Jessica berjalan tergopoh-gopoh begitu namanya dipanggil bersamaan dengan dirinya yang baru saja keluar dari dalam mobil. Setelah mengganggu momen romantis kedua orang tuanya hanya karena meminta uang untuk membeli bensin mobilnya yang sudah menipis yang mengakibatkan dirinya harus berdiam diri selama sepuluh menit dengan mendengarkan nasehat ayahnya, berlanjut dengan mengisi bensin dan harus mengantri panjang, dan juga harus terjebak pada padatnya jalanan.
Jessica menundukkan tubuhnya, mengatur napasnya yang masih terengah-engah. Keringat sudah membanjiri tubuhnya dan sudah tidak ada waktu lagi untuk dirinya sekedar menyekat keringat di dahinya. Menarik napas dalam Jessica mendorong pintu dan melangkah anggun, namun sayang ia justru tersandung kabel.
“Kau tidak apa-apa?” tanya salah satu juri. Jessica menganggukkan kepalanya dan segera berdiri.
“Perkenalkan dirimu,” ucap juri lainnya sambil membuka berkas data diri Jessica yang ia isi sebelumya.
Mengatur napasnya Jessica mulai memperkenalkan dirinya. “Nama saya Jessica Harington ...”
“Keluarga Harington?” tanya salah satu juri yang cukup terkejut. Nama Hangriton terkenal dimana-mana, keluarga ayahnya yang menguasai perusahaan tambang dan tekstil, serta kakak perempuannya Clarita yang juga model majalan dan artis terkenal. ENtah kenapa mendengarnya malah membuat Jessica minder karena selam ini dia tidak bisa seperti kakaknya yang terkenal,
Jessica menganggukkan kepalanya. “Namun saya harap juri sekalian tidak mempertimbangkan saya hanya karena kelurga saya.” Begitulah Jessica, ia tidak akan merasa senang jika orang-orang menilai dirinya karena berasal dari keluarga Harington. Ia ingin menunjukkan jika dirinya bisa berhasil dengan usahanya sendiri.
“Usia saya dua puluh empat tahun ...” ujar Jessica melanjutkan sesi memperkenalkan dirinya. Ia mengucapkan beberapa hal yang dirasa perlu ia sampaikan.
“Baiklah, kau sudah membaca potongan ceritanya, kan?” tanya salah satu juri yang membuat Jessica menegang. Keringat dingin mulai membanjirinya. Menekuk ujung jarinya, Jessica mencoba untuk tidak gugup.
“I-iya,” jawab Jessica dengan suara yang mulai tersendat.
“Silahkan.”
Jessica menarik napasnya dalam dan mulai memposisikan dirinya sesuai naskah yang ia baca. Namun hal yang lebih sial menimpanya. Ia lupa beberapa percakapan yang berada di dalam naskah. Jessica menelan ludahnya dan melirik ketiga juri di hadapannya. Ia mengepalkan tangannya dan meyakinkan dirinya jika ia bisa melakukannya dengan baik.
**
“Saya sudah membayar sebagian uangnya sesuai dengan perjanjian. Sisanya kau yang membayar,” ujar Michael dengan santai.
Kini Michael berada di sebuah bengkel langganannya. Ia menatap mobilnya yang sedang diperbaiki dibagian lecet dan penyok. Di sampingnya ada Marshanda yang sudah berkeringat dingin. Menepuk pelan saku rok yang dikenakannya, Marshanda terus berdoa jika biasa perbaikan mobil pria di sampingnya ini tidak membuatnya miskin seketika.
Michael mengeluarkan ponselnya yang berdering. Ia mengangkat telepon dari sekertarisnya. Mendengarkan dengan seksama ucapan sekertaris tersebut. “Baiklah, jemput saya di bengkel biasa.”
Michael mematikan telponnya dan beranjak berdiri. “Saya ada urusan. Jangan lupa untuk melunasinya.”
Michael melangkah pergi dari Marshanda yang sudah harap-harap cemas di tempatnya berdiri. Ia bahkan melirik pemilik bengkel yang sudah menatap tajam ke arahnya seolah berkata ‘Jangan kabur, atau kau dalam bahaya’.
“Eh ya, aku lupa sesuatu.” Michael memundurkan langkahnya hingga berhadapan dengan Marshanda. “Jangan sampai kau mengorbankan motormu.”
Marshanda mendengus kesal saat mendengar ucapan Michael yang membuatnya jengkel sekaligus ketakutan. Ia mulai berspekulasi jika biayanya akan cukup membuatnya lemas seketika.
Saat Michael hendak melangkah kembali, Marshanda menahan lengan pria itu dan mulai menatapnya dengan wajah memelas. “Pak, bisa temani saya menanyakan biayanya?”
Michael mengangkat salah satu halisnya. Melirik jam tangannya, akhirnya Michael menganggukkan kepalanya. Ia tidak tega melihat wajah pucat dan ketakutan Marshanda. Mereka berjalan ke arah kasir.
“Saya ingin bertanya berapa biaya memperbaiki mobil itu,” ujar Marshanda sambil menunjuk ke arah mobil Michael yang sedang diperbaiki.
“Kami belum bisa memastikan biayanya, akan tetapi Anda bisa membayar biaya mukanya sebesar satu juta rupiah. Dan tuan Michael sudah membayar biaya muka sebesar tiga ratus lima ribu rupiah, jadi sisanya sebesar enam ratus sembilan puluh lima ribu rupiah,” jawab kasir yang membuat Marshanda mematung.
Marhanda melirik Michael yang benar-benar meneati janjinya dengan membayar sebesar harga pesanannya di rumah makan miliknya. Michael mengangkat halisnya melihat Marshanada menatapnya. “Aku tidak akan bermurah hati.”
Marshanda menghela napasnya pelan. Ia mengeluarkan uang dari dalam sakunya. Menghitungnya sesuai dengan yang diucapkan kasir. “Kapan kira-kira mobilnya selesai diperbaiki?”
“Sekitar satu minggu, tapi kami akan memberitahu Anda jika semuanya sudah selesai. Silahkan isi biodata ini.” Kasir menyerahkan selembar kertas dan sebuah balpoin pada Marshanda.
“Sudah, kan?” tanya Michael begitu Marshanda mengisi data dirinya. “Sekretarisku sudah menunggu di luar.” Mashanda menganggukkan kepalanya dengan pasrah. Pasrah jika sepulang dari sini ibunya akan memarahinya habis-habisan.
**
Jessica keluar dari dalam ruang audisi dengan tubuh yang lesu dan mimik wajah yang tidak enak dipandang. Lagi, ia gagal dalam casting. Bahkan tadi ia sempat disemprot salah satu juri yang merupakan penulis naskah dari film yang diincarnya karena mengubah beberapa dialog dengan seenaknya, serta gestur dan mimik yang membuat dua juri yang lain menggelengkan kepala.
Jessica melangkah ke dalam mobilnya. Ia meraih sebotol air mineral dan sebuah tas yang berisi pakaian yakin hendak ia kenakan untuk audisi. Jessica membuka tutup botol mineral miliknya dan langsung menenggaknya hingga tandas. Tenggorokannya terasa sangat kering sedari namanya dipanggil untuk audisi.
Jessica melangkahkan kakinya menuju toilet umum untuk membersihkan badannya dari rasa lengket akibat keringat yang sudah membanjirinya. Tidak peduli pandangan orang-orang yang nanti menatapnya aneh karena mandi di toilet umum, yang penting tubuhnya segar.
“Semangat Jessica! Masih ada banyak casting yang bisa kamu coba!” ujar Jessica menyemangati dirinya sendiri.
Jessica melempar botol mineralnya ke dalam tempat sampah dengan penuh penekanan dan menarik perhatian beberapa orang. Tapi Jessica tidak peduli dan memilih melenggang masuk ke dalam toilet umum dan menuntaskan niatnya untuk mandi. Ia bahkan menyetal musik dan ikut bernyanyi hingga orang-orang yang melintas di depan toilet menggelengkan kepala mereka. Seandainya mereka tahu jika yang melakukan hal demikian adalah anak bungsu dari keluarga Harington maka berita besar dan memalukan itu akan mengalahkan berita kakaknya yang masih menjadi hot issue.
“Mengapa harus selalu aku yang mengalah ...” Jessica menyanyikan salah satu lagu favoritnya akhir-akhir ini.
Saat akan melanjutkan lirik selanjutnya suara ketukan pintu kamar mandi menghentikan niatnya. “Woy! Cepetan!” teriak seseorang di balik pintu.
Jessica buru-buru membereskan peralatannya saat suara gedoran yang semakin menjadi. Ia memakai masker untuk menutupi wajahnya. Bahaya jika orang-orang tahu jika dirinya adalah Jessica Harington. Saat pintu kamar mandi terbuka, Jessica menemukan antri panjang dan sorakan orang-orang begitu melihat rambut basah milik Jessica.
“Kalo mau mandi di rumah aja!”
“Di rumahnya ga ada toilet, ya?!”
“Woy buruan! Gue udah kebelet!”
Itu hanyalah tiga dari beberapa sorakan kesal orang-orang saat Jessica melewati mereka. Beruntung masker yang dipakainya bisa melindungi identitasnya.