Pertengkaran

1018 Words
Setelah pertengkaran dengan sang ayah, Michael memilih pergi dari rumahnya. Ia mengendarai mobilnya tanpa arah. Ia tahu jika perbuatannya kurang ajar, tapi ia sudah muak menghadapi banyak wanita hanya untuk menjodohkannya. Micahel tahu jika ia belum pernah membawa wanita ke rumah dan mengenalkannya kepada kedua orang tuanya. Selama ini ia disibukkan dengan ambisinya dalam hal pekerjaan. Michael menyurgar rambutnya dan mengusap wajah. Kondisinya sekarang benar-benar kacau. Rasa bersalah dan egonya saling bersaing untuk mendominasi dirinya. Michael memilih menepikan mobilnya daripada harus mengambil resiko karena konsentrasinya yang terbagi. Begitu berhasil menepi, Michael memilih berdiam diri di dalam mobil. Membenahi dirinya terlebih dahulu. Akan tetapi suara perut yang bergemuruh menyurutkan niatnya. Michael melirik jam tangan miliknya dan menunjukkan dia sudah berkendara lebih dari satu jam. Michael melirik sekitarnya, berharap menemukan tempat makan terdekat karena ia sudah merasakan jika cacing-cacing di perutnya terus demo meminta makan, hingga membuat Michael sedikit menekan perutnya untuk mengurangi rasa lapar. Michael menyipitkan matanya begitu menemukan sebuah plang rumah makan yang tidak jauh dari tempatnya. Dengan segera Michael mengarahkan mobilnya ke arah rumah makan tersebut. Ia juga terus berdoa semoga, tempat tersebut masih buka. ** Sementara di rumah keluarga Harington. Clarita tengah duduk tegang di ruang keluarga. Berbeda dengan Clarita, Jessica justru tengah menatap penuh kagum pada sosok pria di hadapannya. Setelah Michael memilih pergi setelah bertengkar dengan Robert yang membuat suasana sempat menegang untuk beberapa saat, semua orang dibuat terkejut dengan kedatangan seseorang. tapi hal itu justru membuat Robert menunjukkan senyumannya. Ia bahkan sampai bangkit dari duduknya dan menyambut orang tersebut. Setelah makan malam bersama, mereka langsung digiring Robert untuk ke ruang keluarga. Clarita yang menyadari situasi memilih menghindar dengan beralasan jika tubuhnya kurang sehat dan ingin beristirahat. Tetapi hal itu tidak membuat Robert mengijinkannya, ia tahu jika Clarita akan menghindar. “Kau tahu berita tentang kau dan putriku?” tanya Robert pada tamunya. Kemudian ia melirik Clarita yang sudah duduk tidak nyaman. Stevano menganggukkan kepalanya mantap. “Saya tahu.” “Jangan terlalu formal. Kita tidak berada dalam lingkup pekerjaan,” ujar Robert saat mendengar jawaban formal dari rekan bisnisnya ini. “Lalu apa tindakanmu selanjutnya?” Stevano melirik Clarita yang (dipaksa) duduk di sampingnya. “Tidak ada,” jawab Stevano dengan tenang. Robert menatap Stevano dengan kening yang berkerut, bingung dengan perkataan Stevano. “Apa maksudmu dengan ‘Tidak ada’?” “Bukankah kau sudah menikah?” tanya Anne yang sama kebingungan dengan jawaban Stevano. Stevano menarik napasnya dalam. Ia melirik Clarita yang juga tengah meliriknya. Ia tersenyum pada Clarita sebelum menjawab kebingungan keluarga Clarita. ** Michael memakan makanannya dengan rakus. Ia lupa jika sedari siang ia belum makan dan tadi ia melewatkan makan malam. Di hadapannya terdapat beberapa piring kosong yang isinya sudah tandas dan berada di dalam perutnya. Sang pemilik rumah makan menatap kagum pada Michael yang dengan lahap memakan makannanya. Ia bahkan harus beberapa kali bolak balik membawa nasi, minum, atau lauk untuk menuntaskan rasa lapar pelanggannya tersebut. “Bu,” panggil Michael dengan mulut yang masih mengunyah. Pemilik rumah makan segera menghampiri pelanggannya tersebut. “Mau tambah lagi?” tanya pemilik rumah makan. Michael meringis saat mendengar pertanyaan pemilik rumah makan, ia bahkan lupa sudah berapa kali tambah. “Enggak, bu. Saya cuman mau tahu semuanya berapa.” Pemilik rumah makan membulatkan mulutnya dan menagngguk kecil. “Tunggu sebentar ya, ibu