’ Saat itu, Gabrian yang baru tiba untuk menjemput Jelita dan pergi ke kampus melihat kedua gadis itu di depan rumah. Dia buru-buru turun dari motornya dan melerai mereka berdua. “Ta, ada apa?” tanyanya sambil menahan lengan Jelita yang terus saja menarik adiknya. “Aku mau bawa dia pulang!” tekan Jelita. “Ih, aku ndak mau pulang ke semarang! Mas Gabrian, mbak Jelita usir aku nih. Padahal yang punya rumah saja ndak keberatan aku

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD