"Apa maksudnya, Mom?"
Gavriel kembali melontarkan pertanyaan, pasalnya ia bingung. Apalagi Azriya yang hanya menangis memegangi pipinya, sedangkan Mommy-nya masih melayangkan tatapan tajam.
"Mommy sudah lihat video CCTV, Gav! Dia yang sudah mengambilkan salad buah untuk Austin. Dia juga yang berlagak menjadi malaikat penyelamat untuk cucuku! Padahal dia berniat membunuh putramu, Gav. Dia ingin membunuh Austin seperti dia membunuh Kartika!" pekik Lauren dengan suara tertahan.
Azriya menggelengkan kepala.
"Aku memang mengambilkan salad buah, tapi itu Austin yang minta. Aku juga nggak kasih s**u, aku nggak tahu kenapa di piringnya tadi ada s**u," ucapnya dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Alasan!" sentak Lauren.
Wanita paruh baya itu maju satu langkah dan mendekat kepada Azriya. Niatnya ingin menggertak, tetapi Azriya sama sekali tidak gentar.
"Kebenarannya memang seperti itu, Mom. Aku nggak ada niat mencelakai Austin, aku juga tahu dia alergi s**u," ucapnya berusaha membela diri.
"Tahu apa kamu?! Kamu bicara seperti ini biar kami iba 'kan?! Lalu, kamu akan mencelakai kami lagi?!"
Lauren semakin mencondongkan tubuh dan mendekatkan wajahnya kepada Azriya. Namun, wanita cantik itu hanya bisa menggelengkan kepala, ia sudah tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi.
Sakit sekali rasanya dituduh sedemikian kejam. Apa lagi tidak ada yang membelanya. Sedangkan Gavriel hanya menatap dengan pandangan bingung.
Hingga kemudian Dokter keluar dan menyatakan Austin sudah sadar, baru Lauren bisa bernapas lega. Wanita itu langsung menggandeng tangan putranya untuk masuk ke ruang ICU.
"Jangan masuk!" sentaknya sembari menoleh kepada Azriya dengan tatapan menukik tajam.
Wanita cantik itu akhirnya hanya bisa menunduk pasrah dan kembali mendudukkan dirinya di kursi tunggu. Hatinya khawatir, tetapi ia tidak mau suasana menjadi semakin panas karena kehadirannya.
•
Cukup lama Azriya duduk termenung dan hanya bisa melafalkan doa untuk Austin dari luar, tiba-tiba ia merasa seperti ada yang menyentuh bahunya. Azriya sontak terlonjak kaget dan menoleh, ternyata Gavriel tengah berdiri di belakangnya.
"Austin mencari kamu, Riya," ucapnya dengan suara lirih.
"Benarkah?" tanyanya dengan tatapan berbinar.
Gavriel mengangguk, sehingga Azriya lantas bangkit dan berjalan memasuki ruang ICU. Di sana masih ada Lauren yang duduk di samping ranjang Austin, tatapannya masih tajam menghunus ke dalam manik mata Azriya
Namun, wanita cantik itu enggan peduli. Ia langsung menggenggam tangan mungil Austin dan mengecupnya singkat.
"Aunty ...," ucapnya dengan suara lemah.
"Iya, Sayang," jawab Azriya dengan setengah berbisik.
"Maaf, ya. Aku kembali buat Aunty khawatir. Aku tadi pengen sama saus s**u, Aunty, waktu lihat Kakak Aurell makan salad buah pakai saus s**u. Apalagi katanya rasanya enak, tapi aku lupa kalau aku alergi s**u," jelasnya dengan suara yang sangat lemah.
Gavriel lantas mendekat kepada putranya.
"Lalu siapa yang ambilkan saus susunya, Sayang?"
"Aku sendiri, Dad. Aku yang mau ... ma-maaf."
Deg!
Gavriel langsung melemparkan tatapan tajam kepada sang Mommy, Lauren. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tetapi tiba-tiba pria itu lantas meminta Lauren untuk pulang bersama bodyguard.
"Mommy mau nungguin Austin, Gav!" sentak Lauren, saat Gavriel menggandeng tangannya keluar ruang ICU.
"Ini sudah malam, dan nggak baik bagi Mommy untuk di luar kayak gini. Mommy juga akan kehilangan kualitas tidur, aku nggak mau Mommy kecapekan. Di dalam sudah ada Azriya, dia bisa jagain Austin."
Lauren menautkan kedua alisnya penuh tanda tanya.