mau ngambil kalkulator dulu.” “Sebanyak itu ya? Sampe harus pake kalkulator,” batin Michael. Ibu pemilik rumah makan kembali dan mulai menanyakan menu apa yang dimakan Michael dan berapa banyak yang ia makan. Saat menyebutkan pesananya, Michael benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan makan sebanyak itu. “Semuanya ...” ucapan pemilik rumah makan terpotong dengan suara benturan cukup keras yang disusul suara sirine mobil. Michael yang juga mendengar suara itu langsung berdiri dan menatap ke arah luar dimana ia memarkirkan mobilnya. Nampak, lampu mobilnya berkedip dan mengeluarkan sirine. Di samping belakang mobilnya ada sebuah motor matic yang terjatuh bersama pengendaranya. Michael beranjak dari tempatnya dan memilih mendekati mobilnya dengan raut wajah tidak bersahabat. Apakah hari ini ia tengah sial? Hingga masalah tak lelah datang kepadanya. Di belakang Michael, pemilik rumah makan tengah menegang dengan muka pucatnya. “Apa lampu motormu tidak berfungsi hingga menabrak mobilku?” tanya Michael sinis sambil menatap tajam pengendara yang baru saja menabrak mobilnya itu. Pengendara tersebut dengan susah payah bangun dengan kaki yang tertimpa motornya yang jatuh. Ia menghiraukan ucapan Michael dan sibuk dengan motornya yang pastinya akan tergores payah di satu bagiannya. Michael masih berdiri sambil menatap tajam pada pengendara tersebut. Menatap setiap gerak-gerik sang pengendara dan bersiap memarahi pengendara tersebut karena mengabaikannya sebelum pengendara tersebut melepas helm yang digunakannya dan menjawab ucapannya sebelumnya. “Saya mohon maaf pak, jalanan di depan sana licin sehingga saya kehilangan kendali motor saya,” jawab pengendara tersebut. Telinga Michael cukup terganggu dengan panggilan ‘pak’ dari wanita dihadapannya ini. “Aduh pak maaf ya,” ujar pemilik rumah makan. Ia menundukkan kepalanya beberapa kali. Ia beralih menatap pengendara yang tak lain adalah anaknya sendiri. Ia menepuk lengan anaknya dan berujar, “Udah dibilangin kalo bawa motor malem-malem tuh hati-hati.” “Maaf ya pak.” Michael kembali mengernyit tak suka dengan panggil ‘pak’ tersebut. Apakah ia terlihat tua sehingga dipanggil ‘pak’. “Begini saja, bapak tidak perlu membayar pesanan bapak sebagai ganti rugi,” usul pemilik rumah makan. Michael mengangkat sebelah halisnya dan melirik ke arah bagian mobilnya yang terdapat beberapa goresan dan sedikit penyok. “Berapa total pesanan saya?” Ibu pemilik rumah makan ngangkat kalkulator miliknya. “Tiga ratus lima ribu, pak,” ujar ibu tersebut dengan wajah tidak enaknya. Ia tahu jika uang tersebut tidak akan cukup untuk memperbaiki mobil yang dilihat sekilas saja orang-orang pasti tahu jika itu mobil mahal. “Saya akan menyicil untuk membayarnya,” ucap pengendara motor tersebut. “Siapa namamu?” “Marshanda, pak.” ** “Saya sebelumnya sudah kenal Clarita. Kami saat itu berada di SMP yang sama dan Clarita adalah adik kelas saya. Ia cukup terkenal dengan nama belakang Harington. Saya juga cukup terkejut saat banyak berita yang mengaitkan saya dan Clarita akhir-akhir ini. Saya tidak terlalu terganggu dengan berita tersebut, selama tidak ada berita miring tentang saya.” “Lalu bagaimana dengan berita bahwa kalian berada di hotel yang sama?” tanya Anne. Stevano menyunggingkan senyumnya. “Asisten saya sudah menangani hal itu dan membantu saya mengklarifikasinya.” “Bagaimana dengan anak dan istrimu?” “Saya sudah resmi bercerai dengan istri saya dua tahun lalu dan anak saya belum mengetahui hal ini,” jawab Stevano dengan santai. Namun lain hal dengan Clarita. Ia meremas kedua tangannya dan merasakan kecemasan yang luar biasa. Ia merasa jika Stevano seperti memberinya harapan dengan membiarkan berita itu menyebar tanpa memberikan ketegasan bahwa ia dan Clarita tidak memiliki hubungan apa-apa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD