Pagi ini Austin sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter, jelas saja Gavriel dan Azriya langsung menggumamkan rasa syukurnya pada kuasa Tuhan. Mereka sampai di mansion Erlando sekitar pukul sembilan pagi.
Adolf yang melihat Kakaknya baru saja turun dari mobil langsung berlari menghampiri dan memeluk tubuh bocah kecil itu. Samua orang yang melihatnya tak ayal tersenyum.
"Aku khawatir banget sama kamu, Austin. Masih ada yang sakit nggak?"
"Nggak, Adolf. Aku cuma ngerasa ngantuk sekarang."
"Ngantuk?" tanya Adolf dengan kening mengerut.
"Efek obat, Nak. Sebaiknya kalian berdua istirahat saja di kamar, ya," sahut Gavriel.
Kedua bocah laki-laki itu kompak mengangguk dan lantas menuju kamar mereka. Beruntung hari ini sekolah libur, jadi Austin tidak akan kesepian karena ada Adolf dan Aurell yang menemani.
"Gav, Austin sudah benar-benar sembuh?" tanya Lauren saat memastikan kedua cucunya sudah masuk.
"Syukurlah, racunnya belum menyebar. Dan untungnya saat itu ada Azriya yang memberikan pertolongan pertama untuk Austin, Mom."
Lauren memutar bola matanya dengan malas mendengar nama Azriya disebut, sedangkan sang pemilik nama juga tak kalah terkejut saat Gavriel memberikan pembelaan pertama untuknya.
"Ya sudah, Mom. Kami lelah. Kami mau istirahat dulu," ucap Gavriel seraya mengalihkan pandangannya kepada Azriya.
Pria tampan itu memberikan kode untuk Azriya segara masuk ke dalam kamar. Tentu saja wanita cantik itu langsung menuruti, karena ia pun malas lama-lama berinteraksi dengan Lauren.
Tanpa siapapun yang mengetahui, bahwa sesungguhnya Gavriel sengaja meminta Azriya pergi agar istrinya itu terbebas dari cecaran Mommy-nya. Mana mungkin ia tega melihat Azriya terus dimarahi? Sedangkan istrinya itu juga pasti kelelahan karena menunggu Austin.
Tunggu! Apa tadi? Gavriel menyebut Azriya sebagai istri?
'Ah, ini hanya sebagai balas budi. Nggak lebih!' batinnya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
***
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Semua makanan sudah tersaji rapi di meja makan, begitu juga dengan semua anggota keluarga yang sudah berkumpul. Kecuali Austin tentunya, bocah laki-laki itu masih tidur, dan mungkin nanti Azriya akan membawakan makanan ke kamarnya.
"Setelah ini aku akan pulang ke mansionku sendiri, Mom," celetuk Silvana setelah menghabiskan makanan di piringnya.
"Kenapa buru-buru?"
"Aurell besok sudah sekolah, Mom."
Azriya lantas mengalihkan pandangannya kepada gadis cilik itu. Ia baru teringat kalau sama sekali belum menyapanya.
"Baiklah kalau begitu, Van. Apa akan berangkat setelah ini?" tanya Lauren, kembali memastikan.
"Iya, Mom," jawab Silvana, singkat.
Semua anggota keluarga mengantarkan Silvana sampai ke teras. Wanita cantik itu berpamitan dengan semua orang, tidak terkecuali Azriya. Bahkan Silvana memeluk erat tubuh adik iparnya tersebut.
"Tolong hati-hati di rumah ini, Sayang. Jangan mudah percaya dengan apa yang kamu lihat. Tetaplah waspada! Kakak tahu apa tujuanmu menyanggupi menjadi istrinya Gavriel," ucap Silvana dengan berbisik tepat di telinga Azriya.
Sontak saja Azriya hanya bisa diam terpaku, bahkan ia sulit untuk sekadar mengangguk. Sampai mobil sport milik Silvana sudah menghilang dari halaman luas tersebut, Azriya masih tidak beranjak.
"Kamu kenapa?" tanya Gavriel.
"Eum, nggak papa. A-Aku ... aku cuma capek."
Gavriel mendengus lirih.
"Istirahat saja kalau capek. Austin nanti biar diurusin sama maid."
"Nggak, aku bisa kok urusin Austin," jawabnya.
Gavriel menaikkan sebelah alis dengan masih mempertahankan tatapan mengintimidasinya.
"Yakin?" tanyanya.
"Yakin, kok." Azriya langsung masuk ke dalam mansion meninggalkan Gavriel yang masih memandangnya dengan bingung.
Gavriel semakin menautkan alisnya seolah bertambah bingung, "dasar aneh," gumamnya.
•
Sedangkan kini wanita dengan rambut panjang kemerahan itu sudah berdiri di dapur. Tatapan matanya masih menerawang jauh ke depan, bahkan sudah hampir lima menit ia termenung memikirkan ucapan Silvana tadi.
"Kak Silvana baik sama aku. Tapi apa artinya jangan mudah percaya dengan yang aku lihat? Siapa yang dia maksud? Apa mungkin Mommy?" gumamnya dengan kening mengerut.
Berkali-kali dirinya menghela napas kasar. Rasanya hal ini sangat menguras otaknya.
"Atau jangan-jangan Gavriel?!" gumamnya lagi.
"Kamu ngapain berdiri di situ?"
Deg!
Azriya sontak terhenyak kaget dan lantas menoleh kala mendengar suara bariton di belakangnya.
'Dia tadi denger nggak, ya?' batinnya takut-takut.
"Kamu ngapain, Riya?" tanya Gavriel yang masih berdiri di ambang pintu dapur.
"Nggak ngapa-ngapain. Ini tadi masih nata makanan buat Austin, ini juga sudah selesai, kok." Azriya langsung mengangkat piring dan melangkahkan kakinya meninggalkan dapur.
Ia tidak peduli dengan apa yang dipikirkan Gavriel. Baginya itu juga tidak penting. Hingga saat tiba di depan pintu kamar Austin, Azriya lebih dulu mengubah raut wajahnya. Baru kemudian tangannya mengulur guna membuka pintu.
Ceklek!
Senyuman manisnya kian melebar saat mendapati Austin sudah duduk di atas ranjang.
"Sudah bangun, Sayang?"
"Iya, Aunty. Aku tadi mau pipis, makanya kebangun," ucapnya dengan senyuman lucu.
"Oh, begitu. Ayo Aunty antar ke kamar mandi." Azriya mengulurkan tangannya dan Austin lantas menyambut uluran tangan tersebut.
Dengan telaten Azriya membantu Austin bersih-bersih selepas anak itu menuntaskan hajat, lantas ia menggandeng bocah kecil tersebut kembali ke tempat tidur.
"Nak, Aunty boleh tanya sesuatu?" tanyanya sembari menyuapkan makanan kepada Austin.
Austin hanya mengangguk.
"Aunty boleh tahu nggak, gimana ceritanya kamu bisa makan saus s**u itu?" tanyanya lagi dengan pandangan serius.
Anak laki-laki itu nampak berpikir sebentar, "Kakak Aurell nyuruh aku coba, Aunty. Awalnya aku nggak mau, karena aku tahu kalau alergi. Tapi ... karena Kakak Aurell memaksa, jadi aku mau coba. Dan aku ambil sendiri saus susunya di meja makan di anterin Kakak. Ta-Tapi ... tapi baru tiga suap aku makan, rasanya tenggorokanku langsung panas, dan nggak bisa bernapas," jelasnya dengan pandangan berkaca-kaca.
Azriya lantas menangkup pipi gembul tersebut dan mendekatkan wajahnya kepada Austin.
"Nggak papa, Sayang. Aunty suka kamu jujur, kamu hebat karena sudah berani bilang."
"Aku janji nggak akan mengulanginya lagi, Aunty. Meskipun nanti Kakak Aurell maksa, dan mengancam nggak mau main sama aku. Aku tetap nggak mau mengulangi, karena rasanya sakit sekali, Aunty," ucapnya lagi dengan suara yang sangat lirih.
"Kakak Aurell sering maksa kamu, Nak?"
Austin mengangguk pertanda ia mengiyakan. Bibir mungil itu bergetar menahan tangis, entah karena menyesal atau ketakutan. Yang jelas Azriya langsung membawa bocah itu masuk ke dalam pelukannya.
"Sudah. Kamu tenang, ya. Kamu jangan takutkan apapun, ada Aunty di sini yang akan menjaga kamu," ujar Azriya.
"Aunty janji, ya, jangan bilang ini sama Daddy dan Grandma. Aku nggak mau Kakak Aurell dimarahi."
"Aunty nggak akan bilang sama siapa-siapa, Nak," jawab Azriya,. seraya menyugar pelukannya.
Wanita cantik itu melabuhkan banyak kecupan pada wajah lucu tersebut. Setelah memberikan obat kepada Austin, dirinya lantas menyelimuti tubuh kecil tersebut , dan membiarkan Austin kembali beristirahat.
Azriya menatap dalam wajah polos yang sudah terlelap tersebut. Ada secuil perasaan yang mengganjal di hatinya. Namun, ia bingung itu apa?