Penolakan Perjodohan

1003 Words
Jessica kini sedang berkumpul bersama dengan teman kuliahnya. Namun acara tersebut justru diselimuti keheningan, begitu juga dengan Jessica. Yang menjadi penyebab keheningan tersebut adalah seorang pria yang kini tengah berlutut di hadapan Jessica dan menyodorkan sebuket bunga. Ia baru saja menyatakan perasaan sukanya pada Jessica dengan suara yang lantang dan menyedot perhatian banyak orang. Tak kunjung mendapat jawaban, pria tersebut kembali mengulangi pernyataanya dan hal itu mengundang bisik-bisik orang yang lainnya. Merasa risih dengan bisikan dan tatapan yang dilayangkan padanya, Jessica memilih menarik pria tersebut untuk kembali berdiri dan menariknya menjauhi kerumunan. “Maaf kak, aku gak bisa,” tolak Jessica setelah dirasa suasana cukup aman. Ia tidak mungkin bertidak bodoh dengan menolak pria tersebut di hadapan banyak orang dan mempermalukan pria tersebut. Jessica tidak ingin mendapat masalah dan membuat pria tersebut dendam padanya. Jessica memang tidak ada rasa sedikit pun kepadanya Pria bernama Keano yang merupakan senior Jessica saat kuliah tertunduk lesu. Pasalnya sudah cukup lama ia menyukai Jessica dan belum berani menyatakan perasaanya. Saat ia sudah memiliki keberanian dan kesempatan, maka ia tidak menyia-nyiakan hal tersebut. Keano bahkan sengaja menyatakan perasaanya di depan umum agar Jssica tidak menolaknya, ia tahu jika Jessica merupakan orang yang mudah merasa bersalah. “Tidak bisa dipertimbangkan lagi?” tanya Keano dengan muka memelas. Jessica meyunggingkan senyuman kecil dan menggelengkan kepalanya. Menarik napas lesu, Keano kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Jessica. Ia menyodorkan buket bunga ditangannya, “Ambil ya?” Dengan ragu Jessica mengambil buket bunga tersebut. “Makasih.” “Kalo kamu berubah pikiran segera kasih tahu aku. Kamu masih simpan nomorku, kan?” Jessica meringis pelan karena seingatnya tidak ada nama kontak ‘Keano’ di ponselnya. Tapi tak ayal hal tersebut membuat Jessica menganggukkan kepalanya, lagi pula ia tidak akan menguah keputusannya. Keano menepuk pelan kepala Jessica. “Yuk, balik lagi ke sana nanti mereka malah bilang yang enggak-enggak.” “Aku mau langsung pulang aja kak,” ujar Jessica yang sedang mencoba menghindar. Ia tidak mungkin tahan dengan pandangan-pandangan orang setelah ini. Kejadian semacam ini memang bukan baru saja terjadi. Jessica bahkan tidak tahu sudah ada berapa banyak pria yang ia tolak dan pandangan orang terhadapnya. Sehingga Jessica memilih menghindar. “Yaudah aku antar.” Keano menarik tangan Jessica menuju parkiran, namun ditahan oleh Jessica. Jessica menggelengkan kepalanya, “Gak usah kak. Aku minta jemput aja. Kakak balik aja ke sana nanti orang pada curiga.” Keano menghela napasnya. Beginilah Jessica, jika sudah menolak sulit untuk dibujuk. “Hati-hati di jalan ya.” Jessica menganggukkan kepalanya dan segera pamit pergi dari hadapan Keano. Ia menghela napas lega, akhirnya ia terbebas dari rasa bersalahnya. Mungkin nanti teman-temanya akan menerornya dengan menanyakan apa yang terjadi, tapi dia akan mengabaikannya. ** Anne membantu Robert untuk menghabiskan makan siangnya. Dari semalam Robert tidak bisa tertidur nyenyak dan terus mengubah-ubah posisi tidurnya yang membuat Anne terusik. Dan saat Anne mengulurkan tangannya untuk menghapus keringat yang membanjiri leher Robert, Anne menyadari jika suaminya tersebut diserang demam. “Kau benar-benar Anne,” ujar Robert sambil menggelengkan kepalanya pelan. Pasalnya Anne menghabiskan sisa makanan siang Robert yang ia tolak karena sudah tidak berselera. “Daripada terbuang percuma!” sahut Anne garang. “Aku sudah capek-capek membuatkannya untukmu dan kau hanya makan beberapa suap!” Anne kembali menyuapkan makan siang Robert ke dalam mulut dan menatap robert dengan mata yang dibulatkan, seolah menakuti Robert. Robert terkekeh geli melihat istrinya yang tengah berusaha menunjukkan wajah marah padanya. Ketahuilah jika Anne memiliki wajah yang terkesan lembut dan akan sangat tidak cocok jika ia memaksakan diri untuk terlihat marah. “Hentikan wajah marahmu itu. Kau membuat perutku sakit, Anne.” Robert memegangi perutnya yang terasa sakit karena kekehan yang berubah menjadi tawa karena wajah Anne yang memerah menahan malu karena Robert mentertawakannya. “Kau menyebalkan!” Anne mengalihkan pandangannya. Ia kembali menghabiskan makan siang Robert dengan mulut yang sudah maju beberapa senti. Robert menghentikan tawanya dan memilih mendiamkan Anne yang ia yakin sebentar lagi akan kembali padanya karena merasa diabaikan. Membenarkan posisi duduknya, Robert mulai melakukan sedikit peregangan. Sedari pagi tadi Anne terus mengurungnya di kamar dan melarangnya beranjang dari kasur kecuali jika ingin ke kamar mandi. “Kau mengabaikanku!” gerutu Anne sambil menatap sebal ke arah Robert yang kembali terkekeh. Anne meletakkan piring kosong di atas nakas yag berada di samping Robert. Kemudian duduk di samping robert untuk mengecek suhu tubuh suaminya. “Suhu tubuhmu sudah menurun.” Robert menarik tangan Anne yang akan menjauh darinya. Meletakkannya di pipi kirinya dan memejamkan matanya. Semuanya tak banyak berubah, sejak mereka menjalin hubungan sepasang kekasih hingga kini diusia mereka yang sudah tidak muda lagi. Anne selalu mampu menghibur Robert dengan tingkahnya. “Jangan terlalu memikirkan anak-anak,” ujar Anne dengan suara lembutnya. “Aku tahu kau begitu mengkhawatirkan mereka semua. Aku juga sama.” “Mereka sudah dewasa ...” “Dan selalu membuat masalah yang membuatku harus turun tangan.” Kini giliran Anne yang terkekeh geli. “Kau yang mengajarkan mereka terlalu keras hingga mereka menjadi keras kepala dan fokus pada karir mereka.” Anne mengusap kepala Robert yang kini bersandar pada bahunya. “Aku hanya tidak ingin mereka terlambat sepertiku,” ujar Robert yang membuat Anne termenung. Usia Robert dan Anne memang terpaut cukup jauh, yakni tujuh tahun. Dan di awal mereka menjalin hubungan, Robert masih sibuk dengan pekerjaanya dan jarang meluangkan waktu untuk sekedar jalan berdua. Hingga Robert jatuh sakit dan tidak ada merawatnya yang kala itu jauh dari kedua orang tuanya. Perusahaannya juga sempat mengalami penurunan pendapatan, sehingga membuat Robert stress. Dari sana ia sadar, jika ia butuh seseorang yang ada di sampingnya. “Mereka butuh seseorang untuk mendapingi diri mereka sendiri. Tidak selamanya kita akan selalu ada untuk mereka. Bahkan sekarang meraka sudah memilih jalan mereka sendiri.” “Apa kita harus meninggalkan mereka sementara waktu agar mereka menyadari itu?” tanya Robert yang langsung mendapat pukulan dari Anne. “Masih ada cara lain!” ujar Anne kesal. “Kau tidak tahu saja bagaimana mukamu saat kau jatuh sakit dan sendiri. begitu menyedihkan!” Robert terkekeh geli dan mempererat pelukannya pada Anne. “Kau memang ibu yang luar biasa, Anne.” Rasa kesal Anne langsung menghilang saat mendengar pujian dari suaminya. Anne sangat tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya jika mendapat pujian. “Kau juga ayah yang luar biasa, Robert.” Anne membalas pelukan Robert. “Ekhem!” Anne dan Robert langsung melepaskan pelukan mereka saat mendengar suara deheman dari pintu kamar mereka. Nampak Jessica yang tengah tersenyum dengan wajah bersemu. “Aku mau minta uang.” Robert menatap datar putri bungsunya tersebut. Apakah anaknya itu tidak bisa berbasa basi atau memilih pergi dan mengurungkan niatnya saat melihat kedua orang tuanya bermesraan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD