Sesuai dengan perintah ayahnya, Clarita pulang ke rumah setelah mengambil beberapa barangnya yang tertinggal di hotel. Hari ini ia tengah membantu Anne yang tengah membuat cup cake.
“Untuk apa kita membuat cup cake, bu?” tanya Clarita.
“Apa pedulimu?” balas Anne sinis.
Clarita menghela napasnya pelan. Mengeratkan pegangannya pada mangkuk berisi adonan krim untuk cup cake. Saat ia pulang tadi, Anne tidak menyambutnya dengan ramah bahkan terkesan acuh. Tentu saja hal itu membuat Clarita kelimpungan sendiri. Terlebih ia tidak menemukan kedua adiknya dan harus terjebak bersama ibunya dalam keadaan canggung.
“Ibu,” panggil Clarita dengan lembut. Anne tidak bergeming, dan masih berusaha sibuk dengan adonan kue. “Sudah aku katakan jika aku akan segera menyelesaikannya.”
“Sudah berapa banyak janji yang kau umbar?” Anne tetap tidak bersahabat dengan Clarita. Ia masih kesal dengan sikap Clarita yang dengan mudahnya akan mengatasi masalah ini, seolah lupa jika ia menyandang nama Harington. Anne memasukkan adonan cup cake-nya pada cetakan dengan asal. Hal itu tidak luput dari penglihatan Clarita yang meringis mengetahui seberapa kesal ibunya.
“Maaf kan aku,” cicit Clarita sambil mengaduk krim dengan lemas. Selama ini ia belum pernah berhadapan dengan sosok Anne yang semarah ini.
Anne menghela napasnya. Memasukkan adonan ke dalam oven. Anne menghampiri Clarita dan memeluk putri sulungnya. “Ibu sangat khawatir Clarita.”
Clarita mengusap air mata yang entah kapan turun ke pipinya. Ia menyimpan mangkuk berisi krim ke atas meja dan menghadap tubuhnya pada Anne. Mereka berpelukkan erat. “Maafkan aku ibu.” Tangis Clarita semakin menjadi di dalam pelukan Anne.
Anne menepuk pundak Clarita dengan lembut. “Kau harus mengenalkan Stevano itu pada ibu!”
Clarita melerai pelukkannya dan menatap Anne dengan ragu. “Ibu ...” panggil Clarita sambil memilin ujung bajunya.
“Ada apa?” tanya Anne sambil menyelipkan anak rambut Clarita ke belakang telinga.
“Ibu masih ingat ceritaku ... tentang anak laki-laki tengil itu?” Clarita melirik Anne yang kini tengan mengerutkkan keningnya. Ia mencoba mengingat cerita yang Clarita maksud.
“Waktu aku masih SMP,” tambah Clarita saat Anne tak kunjung memberikan respon selain raut kebingungan.
Anne menepuk lengan Clarita cukup keras. Clarita mengaduh pelan dan mengusap lengannya yang ditepuk oleh Anne. Baru saja tadi ia berdamai dengan ibunya hingga saling berpelukan.
“Ibu apa-apaan sih ...” gerutu Clarita dan memilih menjauh dari Anne dan kembali fokus pada adonan krim buatannya.
“Bocah tengil dekil itu?” tanya Anne yang akhirnya mengingat cerita Clarita. Ia juga ingat pernah bertemu anak itu saat mengambil hasil belajar Clarita saat SMP.
Saat itu ia tengah mencari anaknya yang meninggalkannya. Sambil menggerutu kesal, Anne berjalan menyusuri koridor dan bertanya pada beberapa orang. Ia mencari hingga kakinya terasa pegal dan memeutuskan untuk menghubungi satpam sekolah.
Namun dalam perjalanan menuju pos satpam, ujung matanya tak sengaja menangkap bayangan yang tengah dicarinya. Dan mendapati putrinya tengah berdiri bodoh di parkiran sambil menatap ke arah anak laki-laki yang tengah bercanda dengan teman-temannya. Dan baru pertama kali lihat, ia ingat jika anak itulah yang disukai putri sulungnya.
Clarita mengerjapkan matanya. Ia kagum pada ingatan Anne yang sangat kuat. “Aku pikir ibu sudah lupa.”
Anne mengangkat dagunya dan menatap Clarita dengan bangga, bangga terhadap dirinya sendiri. “Jangan ragukan Anne August.” Clarita memutar matanya, malas.
“Kenapa kau bertanya soal bocah itu?”
“Sekarang ia sudah berumur tiga puluh dua tahun,” keluh Clarita mendengar kata bocah dari ibunya.
“Dia masih bocah bagiku,” balas Anne sambil mengeluarkan cup cake dari dalam oven.
“Bocah itu bernama Stevano.” Anne menghentikan kegiatannya begitu mendengar nama Stevano.
“Kau masih menyukai bocah tengil itu?” tanya Anne sinis. Tentu saja ia tidak ingin Clarita bersama bocah tengil dan dekil yang akan memalukannya di hadapan banyak orang. Membayangkan tubuh kurus dan tidak terurusnya saja sudah membuat Anne bergidik ngeri.
"Ibu, dia sudah berubah ..."
"Saat pertama kali kau mengucapkannya di depan media, kau tidak tahu Stevano mana yang kau maksud. Sekarang ... ckckck." Anne menggelengkan kepalanya heran dengan Clarita. "Dan ibu bingung kenapa kau bisa jatuh cinta pada bocah itu."
Clarita menarik napasnya dalam. Dalam hati ia yakin jika ibunya ini akan terpukau dengan bocah tengil dan dekil itu.
Anne menyusun beberapa cup cake di atas meja. Dan saat utu ia melihat Michael yang tengah mengendap-ngendap turun dari tangga dengan menjinjing sepatunya.
"Kau akan pergi kemana?" tanya Anne yang langsung menghentikan langkah Michael menuruni tangga.
Perlahan Michael menatap Anne yang tengah menatapnya penuh selidik. Michael membenarkan posisinya yang lebih mirip seperti maling.
"Aku ..." Michael menatap sekitarnya. Ia mencari alasan yang tepat untuk bisa pergi dari rumah dan menghindari makan malam ini.
"Aku ingin meletakkan sepatu," ujar Michael begitu menyadari sepatu di tangannya.
"Dengan mengendap-ngendap?" tanya Anne sambil menyipitkan matanya. "Kau bahkan tidak pernah meletakkan sepatu selain di kamarmu."
Michael menelan ludahnya. Lagi, Anne menunjukkan kekuatan ingatannya yang luar biasa. Michael menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Diliriknya sepatu itu dan mencoba memikirkan alasan lain.
"Sepatu ini sudah kotor." Michael melirik Anne, memastikan jika alibinya cukup kuat untuk meyakinkan Anne.
Anne menganggukkan kepalanya dan hal itu membuat Michael menghela napas. "Simpan saja di dekat mesin cuci dan bantu ibu menghias cup cake."
"Dia?!" Clarita menunjuk Michael yang terkejut dengan perintah aneh ibunya. "Menghias kue?! Yang benar saja," ujar Clarita dengan histeris sekaligus sinis.
"Bu, lebih baik kak Clarita saja. Ibu tahu aku tidak pernah menyentuh peralatan dapur, selain sendok, garpu, piring, dan gelas," ujar Michael sambil berjalan menuju mesin cuci yang berada di ruangan belakang dapur.
"Lakukan saja!" Perintah Anne mutlak. Clarita dan Michael menghela napas mereka. Sungguh anak yang berbakti.
**
Semua anggota keluarga sudah berada di meja makan. Namun suasana hening menyelimuti mereka.
"Ayah tidak mengajarimu untuk melakukan hal memalukan seperti itu," ujar Robert menatap putranya dengan tajam. Sedari siang tadi ia sudah menahan diri untuk tidak datang menghampiri Michael dan meluapkan amarahnya.
Setelah jam makan siang, Robert mendapat telepon dari Albert yang merupakan ayah dari Tessa. Ia tidak terima dengan perilaku Michael yang meninggalkan putrinya sendirian di dalam restoran dengan tagihan makanan milik Michael yang bahkan belum disajikan saat itu.
Sedangkan Michael memilih menyandarkan tubuhnya dengan rileks pada kursi. Ia sudah menebak hal ini akan terjadi. Tapi ia tidak akan takluk pada ayahnya dan langsung meminta maaf. "Ayah yang memulai lebih dahulu. Menatakan jika aku yang mengajaknya makan siang bersama dan mengatakan jika aku pemalu."
Robert mengeratkan pegangan pada sendok yang berada di tanagnnya. "Iya aku salah, seharusnya aku mengatakan jika kau memalukan!"
Michael menegakkan tubuhnya dan balas menatap Robert. Ia tidak bermaksud menantang ayahnya, hanya saja Michael merasa jika ayahnya sudah terlalu mengatur dirinya. "Maka hentikan niatmu untuk menjodohkanku dengan anak gadis rekan bisnismu, agar kau tidak malu lagi!"
Setelah mengucapkan itu Michael beranjak dari duduknya dan lansung menggang pergi dari sana. Tidak ada yang menghentikannya tanpa ijin sang kepala keluarga.
Robert mencoba merendam amarahnya setelah Muchael pergi. Ia tahu jika, ia sudah bertidak terlalu jauh. Tapi selama ini tidak ada yang bisa diharapkan.
Perlahan Anne mengulurkan tangannya dan mengusap tanagn Robert yang mengepal. Menyalurkan rasa tenang dan begitu pandangan mereka bertemu, Anne memberikan ucapan penuh pengertian untuk Robert. Ia paham suaminya ingin yang terbaik untuk anak-anak mereka.