"Kamu mulai percaya sama wanita itu?" tanyanya dengan nada datar.
Gavriel hanya menghela napas lirih. Pria tampan itu tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Lauren, ia malah meminta bodyguard untuk mengantar sang Mommy pulang.
Meskipun Lauren menolak, tetapi Gavriel tetap membiarkan. Baru setelahnya pria itu kembali masuk ke ruangan. Sudut bibirnya tanpa sadar melengkung menyunggingkan senyuman tipis saat menyaksikan putranya tertawa ketika berinteraksi dengan Azriya.
"Grandma ke mana, Dad?" tanya Austin.
"Grandma sudah pulang, Sayang. Kamu gimana rasanya? Masih ada yang sakit?"
"Nggak, Dad. Tadi di mansion memang sakit, tapi aku tahu itu kesalahanku."
Gavriel mengangguk. Ia lantas mengalihkan pandangannya kepada Azriya yang masih menunduk, tetapi pria itu hanya bisa mendengus pelan.
"Tidur, ya, Nak. Semoga kondisi kamu sudah membaik, jadi besok sudah boleh pulang," ucap Gavriel seraya kembali menatap Austin.
Pria tampan itu melabuhkan kecupan sayangnya pada kening Austin, tidak lupa ia membenarkan letak selimut putranya. Baru kemudian setelah memastikan Austin terlelap, Gavriel memberikan kode kepada Azriya untuk mengikutinya duduk di sofa.
"Maafkan Mommy, ya. Dia sangat over protektif sama Austin sejak dulu, apa lagi anak itu memang ceroboh. Nggak kayak Adolf yang lebih paham soal hal di sekitarnya," ucap Gavriel.
"Nggak papa," jawab Azriya, singkat.
Gavriel menoleh kepada Azriya yang memang duduk di sampingnya.
"Pipi kamu masih sakit?"
"Nggak. Ini sudah nggak sakit, kok."
Gavriel semakin memiringkan kepala hingga kemudian keningnya mengerut, "itu sudut bibir kamu sampai berdarah, masa nggak sakit? Pasti Mommy kenceng banget nampar kamu tadi. Maaf, ya, aku tadi nggak sadar," ucapnya.
Gavriel lantas bangkit dan mengambil kotak obat. Sementara Azriya hanya melihatnya saja, wanita cantik itu juga penasaran apa yang akan dilakukan Gavriel.
"Biar aku obatin, ya. Meskipun kamu bisa obati sendiri, tapi tolong kali ini jangan membantah. Aku berharap ini bisa sebagai tanda permintaan maafku, walaupun nggak sebanding sama tamparan Mommy tadi," ujarnya panjang lebar.
Gavriel mulai meneteskan obat merah pada kapas, selanjutnya ia dengan perlahan mengaplikasikan obat tersebut ke luka Azriya.
"Aww!" Azriya memekik saat merasakan perih pada lukanya.
Padahal dirinya juga baru tahu kalau sudut bibirnya berdarah. Ia juga bingung kenapa Gavriel begitu mudah berbalik perhatian kepadanya. Isi kepalanya terus bertanya-tanya atas sikap pria di depannya ini.
Apa memang karena perasaan bersalah?
Ataukah ada perasaan lain di dalam hatinya?
"Makasih, Gav," ucap Azriya saat Gavriel baru saja selesai mengobati lukanya.
"Sama-sama. Aku juga berterimakasih karena kamu tadi sudah memberikan pertolongan pertama untuk Austin. Aku padahal sudah takut banget tadi, nggak tahu gimana kalau nggak ada kamu," jawabnya dengan kepala menunduk menatap pada kotak obat di pangkuannya tersebut.
"Aku kebetulan tahu obat dan cara penanganan untuk keracunan."
Gavriel mangut-mangut.
"Andai dulu kamu ada waktu Kartika keracunan, mungkin kamu bisa bantu, dan Kartika nggak akan telat dapat pertolongan. Kejadiaannya sama persis dengan apa yang Austin alami tadi."
Azriya mengerutkan kening.
'Dia benar-benar nggak tahu istrinya sengaja di bunuh?' batin Azriya.
"Ya sudah, setelah ini kamu tidur saja."
Gavriel langsung beranjak menuju dekat ranjang putranya setelah mengatakan hal demikian. Menyisakan Azriya dengan banyak kebimbangan dalam kepalanya.
'Apa aku kasih tahu saja, ya, biar Gavriel tahu? Mumpung dia jinak dan mau bicara panjang lebar,' batinnya lagi.